Stroller Disita Saat Lari 5K di Surabaya, Peserta Pertanyakan Perlakuan Panitia

Stroller Disita Saat Lari 5K di Surabaya, Peserta Pertanyakan Perlakuan Panitia

SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Seorang wanita di Surabaya mengaku harus mengikuti lomba lari 5K sambil menggendong anak setelah stroller bayi yang dibawanya disita oleh panitia di area start. Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena stroller itu semula dibawa untuk membantu peserta merawat dan membawa anak selama kegiatan berlangsung.

Keluhan mengenai kejadian tersebut disampaikan melalui media sosial. Dalam unggahannya, peserta itu menyoroti perlakuan panitia yang membuatnya tidak dapat menggunakan perlengkapan yang telah dibawa. Akibat penyitaan tersebut, ia tetap mengikuti perlombaan dengan menggendong anak, meskipun kondisi itu berbeda dari persiapan awalnya sebagai peserta.

Unggahan tersebut kemudian memunculkan sorotan dari pengguna media sosial. Sejumlah pihak mempertanyakan alasan stroller tidak diperbolehkan berada di area perlombaan serta bagaimana panitia mempertimbangkan kebutuhan peserta yang membawa anak. Perhatian publik terutama tertuju pada perubahan situasi yang dialami peserta, dari semula membawa perlengkapan pendukung menjadi harus menggendong anak sepanjang keikutsertaannya dalam lari 5K.

Kasus ini juga memicu pertanyaan mengenai kejelasan aturan bagi peserta yang membawa perlengkapan atau mendampingi anak. Peserta merasa keputusan penyitaan stroller berdampak langsung terhadap kemampuannya mengikuti kegiatan dengan lebih aman dan nyaman. Keluhan itu tidak hanya berkaitan dengan barang yang diambil, tetapi juga dengan konsekuensi yang harus ditanggung setelah stroller tidak lagi berada dalam penguasaannya.

Peristiwa tersebut menjadi bahan pembicaraan karena memperlihatkan pentingnya komunikasi yang jelas panitia dan peserta sebelum kegiatan dimulai. Aturan mengenai stroller, pendampingan anak, serta penggunaan perlengkapan selama lomba perlu disampaikan secara terbuka agar peserta dapat menyiapkan diri sesuai ketentuan. Dalam kasus ini, peserta menilai perlakuan yang diterimanya membuat ia berada dalam situasi yang tidak diharapkan saat mengikuti lomba.

Peserta tersebut menyampaikan bahwa persoalan bermula ketika ia mengambil nomor bib sebelum perlombaan berlangsung. Pada kesempatan itu, ia mengaku telah menanyakan kemungkinan membawa stroller ke area lomba dan memperoleh izin dari panitia. Berdasarkan pemahamannya, persetujuan tersebut berarti stroller dapat digunakan selama mengikuti race, termasuk sejak garis start hingga mencapai garis finish. Karena merasa telah mendapatkan kepastian, peserta kemudian datang ke lokasi lomba dengan membawa stroller dan tidak memperkirakan akan menghadapi larangan tambahan.

Namun, situasi disebut berubah ketika peserta berada di area start. Ia mengklaim panitia menyampaikan bahwa stroller tidak diperbolehkan digunakan dalam race. Stroller tersebut kemudian disebut disita, sehingga peserta tidak dapat membawanya untuk mengikuti rangkaian perlombaan sebagaimana yang sebelumnya ia pahami. Perbedaan informasi saat pengambilan nomor bib dan ketentuan di area start inilah yang menjadi sumber keberatan. Peserta menilai seharusnya aturan mengenai penggunaan stroller dijelaskan secara konsisten sejak awal agar tidak menimbulkan salah pengertian.

Dalam unggahan akun @nikmah***, peserta mempertanyakan alasan dirinya tidak diperkenankan membawa stroller sejak start hingga finish, padahal ia merasa telah lebih dahulu memperoleh persetujuan panitia. Inti unggahan itu adalah permintaan penjelasan mengenai dasar pelarangan tersebut serta mengapa izin yang diklaim diberikan saat pengambilan bib tidak berlaku ketika perlombaan dimulai. Pernyataan tersebut merupakan klaim dari peserta dan belum dapat dipandang sebagai kesimpulan mengenai keseluruhan kejadian. Dengan demikian, persoalan ini berpusat pada dugaan ketidaksesuaian komunikasi aturan panitia dan peserta, khususnya terkait stroller dalam race 5K di Surabaya.

Perasaan diperlakukan tidak adil muncul setelah peserta membandingkan pengalaman mereka dengan keberadaan running ambassador dalam event tersebut. Peserta menyebut bahwa sosok yang menjadi representasi acara itu tetap diperbolehkan membawa stroller bayi saat mengikuti lari 5K. Sementara itu, peserta lain mengaku diminta tidak menggunakan stroller dan harus menggendong anaknya selama berlari. Perbandingan inilah yang kemudian memicu pertanyaan mengenai konsistensi penerapan aturan di lapangan.

Bagi peserta, persoalannya bukan semata-mata mengenai boleh atau tidaknya membawa stroller, melainkan perbedaan situasi yang mereka rasakan selama perlombaan. Peserta yang harus menggendong anak tentu menghadapi kondisi fisik yang berbeda dibandingkan seseorang yang dapat menggunakan stroller untuk membawa bayi. Mereka menilai, apabila aturan tersebut memang berlaku bagi seluruh peserta, seharusnya penerapannya dijelaskan dan dijalankan secara seragam. Sebaliknya, jika terdapat pengecualian tertentu, alasan dan kriterianya juga perlu disampaikan secara terbuka.

Namun, perbandingan tersebut perlu dipahami sebagai persepsi peserta mengenai adanya perlakuan yang berbeda, bukan sebagai kesimpulan bahwa panitia secara sengaja memberikan keistimewaan atau telah melanggar ketentuan tertentu. Informasi mengenai status running ambassador, izin yang diberikan, serta pertimbangan keselamatan dalam situasi tersebut masih menjadi bagian yang dipertanyakan oleh peserta. Karena itu, peserta berharap persoalan ini tidak berhenti pada perdebatan di media sosial, melainkan memperoleh klarifikasi resmi dari penyelenggara.

Peserta meminta panitia menjelaskan bagaimana aturan mengenai stroller ditetapkan dan diterapkan dalam event lari tersebut. Penjelasan itu diharapkan mencakup alasan peserta tertentu tidak diperbolehkan membawa stroller, kemungkinan adanya pengecualian, serta dasar pertimbangan keselamatan yang digunakan. Dengan keterangan yang jelas, peserta dapat memahami apakah perbedaan yang mereka lihat memang memiliki alasan khusus atau menunjukkan penerapan aturan yang belum konsisten.

Unggahan mengenai stroller yang disebut disita saat mengikuti lari 5K di Surabaya memicu beragam tanggapan dari warganet. Sebagian pengguna media sosial mengaku ikut kesal setelah melihat cerita tersebut. Mereka menilai perlakuan yang diterima peserta tidak adil, terutama karena anak yang dibawa dalam stroller disebut masih membutuhkan pendampingan selama acara berlangsung.

Sejumlah komentar juga meminta pihak-pihak terkait bertanggung jawab dan memberikan penjelasan secara terbuka. Ada warganet yang berpendapat bahwa permintaan maaf saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Menurut mereka, kejadian seperti ini perlu dievaluasi agar peserta memperoleh informasi dan perlakuan yang jelas, khususnya dalam kegiatan olahraga yang melibatkan banyak orang serta memiliki aturan keselamatan tertentu.

Namun, tidak semua warganet menyalahkan penyelenggara. Sebagian lainnya justru menyesalkan keputusan peserta membawa anak menggunakan stroller ke acara lari tersebut. Mereka mengingatkan bahwa sejak awal telah terdapat larangan membawa stroller atau kereta bayi selama kegiatan berlangsung. Larangan itu dinilai semestinya menjadi pertimbangan peserta sebelum memutuskan ikut dengan membawa anak. Salah satu komentar bahkan menyarankan agar peserta menggunakan layanan daycare apabila tidak memiliki pendamping yang dapat menjaga anak selama acara.

Perbedaan pandangan tersebut membuat pembahasan di media sosial berkembang menjadi perdebatan mengenai kepatuhan peserta terhadap ketentuan acara dan cara panitia menerapkan aturan. Sebagian warganet menekankan pentingnya membaca seluruh informasi sebelum mengikuti kegiatan, sedangkan lainnya meminta agar aturan disampaikan dan diterapkan dengan cara yang tetap menghormati peserta.

Upaya menghubungi pemilik akun yang mengunggah cerita tersebut telah dilakukan untuk memperoleh konfirmasi serta penjelasan lebih lanjut mengenai kronologi kejadian. Namun, hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan belum memberikan respons. Keterangan mengenai peristiwa tersebut karena itu masih bersumber dari unggahan dan tanggapan warganet yang beredar.