Kabupaten Kotawaringin Timur | Pemerintah mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Upaya tersebut mendapat dukungan melalui bantuan presiden sebesar Rp15 miliar yang disalurkan untuk mendukung pemadaman dan penanganan dampak kebakaran. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan informasi itu saat meninjau lokasi kebakaran di Sampit pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kondisi di lapangan sekaligus menyampaikan dukungan pemerintah bagi upaya penanganan yang sedang dilakukan. Bantuan ini ditujukan untuk memperkuat langkah pemadaman serta mendukung kebutuhan penanganan karhutla di wilayah tersebut.
Raja Juli Antoni menegaskan bahwa dana bantuan presiden perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Penggunaan anggaran diharapkan diarahkan pada kebutuhan yang mendukung penanganan kebakaran secara efektif, dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Pesan tersebut menekankan pentingnya memastikan dukungan yang telah tersedia dapat digunakan secara tepat guna dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Penanganan karhutla membutuhkan upaya yang terkoordinasi, sehingga pemanfaatan bantuan perlu mendukung kerja pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam merespons situasi. Dengan demikian, dana Rp15 miliar diharapkan memberi kontribusi nyata bagi pelaksanaan pemadaman dan penanganan di Kotawaringin Timur.
Menteri Kehutanan juga menyatakan pemerintah terbuka untuk memberikan dukungan tambahan secara parsial apabila masih diperlukan. Pernyataan itu menunjukkan bahwa bantuan yang disalurkan saat ini bukan satu-satunya kemungkinan dukungan, terutama jika kebutuhan di lapangan belum sepenuhnya terpenuhi. Evaluasi terhadap situasi dan kebutuhan penanganan dapat menjadi dasar untuk menentukan bantuan lanjutan. Pemerintah berupaya menjaga agar respons terhadap karhutla tetap berjalan sesuai perkembangan kondisi, termasuk melalui dukungan tambahan yang diberikan secara bertahap bila diperlukan. Dengan adanya bantuan awal dan kemungkinan dukungan susulan, penanganan kebakaran di Kotawaringin Timur diharapkan dapat terus diperkuat. Pemerintah meminta agar setiap dukungan dimanfaatkan secara optimal untuk membantu pemadaman dan penanganan karhutla di Sampit serta wilayah sekitarnya.
Dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotawaringin Timur, Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa upaya pemadaman perlu mengandalkan beberapa pendekatan secara bersamaan. Salah satu perhatian diarahkan pada pemaksimalan armada udara, agar dukungan dari udara dapat menjadi bagian penting dari respons terhadap kebakaran. Pendekatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipadukan dengan pengerahan pasukan darat. Penyampaian tersebut menggambarkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja lintas unsur, dengan pemanfaatan sarana yang tersedia sesuai kebutuhan di lapangan. Uraian ini berfokus pada metode yang disebutkan, tanpa menyimpulkan tingkat keberhasilan atau kondisi operasi tertentu yang tidak dijelaskan lebih lanjut dalam keterangan tersebut.
Dalam upaya dari udara, Raja Juli Antoni menyebut water bombing dan penggunaan dry ice sebagai bagian dari langkah pemadaman. Ia juga menyampaikan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu pendekatan yang perlu dilakukan. Ketiga metode tersebut disebut dalam konteks memaksimalkan dukungan armada udara untuk menangani karhutla. Penyebutan ini menunjukkan adanya sejumlah pilihan upaya yang dapat dijalankan sebagai bagian dari respons, bukan penjelasan mengenai rincian teknis pelaksanaan masing-masing metode. Keterangan yang tersedia tidak memuat informasi tentang lokasi spesifik, durasi, jumlah armada, ataupun hasil dari setiap operasi. Karena itu, uraian mengenai pendekatan udara dapat disampaikan sebatas metode yang disebutkan, tanpa menambahkan klaim mengenai dampak atau capaian pemadaman.
Selain mengandalkan armada udara, pengerahan pasukan darat juga menjadi bagian dari pendekatan yang disampaikan. Upaya pemadaman karhutla dengan demikian dipaparkan sebagai pekerjaan bersama yang membutuhkan dukungan dari berbagai unsur. Operasi udara melalui water bombing, dry ice, dan modifikasi cuaca disebut berdampingan dengan keterlibatan personel di darat, bukan sebagai langkah yang berjalan terpisah dari keseluruhan penanganan. Penekanan pada kerja bersama ini memberi gambaran bahwa beragam upaya perlu dilakukan secara terpadu dalam merespons kebakaran. Namun, keterangan tersebut tidak merinci susunan pasukan, pembagian tugas, maupun hasil operasi di lapangan. Informasi yang dapat disampaikan adalah bahwa Raja Juli Antoni menekankan pemaksimalan armada udara sekaligus pengerahan pasukan darat sebagai bagian dari upaya pemadaman.
Raja Juli Antoni tiba di lokasi kebakaran hutan dan lahan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, sekitar pukul 19.00 WIB. Setelah tiba, Menteri Kehutanan tersebut memeriksa kondisi lahan yang terdampak sekaligus melihat proses pemadaman yang sedang berlangsung. Peninjauan langsung ini memberi kesempatan untuk mengamati situasi di lapangan, termasuk area yang telah terbakar dan upaya yang dilakukan untuk menangani api. Kehadiran pejabat terkait di lokasi menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap penanganan karhutla di wilayah tersebut. Pemeriksaan dilakukan dengan melihat keadaan lahan dan pelaksanaan pemadaman, sehingga kondisi yang dihadapi petugas dapat diketahui secara langsung. Kunjungan tersebut berfokus pada lokasi terdampak dan proses penanganan yang tengah berjalan.
Kunjungan ke Kotawaringin Timur dilakukan setelah Raja Juli memimpin penanganan karhutla selama tiga hari di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Rangkaian kegiatan itu menempatkan penanganan kebakaran di dua wilayah sebagai perhatian dalam upaya menghadapi karhutla di Kalimantan Tengah. Setelah memimpin penanganan di Tanjung Puting, ia kemudian meninjau lokasi di Sampit. Perpindahan fokus tersebut memungkinkan kondisi kebakaran di Kotawaringin Timur turut diperiksa secara langsung. Dalam kunjungan ini, perhatian diarahkan pada keadaan lahan yang terdampak serta proses pemadaman, sesuai kebutuhan penanganan di lokasi. Tidak ada rincian tambahan mengenai waktu maupun agenda lain dalam rangkaian kunjungan tersebut.
Peninjauan di Sampit menegaskan pentingnya memperoleh gambaran lapangan ketika kebakaran hutan dan lahan sedang ditangani. Kondisi lahan terdampak dan jalannya pemadaman menjadi hal yang diperiksa oleh Menteri Kehutanan. Informasi dari pengamatan langsung dapat membantu memahami situasi yang dihadapi dalam penanganan, tanpa menggantikan kerja petugas yang melaksanakan pemadaman. Kunjungan ini juga menghubungkan perhatian terhadap karhutla di Kotawaringin Timur dengan penanganan yang sebelumnya dipimpin di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Dengan demikian, fokus kegiatan yang disampaikan tetap berada pada pemeriksaan lahan terdampak dan proses pemadaman di Sampit, setelah penanganan selama tiga hari di wilayah Kotawaringin Barat. Peninjauan tersebut berlangsung setelah kedatangan sekitar pukul 19.00 WIB, sebagaimana disebutkan dalam keterangan mengenai kunjungan itu.
Kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur terjadi di area gambut, sehingga penanganannya memiliki tantangan tersendiri. Api tidak selalu terlihat menyala di permukaan; panas dapat bertahan di lapisan tanah dan bahan organik yang mengering. Kondisi ini membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan menghilangkan kobaran yang tampak. Petugas perlu memastikan sumber panas di bawah permukaan telah ditangani, sebab bara yang tersisa dapat menyala kembali ketika kondisi cuaca mendukung. Karena itu, penanganan kebakaran di lahan gambut membutuhkan ketelitian, penggunaan air secara memadai, serta pemeriksaan berulang pada lokasi terdampak.
Raja Juli Antoni mengarahkan petugas agar memastikan api benar-benar padam sebelum menyatakan suatu titik kebakaran selesai ditangani. Arahan tersebut penting untuk mengurangi risiko munculnya kembali api dari lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan. Setelah pemadaman, area tetap perlu dipantau, terutama bagian yang masih menunjukkan panas, asap, atau kondisi tanah yang berpotensi menyimpan bara. Pemantauan lanjutan memungkinkan petugas menemukan gejala kebakaran berulang lebih cepat dan segera melakukan penanganan. Dengan langkah ini, api diharapkan tidak kembali menyebar ke vegetasi atau lahan di sekitarnya dan upaya pemadaman yang telah dilakukan dapat bertahan.
Pengawasan pascapemadaman juga memerlukan koordinasi berbagai unsur di lapangan.
Baca juga: Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun | Tim Penyuluh Mabes TNI Edukasi Tomas, Toga dan Todat Samarinda Seberang tentang Pencegahan Karhutla
10 kunjungan





