JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Awal musim hujan di 529 zona musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia diprakirakan mundur dibandingkan kondisi normal. Jika jadwal tanam mundur atau terjadi gagal panen (puso), panen yang seharusnya menopang pasokan pada Februari-April berpotensi ikut bergeser. Jakarta ( ) – Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai keberhasilan masa tanam Oktober-Desember 2026 menjadi kunci menjaga kesinambungan pasokan pangan pada awal 2027.
Data lain dalam laporan menunjukkan Menurut dia, keterlambatan hujan dapat menggeser jadwal tanam dan panen yang seharusnya menopang pasokan pada Februari-April 2027, bertepatan dengan peningkatan kebutuhan pangan saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Sebenarnya risiko terbesar saat ini bukan cuma produksi yang dipanen, tetapi keberhasilan tanam Oktober-Desember 2026 yang akan menentukan pasokan awal 2027 nanti," kata Eliza kepada di Jakarta, Senin. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Eliza mengatakan panen yang masuk saat ini merupakan hasil penanaman pada bulan-bulan sebelumnya. Karena itu, perkembangan luas tanam hingga akhir tahun akan menentukan kesinambungan produksi pada awal 2027.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Yang dikhawatirkan selama Februari belum panen raya, tetapi permintaan tinggi. Kalau tidak dimitigasi, dampak El Nino bisa mempengaruhi pasokan dan mengerek harga. Ketika harga-harga melambung tinggi, daya beli masyarakat dapat semakin tergerus," ucap Eliza. Tekanan terutama berasal dari cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras seiring penurunan produksi di sejumlah sentra akibat gangguan cuaca serta kenaikan biaya input produksi. Penanganan kekeringan juga dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Pada beras, cadangan pangan, distribusi dari wilayah surplus ke defisit, dan insentif petani perlu dijaga. Ini yang perlu diantisipasi agar harga-harga pangan tidak melonjak ketika Ramadhan 2027," ujar dia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 5 Oktober mencatat indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) periode Juli-Agustus-September sebesar plus 2,70, yang menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. BMKG juga memprakirakan El Nino bertahan hingga awal 2027. Eliza mengingatkan pengalaman El Nino 2023 yang menggeser masa tanam dan waktu panen pada tahun berikutnya. BPS mencatat harga beras pada Maret 2024 meningkat 20,07 persen dibandingkan Maret 2023. Pada periode tersebut, Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) mencapai 10,33 persen secara tahunan, lain dipengaruhi faktor musiman Hari Besar Keagamaan Nasional dan pergeseran musim tanam akibat El Nino. Sementara itu, BI mencatat inflasi volatile food September 2026 sebesar 5,03 persen secara tahunan, meningkat dari 4,06 persen pada Agustus. Kepala Bapanas: Posisi RI kuat saat krisis pangan dunia dan El Nino Pemerintah pastikan jaga harga pangan di tengah fenomena El Nino Dari sisi pemerintah, Kementerian Pertanian pada 2026 menyiapkan 56 ribu unit pompa air untuk membantu lahan pertanian yang memiliki akses terhadap sumber air. Hingga 24 September 2026, penanganan telah dilakukan di 3.288 lokasi, termasuk 358 lokasi persawahan yang mencakup sekitar 141.440 hektare. Langkah tersebut lain berupa pemompaan air, normalisasi saluran irigasi, pengaturan giliran air, dan pemasangan pipa. Pemerintah juga memperkuat stabilisasi pasokan. Badan Pangan Nasional menambah penugasan Perum Bulog untuk menyalurkan 74,18 ribu ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga 20 November 2026. Stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Bulog tercatat 4,48 juta ton per 30 September 2026. Eliza menilai pompanisasi membantu petani mengakses air, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada ketersediaan sumber air serta jarak sumber tersebut dan lahan pertanian. Pompanisasi membantu akses air, tetapi tidak menjamin airnya tersedia. Kalau sungai dan embung menyusut, pompa hanya memindahkan kelangkaan dan menambah biaya," ucapnya. Selain pengelolaan air, ia menyarankan kalender tanam disesuaikan dengan prakiraan cuaca dari BMKG serta benih berumur pendek disiapkan bagi daerah yang terpaksa mengundurkan masa tanam. Ia menambahkan pengaturan waktu tanam secara bertahap antarsentra juga dapat mengurangi kemungkinan sejumlah daerah belum panen secara bersamaan, dengan penerapan yang disesuaikan dengan karakter komoditas. Untuk cabai, pengaturan waktu tanam, informasi cuaca lokal, serta distribusi dari sentra yang masih panen dinilai penting. Adapun pada ayam ras dan telur, dampak El Nino cenderung lebih tidak langsung, lain melalui biaya jagung pakan dan tekanan panas pada peternakan. CORE: Manajemen stok antardaerah penting redam risiko inflasi pangan Pemerintah hitung ulang ketahanan pangan RI petakan dampak El Nino Menko Pangan sebut ketahanan pangan aman di tengah fenomena El Nino Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita .







