Makassar | Partai Hanura menyatakan optimistis dapat memperoleh suara lebih dari 4 persen pada Pemilu 2029. Target tersebut menjadi bagian dari upaya partai untuk memperkuat organisasi dan kembali memperoleh keterwakilan di parlemen setelah tidak berhasil melewati ambang batas pada Pemilu 2024. Sekretaris Jenderal Hanura Patrice Rio Capella menilai peluang untuk mencapai perolehan suara yang lebih tinggi tetap terbuka, selama partai mampu membangun kesiapan dan kerja politik secara konsisten. Optimisme itu sekaligus menegaskan bahwa Hanura ingin menempatkan penguatan internal sebagai perhatian utama menjelang kontestasi mendatang.
Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilu, Rio mengatakan Hanura tidak terlalu memusingkan perdebatan mengenai parliamentary threshold atau ambang batas parlemen. Menurutnya, partainya tidak memiliki kewenangan untuk ikut membahas ketentuan tersebut di DPR karena Hanura tidak lolos ke parlemen pada Pemilu 2024. Dengan demikian, sikap Hanura terhadap isu ambang batas tidak dapat diwujudkan melalui keterlibatan langsung dalam proses legislasi di DPR. Partai lebih memilih memusatkan perhatian pada persiapan untuk meraih dukungan pemilih, sembari mengikuti perkembangan pembahasan aturan pemilu.
Rio juga menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi mengenai ambang batas parlemen. Ia menjelaskan bahwa, berdasarkan putusan tersebut, angka ambang batas tidak boleh lebih dari 4 persen dan juga tidak boleh sama dengan 4 persen. Mahkamah, sebagaimana disampaikan Rio, meminta DPR merumuskan ketentuannya sebagai kebijakan hukum terbuka dengan tetap berpedoman pada konstitusi. Karena rumusan ambang batas selanjutnya dibahas oleh pembentuk undang-undang, angka yang akan berlaku masih bergantung pada proses penyusunan RUU Pemilu. Bagi Hanura, kondisi itu tidak mengubah sasaran politiknya: partai berupaya memperoleh suara di atas 4 persen pada 2029. Target tersebut menuntut persiapan yang terukur, penguatan jaringan, serta kerja yang berkelanjutan untuk memperluas dukungan. Perolehan suara di atas angka itu akan menjadi jalan bagi Hanura untuk kembali menembus parlemen, apa pun rumusan akhir ketentuan pemilu yang disepakati.Persiapan Hanura menghadapi Pemilu 2029 diarahkan pada penguatan organisasi sebagai fondasi kerja politik di lapangan. Fokus ini berbeda dari pembahasan RUU Pemilu di DPR: yang menjadi perhatian partai adalah memastikan struktur internal siap menjalankan strategi dan mendukung para calon legislatif. Dengan organisasi yang berfungsi hingga tingkat lokal, partai berharap aktivitas para caleg dapat ditopang jaringan yang terkoordinasi, bukan berlangsung sendiri-sendiri. Penguatan struktur juga dipandang penting untuk membangun komunikasi yang konsisten dengan masyarakat serta menggerakkan kerja partai secara lebih merata.
Patrice menyebut konsolidasi Hanura dilakukan di 38 provinsi, 514 DPC, dan 7.300 kecamatan. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa persiapan tidak hanya bertumpu pada pengurus pusat atau wilayah, tetapi juga menjangkau organisasi di daerah dan kecamatan. Dalam kerangka ini, setiap tingkatan diharapkan memiliki peran nyata dalam mendukung agenda partai dan para calon legislatif. Konsolidasi menjadi sarana menyelaraskan kerja antarstruktur, memperjelas tanggung jawab, serta memastikan jaringan organisasi dapat digunakan untuk menjangkau pemilih di berbagai wilayah. Upaya tersebut ditujukan agar pelaksanaan strategi tidak terputus ketika bergerak dari tingkat pusat ke tingkat akar rumput.
Target internal yang disampaikan adalah agar tidak ada tingkatan organisasi—PAC, DPC, DPD, maupun DPP—yang kontribusinya kurang dari 1 persen. Sasaran itu menempatkan partisipasi seluruh struktur sebagai bagian dari perhitungan pencapaian partai, bukan sekadar keberadaan administratif. Kesiapan jaringan tersebut dirancang untuk menopang kerja caleg dengan asumsi perolehan suara Hanura melampaui ambang batas 4 persen. Karena itu, konsolidasi dan pembagian kontribusi menjadi unsur penting dalam menyiapkan mesin partai menuju pemilu. Dengan struktur yang aktif dan saling mendukung, Hanura berupaya membangun kapasitas organisasi yang dapat bekerja secara terukur di seluruh tingkatan, sekaligus memperkuat peluang partai menembus parlemen pada Pemilu 2029.
Hanura menempatkan Sulawesi Selatan sebagai salah satu wilayah penting dalam persiapan menghadapi Pemilu 2029. Di provinsi ini, partai tersebut menargetkan perolehan satu kursi DPR RI dari tiga daerah pemilihan yang menjadi incaran. Sasaran itu menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Hanura di tingkat nasional sekaligus mendorong peningkatan dukungan pemilih di daerah. Untuk mencapainya, partai perlu menyiapkan kerja politik yang terarah, menjangkau berbagai kelompok masyarakat, dan dijalankan secara konsisten di seluruh wilayah sasaran.
Target tersebut berkaitan dengan konsolidasi tim task force Hanura yang berlangsung di Dalton Hotel Makassar pada Rabu, 21 Oktober. Setelah kegiatan, Patrice menyampaikan bahwa konsolidasi menjadi langkah untuk menyatukan gerak dan memperkuat kesiapan organisasi. Pertemuan itu menjadi ruang koordinasi bagi tim dalam merumuskan langkah serta mengatur pelaksanaan kerja partai di Sulawesi Selatan. Dengan adanya koordinasi yang lebih terstruktur, setiap unsur diharapkan memahami tujuan bersama dan dapat berkontribusi sesuai peran masing-masing.
Konsolidasi juga dimaksudkan untuk memperkuat soliditas partai, yang dinilai penting dalam menghadapi persaingan pemilu. Kesamaan arah pengurus, kader, dan tim pemenangan diharapkan membantu Hanura membangun dukungan secara lebih efektif. Selain mengejar satu kursi DPR RI dari tiga dapil yang dituju, upaya ini terkait dengan sasaran perolehan suara partai secara nasional, yakni melampaui ambang 4 persen. Pencapaian ambang tersebut membutuhkan kerja berkelanjutan, termasuk penguatan organisasi dan komunikasi dengan masyarakat. Karena itu, konsolidasi task force di Makassar menjadi salah satu pijakan untuk menerjemahkan target politik menjadi agenda kerja yang terukur. Perkembangan pelaksanaan agenda dan kemampuan partai menjaga kekompakan akan menjadi bagian penting dalam menilai kesiapan Hanura menuju Pemilu 2029.
Ketua DPD Hanura Sulawesi Selatan, Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, menempatkan keaktifan kader dan pengurus sebagai salah satu tantangan utama yang perlu dibenahi. Menurutnya, kesiapan partai menghadapi Pemilu 2029 tidak cukup hanya ditopang oleh struktur organisasi yang terbentuk secara formal. Pengurus di setiap tingkatan, termasuk ketua DPC kabupaten dan kota, perlu hadir, menjalankan tanggung jawab, serta menjaga komunikasi dengan kader dan masyarakat. Keaktifan tersebut menjadi dasar untuk memperkuat kerja organisasi dan memastikan agenda partai dapat dijalankan secara konsisten di daerah.
Andi menyampaikan bahwa ia telah mengusulkan pergantian ketua DPC yang dinilai malas, tidak fokus, atau tetap tidak menunjukkan perubahan setelah berulang kali diingatkan. Usulan itu, menurutnya, merupakan bagian dari evaluasi agar posisi kepemimpinan diisi oleh orang yang bersedia bekerja dan menggerakkan organisasi. Penilaian terhadap kinerja pengurus, dengan demikian, diarahkan pada tanggung jawab serta keterlibatan nyata, bukan sekadar jabatan. Ia juga menegaskan bahwa masih terdapat kader lain dengan loyalitas tinggi yang dapat berkontribusi bagi partai. Keberadaan kader-kader tersebut dipandang sebagai modal untuk menjaga kesinambungan kerja sekaligus mengisi kebutuhan organisasi apabila dilakukan pembenahan kepengurusan.
Evaluasi internal itu berlangsung di tengah capaian Hanura di Sulawesi Selatan yang disebut Andi terdiri atas satu kursi di DPRD provinsi dan 20 kursi di DPRD kabupaten/kota. Angka tersebut menjadi gambaran posisi partai di tingkat daerah, sekaligus pijakan untuk menyusun langkah penguatan berikutnya. Partai perlu memperluas kerja di seluruh wilayah pemilihan, membangun keterlibatan kader, dan menyiapkan organisasi agar lebih siap bersaing. Target yang disampaikan adalah mengisi seluruh daerah pemilihan, sehingga tidak ada wilayah yang terlewat dalam upaya meraih dukungan. Untuk mencapai sasaran itu, Andi mengajak kader bekerja keras dan menjalankan tugas secara aktif. Ajakan tersebut menekankan pentingnya konsistensi, loyalitas, dan kerja bersama dalam memperkuat Hanura Sulawesi Selatan menuju Pemilu 2029.
Baca juga: Penguatan Pengaturan Kendaraan Odol dalam RUU LLAJ






