Iwan Setiawan Pimpin Kostrad, Rekam Jejaknya Membentang dari Akmil hingga Everest

Iwan Setiawan Pimpin Kostrad, Rekam Jejaknya Membentang dari Akmil hingga Everest

Depok | Pada awal Oktober 2026, Letjen TNI Iwan Setiawan menerima amanat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Ia menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar dalam jabatan pimpinan Kostrad. Sebelum menerima penugasan tersebut, Iwan menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif). Pergantian ini menandai perubahan pada posisi Pangkostrad, dengan Iwan kini mengemban amanat yang sebelumnya dipegang Fadjar.

Informasi utama mengenai perubahan pimpinan tersebut mencakup nama pejabat yang menerima amanat, jabatan yang diemban, serta pejabat yang digantikan. Iwan Setiawan disebut sebagai Pangkostrad baru, sedangkan Mohammad Fadjar merupakan pejabat sebelumnya. Riwayat jabatan langsung sebelum penugasan baru juga tercatat jelas: Iwan bertugas sebagai Danpussenif. Dengan demikian, rangkaian informasi yang tersedia menempatkan perpindahan ini dalam konteks perubahan jabatan di lingkungan TNI Angkatan Darat, tanpa perlu menarik kesimpulan mengenai faktor di baliknya.

Penjelasan mengenai pergantian pimpinan Kostrad perlu tetap berpegang pada keterangan tersebut. Tidak ada rincian tambahan di sini mengenai alasan perubahan, waktu persis pelaksanaan selain keterangan awal Oktober 2026, maupun prosesi penyerahan amanat. Karena itu, pokok berita dapat disampaikan secara ringkas dan terukur: Iwan menerima amanat sebagai Pangkostrad, menggantikan Fadjar, setelah sebelumnya menjabat Danpussenif. Penyebutan jabatan-jabatan itu membantu pembaca memahami siapa yang kini memimpin Kostrad dan posisi yang diemban Iwan sebelum penugasan tersebut, tanpa menambahkan informasi yang belum disebutkan.

Fokus pada fakta inti juga menjaga pemberitaan tetap jelas. Perubahan pimpinan dapat diberitakan melalui nama, jabatan, dan urutan penugasan yang telah dinyatakan, sedangkan hal-hal di luar keterangan itu tidak perlu diasumsikan. Dalam konteks ini, inti kabarnya adalah amanat Pangkostrad yang diterima Letjen TNI Iwan Setiawan pada awal Oktober 2026. Ia menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar, dan sebelum penunjukan itu bertugas sebagai Danpussenif. Rangkaian tersebut menjadi dasar untuk memahami pergantian pimpinan di Kostrad.

Sebelum nama Iwan Setiawan dikenal bersama jabatan dan pangkat jenderal, ingatan saya tentang dirinya bermula pada masa yang jauh lebih sederhana: ketika ia masih seorang letnan, belum ada bintang di pundaknya. Pada waktu itu, ia dan beberapa teman seangkatannya dari Akademi Militer 1992 sesekali datang berkunjung ke tempat saya di Cinere, Depok. Pertemuan-pertemuan itu menjadi bagian dari kenangan saya tentang mereka, saat kehidupan militer masih berada di awal perjalanan dan banyak hal terbentang di hadapan.

Mereka adalah prajurit muda yang baru melewati pendidikan komando. Ada tenaga dan semangat yang terasa dalam perjumpaan, juga tawa yang menyertai kebersamaan. Saya mengingat mereka datang sebagai kawan-kawan muda, bukan sebagai sosok yang kelak akan dikenali melalui jabatan tinggi atau perjalanan karier panjang. Saat itu, yang tampak bagi saya adalah sekelompok perwira muda yang masih berada pada tahap awal pengabdian, dengan pengalaman yang terus bertambah dan masa depan yang belum diketahui.

Dalam kunjungan-kunjungan itu, mimpi dan semangat mengabdi hadir sebagai bagian dari suasana masa muda mereka. Saya mengenang tawa, percakapan, dan energi yang mereka bawa, tanpa perlu menambahkan kisah yang tidak saya saksikan. Iwan berada di teman-teman seangkatannya, menjalani masa sebagai letnan ketika tanda-tanda pangkat di pundaknya masih jauh dari gambaran seorang jenderal. Jarak kenangan di Cinere dan kedudukannya kemudian tentu besar, tetapi ingatan lama itu tetap bertahan dalam bentuknya sendiri: sebuah potret tentang awal perjalanan. Bagi saya, mengenang Iwan pada masa itu berarti mengingat seorang prajurit muda dan kawan-kawannya, yang datang sesekali dengan tawa, tenaga, mimpi, serta semangat untuk mengabdi. Kenangan tersebut tidak perlu dibebani tafsir tentang apa yang akan terjadi kemudian. Ia cukup menjadi kilas balik personal pada masa ketika masa depan masih terbuka dan mereka baru memulai perjalanan sebagai perwira muda.

Dalam kisah perjalanan Iwan Setiawan, lingkar pertemanannya sejak Akademi Militer menjadi bagian yang memberi gambaran lebih dekat tentang masa awal kariernya. Iwan merupakan lulusan Akmil 1992. Di rekan seangkatannya yang disebut dalam sumber ialah Maruli Simanjuntak, Richard Tampubolon, Windyatno, dan Drajad Brima Yoga. Mereka menempuh pendidikan pada angkatan yang sama, sehingga memiliki pengalaman pembentukan militer yang beririsan sejak masa akademi.

Hubungan pertemanan itu tidak hanya tercatat dalam konteks pendidikan dan kedinasan. Sesekali, beberapa di mereka datang bersama ke Cinere. Kunjungan tersebut menghadirkan suasana pertemuan yang lebih santai di luar lingkungan tugas, sekaligus memperlihatkan bahwa ikatan sesama taruna dapat tetap terjaga setelah mereka lulus dan menjalani penugasan masing-masing. Rincian seperti ini memberi konteks personal bagi rekam jejak para perwira, tanpa mengurangi perhatian pada perjalanan profesional mereka.

Perkenalan penulis dengan kelompok tersebut berawal dari hubungan lama dengan Andi Sirajuddin Kube Dauda. Andi adalah sahabat penulis sejak taman kanak-kanak di Tempe, Sengkang, Kabupaten Wajo. Persahabatan yang telah berlangsung sejak masa kanak-kanak itu menjadi penghubung penulis dengan lingkungan para prajurit tersebut. Melalui Andi, penulis kemudian mengenal Iwan dan sejumlah rekan seangkatannya, termasuk mereka yang sesekali datang bersama ke Cinere.

Andi sendiri merupakan prajurit baret merah dan lulusan Akmil 1991. Dengan demikian, ia satu angkatan di atas Iwan, Maruli Simanjuntak, Richard Tampubolon, Windyatno, serta Drajad Brima Yoga. Perbedaan satu tahun dalam masa pendidikan menempatkan Andi sebagai senior mereka di akademi, meskipun hubungan yang memperkenalkan kelompok itu kepada penulis bermula dari persahabatan personal. Rangkaian perkenalan ini memperlihatkan bagaimana jejaring lama, pengalaman akademi, dan kehidupan setelah kelulusan saling bertaut dalam kisah para perwira tersebut. Nama-nama itu juga memberi wajah pada satu angkatan yang kemudian berkembang melalui jalur pengabdian masing-masing, sementara pertemanan mereka tetap menjadi bagian dari ingatan bersama sejak masa pendidikan.Dalam pengalaman mendaki, jarak dan ketinggian perlahan mengubah cara seseorang memandang perjalanan. Langkah yang mula-mula terasa sebagai usaha untuk mencapai puncak akhirnya menjadi latihan untuk mengenali batas diri. Di jalur yang menanjak, tubuh mengingatkan bahwa tenaga tidak tak terbatas; di hadapan bentang alam yang luas, ambisi pribadi terasa lebih kecil daripada semesta. Puncak bukan semata-mata tempat untuk berdiri lebih tinggi, melainkan kesempatan untuk memahami betapa banyak hal yang berada di luar kendali manusia.

Renungan itu memberi bingkai untuk membaca perjalanan Iwan Setiawan, dari masa muda dan pendidikan di Akmil hingga menerima amanat memimpin Kostrad. Perbandingan dengan Everest di sini adalah kiasan tentang panjangnya pendakian dan besarnya tantangan, bukan pernyataan bahwa Iwan pernah mendaki gunung tersebut. Setiap tahap perjalanan memiliki tuntutan dan tanggung jawabnya sendiri. Namun, dari luar, kita hanya dapat melihat garis besar sebuah perjalanan; kita tidak perlu mengisi bagian yang tidak diketahui dengan dugaan mengenai alasan penugasan atau capaian yang tidak disebutkan.

Ada pula pelajaran tentang cara memandang ketinggian. Dalam pendakian, semakin jauh seseorang melangkah, semakin ia menyadari kecilnya manusia di hadapan alam dan semesta. Kesadaran itu tidak menghapus arti pencapaian, tetapi mengajak seseorang menjalaninya dengan rendah hati. Demikian pula, amanat besar dapat dipahami bukan sebagai alasan untuk membesarkan diri, melainkan sebagai tanggung jawab yang perlu dijalankan dengan kesadaran akan batas dan konsekuensinya.

Saya teringat bahwa tidak semua ketinggian perlu diteriakkan. Sebagian cukup dijalani dengan tekun, lalu dipahami melalui jejak yang ditinggalkan.

Baca juga: Meninggalnya Oni Setiawan, Mantan Kabid Pertambangan ESDM Jatim