Jakarta | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menilai kolaborasi berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat, penting untuk memperkuat kemandirian perempuan dan mendorong lahirnya pemimpin perempuan. Ia menyampaikan hal tersebut saat membuka Musyawarah Kerja Nasional Wanita Syarikat Islam (Mukernas WSI) 2026 di Jakarta, Jumat. Menurutnya, upaya pemberdayaan perempuan membutuhkan keterlibatan banyak unsur agar dapat menjangkau kebutuhan dan tantangan yang beragam. Kemitraan pemerintah dan organisasi masyarakat dinilai dapat melengkapi peran masing-masing dalam menciptakan ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berkembang. Dalam konteks itu, WSI diharapkan menjadi mitra strategis yang turut menggerakkan agenda pemberdayaan secara berkelanjutan.
Arifah menekankan bahwa organisasi masyarakat memiliki kedekatan dengan komunitas, sehingga berpotensi memperluas akses perempuan terhadap informasi dan pendampingan. WSI dapat berkontribusi melalui edukasi yang membantu perempuan memahami hak, peluang, serta langkah untuk mengembangkan kapasitas diri. Edukasi yang menjangkau lingkungan masyarakat juga dapat memperkuat kesadaran bersama mengenai pentingnya perlindungan perempuan. Peran tersebut mencakup pencegahan kekerasan, lain dengan mendorong pemahaman tentang bentuk-bentuk kekerasan dan pentingnya lingkungan yang aman. Melalui kerja sama lintas pihak, pesan perlindungan dan pemberdayaan diharapkan tersampaikan lebih luas, sekaligus mendorong dukungan bagi perempuan yang membutuhkan bantuan.
Selain edukasi dan pencegahan kekerasan, WSI diharapkan ikut memperkuat kemandirian ekonomi perempuan. Upaya ini dapat membuka jalan agar perempuan semakin mampu mengembangkan potensi dan berperan dalam kehidupan ekonomi keluarga maupun masyarakat. Arifah juga mendorong agar ruang kepemimpinan perempuan terus diperluas di berbagai bidang. Kehadiran perempuan dalam posisi pengambilan keputusan penting untuk memastikan pengalaman dan kebutuhan mereka ikut dipertimbangkan. Dengan demikian, kontribusi WSI tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas individu, tetapi juga dengan terciptanya kesempatan yang lebih setara. Mukernas menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi dan merumuskan langkah yang sejalan dengan tujuan tersebut. Pemerintah, organisasi, dan masyarakat dapat bersama-sama mendukung perempuan agar berdaya, terlindungi, mandiri, serta memiliki kesempatan memimpin.Arifah menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi perempuan dan anak. Kekerasan terhadap perempuan tetap menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama, demikian pula perkawinan usia anak. Persoalan tersebut berkaitan dengan perlindungan, kesempatan, dan kondisi yang memungkinkan perempuan serta anak menjalani kehidupan dengan lebih aman. Di sisi lain, akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi masih terbatas. Keterbatasan ini dapat menghambat kemandirian perempuan dan membatasi ruang mereka untuk berperan dalam berbagai bidang.
Tantangan lainnya adalah keterwakilan perempuan dalam pembangunan yang belum optimal. Menurut Arifah, keadaan ini menunjukkan bahwa perempuan belum sepenuhnya terlibat dalam proses pembangunan. Berbagai persoalan tersebut tidak berdiri sendiri dan tidak dapat ditangani hanya dengan satu pendekatan. Karena itu, upaya memperkuat kemandirian perempuan perlu memperhatikan beragam hambatan yang ada, mulai dari kekerasan dan perkawinan usia anak hingga akses ekonomi serta partisipasi dalam pembangunan. Perhatian terhadap persoalan-persoalan ini menjadi penting agar langkah yang dilakukan dapat menjangkau kebutuhan perempuan dan anak.
Arifah menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat menghadapi seluruh persoalan tersebut sendirian. Kerja bersama diperlukan dengan melibatkan berbagai unsur yang memiliki peran di tengah masyarakat. Kolaborasi yang ia dorong mencakup pemerintah, organisasi masyarakat, dunia pendidikan, dunia usaha, masyarakat, dan keluarga. Keterlibatan berbagai pihak ini menempatkan penguatan kemandirian perempuan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah. Melalui ruang kolaborasi, perhatian terhadap tantangan perempuan dan anak dapat menjadi bagian dari kepedulian lintas unsur. Namun, keterlibatan tersebut perlu dipahami dalam kerangka kerja bersama untuk menjawab persoalan yang disebutkan, tanpa mengabaikan kebutuhan akan perlindungan, akses, dan keterwakilan yang lebih baik. Pesan Arifah menekankan bahwa tantangan itu membutuhkan perhatian kolektif agar perempuan dapat lebih mandiri dan berperan dalam pembangunan.
Arifah berharap Mukernas WSI 2026 dapat menjadi forum yang tanggap terhadap kebutuhan perempuan di berbagai wilayah. Menurutnya, pembahasan dalam pertemuan tersebut perlu memperhatikan tantangan yang dihadapi perempuan, baik pada tingkat nasional maupun daerah. Kondisi dan kebutuhan setiap wilayah dapat berbeda, sehingga masukan dari berbagai pihak penting untuk membantu merumuskan langkah yang relevan. Dengan demikian, Mukernas diharapkan tidak hanya menjadi ruang bertukar pandangan, tetapi juga mendorong perhatian yang lebih terarah pada upaya memperkuat peran dan kemandirian perempuan.
Ia menyebut sejumlah arah yang perlu mendapat perhatian, yakni memperkuat kapasitas perempuan, memperluas akses terhadap pendidikan, serta membuka peluang ekonomi. Penguatan kapasitas dapat membantu perempuan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengambil peran dalam keluarga, masyarakat, maupun dunia kerja. Akses pendidikan yang lebih luas juga penting agar perempuan memiliki kesempatan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan. Sementara itu, terbukanya peluang ekonomi diharapkan dapat mendukung perempuan dalam memperoleh penghasilan, mengembangkan usaha, dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi sesuai potensi serta kondisi masing-masing.
Arifah juga menyerukan agar Mukernas menjadi momentum untuk membangun sinergi di berbagai pihak. Kerja sama yang berkelanjutan dinilai penting agar upaya mendukung perempuan dapat menjangkau lebih banyak orang dan menjawab kebutuhan yang beragam. Ia berharap sinergi tersebut dapat mendorong terciptanya ruang bagi perempuan untuk berkembang, sekaligus memperkuat perlindungan mereka dari kekerasan. Perempuan juga diharapkan memiliki kesempatan untuk berdaya secara ekonomi dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Harapan tersebut menjadi arah yang dapat dibahas dan diperjuangkan bersama melalui forum, bukan gambaran bahwa seluruh sasaran telah tercapai. Dengan perhatian pada kebutuhan di tingkat nasional maupun daerah, Mukernas WSI 2026 diharapkan menghasilkan dorongan kolaboratif yang mendukung kemajuan perempuan secara inklusif.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Wanita Syarikat Islam (WSI), Valina Subekti, menempatkan pendidikan sebagai salah satu kunci untuk memperkuat sumber daya manusia. Menurutnya, peningkatan kualitas manusia melalui proses pendidikan penting dalam menghadapi beragam persoalan masyarakat, termasuk tantangan perlindungan perempuan dan anak. Upaya perlindungan membutuhkan kepedulian dan keterlibatan banyak pihak, sekaligus pemahaman yang memadai mengenai hak, tanggung jawab, serta langkah pencegahan. Karena itu, pendidikan perlu dipandang sebagai bekal yang membantu individu dan keluarga mengambil keputusan secara lebih bijaksana. Penguatan kapasitas tersebut dapat mendorong perempuan berperan aktif, mengenali persoalan di lingkungannya, dan ikut membangun suasana yang aman bagi anak. Pandangan ini menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak dapat dipisahkan dari ikhtiar menciptakan lingkungan sosial yang mendukung perlindungan dan kesejahteraan bersama.
Valina menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada kecerdasan pengetahuan. Proses belajar juga perlu menumbuhkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak yang baik agar ilmu dapat digunakan secara bertanggung jawab. Perpaduan wawasan dan nilai moral menjadi landasan penting dalam membentuk pribadi yang mampu menghadapi perubahan, menghormati sesama, serta mengambil sikap yang tepat ketika berhadapan dengan persoalan. Nilai-nilai tersebut juga dapat menguatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga perempuan dan anak dari berbagai bentuk kerentanan. Dalam kerangka itu, keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat memiliki ruang untuk saling melengkapi. Pendidikan yang menyeluruh bukan semata-mata menyiapkan generasi agar menguasai pengetahuan, melainkan juga membimbing mereka untuk memiliki karakter, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, penguatan sumber daya manusia mencakup kemampuan berpikir sekaligus pembentukan sikap dan perilaku.
Gagasan mengenai pendidikan dan pembentukan karakter tersebut menjadi bagian dari pembahasan strategis dalam Mukernas WSI. Forum ini membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan penguatan peran perempuan, keluarga, serta upaya menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Baca juga: Kolaborasi Energi: Melihat Kembali IEE Series 2026 dan Rencana ke Depan | Kolaborasi Strategis Bank BJB dan MNC Finance Dalam Pembiayaan Kendaraan | Pengungkapan Kasus Kematian Perempuan: Temuan Baru dari Autopsi






