Jakarta | Peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik bukan hanya perubahan teknologi, tetapi juga pekerjaan besar dalam menyiapkan pasokan dan infrastruktur kelistrikan. Kebutuhan energi dapat meningkat seiring bertambahnya jumlah kendaraan yang diisi daya, terutama ketika penggunaan kendaraan listrik meluas di berbagai daerah. Karena itu, perencanaan perlu memperhitungkan kapan dan di mana pengisian berlangsung, kemampuan jaringan distribusi, serta kesiapan pembangkit memasok listrik secara andal. Tanpa perhitungan yang matang, pertumbuhan permintaan dapat menambah tekanan pada jaringan, khususnya di lokasi dengan kapasitas terbatas atau pada waktu pengisian yang bersamaan.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kendaraan di Indonesia mencapai 172,94 juta unit hingga akhir 2025. Angka tersebut mencakup sepeda motor, kendaraan roda tiga, kendaraan roda empat, serta kendaraan dengan roda lebih dari empat. Faisol menyampaikan keterangan itu dalam Periklindo Electric Vehicle Conference di Jakarta Pusat pada Rabu (28/10/26). Besarnya populasi tersebut memberikan konteks penting bagi pembahasan elektrifikasi: kendaraan yang berpotensi beralih tidak terbatas pada mobil pribadi, melainkan meliputi beragam jenis dan kebutuhan mobilitas.
Angka populasi itu sekaligus menggambarkan skala pekerjaan yang perlu disiapkan apabila penggunaan kendaraan listrik didorong secara bertahap selama beberapa dekade. Tidak berarti seluruh kendaraan akan berubah menjadi listrik dalam waktu singkat, tetapi perencanaan jangka panjang perlu mengantisipasi pertumbuhan armada dan kebutuhan pengisian daya. Pemerintah, penyedia energi, industri otomotif, dan pengelola infrastruktur perlu menyelaraskan proyeksi adopsi dengan pengembangan jaringan, stasiun pengisian, serta kapasitas pasokan. Tahapan transisi juga dapat membantu kebutuhan listrik tumbuh lebih terukur. Dengan demikian, data jumlah kendaraan berfungsi sebagai salah satu dasar untuk menilai skala transisi, bukan sebagai perkiraan langsung konsumsi listrik. Perhitungan yang diperbarui seiring perkembangan adopsi akan membantu mengidentifikasi kebutuhan investasi dan menjaga keandalan pasokan.
Perkiraan kebutuhan listrik untuk kendaraan listrik tidak dapat dibuat dengan menerapkan satu angka yang sama kepada seluruh kendaraan. Konsumsi energi dipengaruhi oleh jenis kendaraan, jarak yang ditempuh, frekuensi perjalanan, serta pola penggunaan sehari-hari. Sepeda motor yang digunakan untuk perjalanan singkat di perkotaan, misalnya, dapat memiliki kebutuhan berbeda dari kendaraan yang menempuh jarak jauh secara rutin. Perbedaan kapasitas baterai dan efisiensi teknologi juga ikut menentukan jumlah listrik yang diperlukan untuk mengisi daya. Karena itu, proyeksi pasokan listrik perlu bertolak dari asumsi yang jelas dan mencerminkan beragam kondisi penggunaan.
Faisol memberikan ilustrasi sederhana untuk menunjukkan cara menghitung kebutuhan energi. Jika konsumsi satu sepeda motor diasumsikan sebesar 1.500 kilowatt-jam (kWh) per tahun, angka tersebut dapat dikalikan dengan jumlah sepeda motor yang akan menggunakan listrik. Hasilnya memberikan gambaran awal mengenai energi tahunan yang mungkin dibutuhkan kelompok kendaraan tersebut. Namun, perhitungan itu bergantung pada asumsi konsumsi per unit dan jumlah kendaraan yang digunakan dalam skenario. Perubahan jarak tempuh atau efisiensi motor dapat mengubah hasilnya, sehingga angka itu tidak dengan sendirinya menggambarkan kebutuhan aktual.
Untuk kendaraan penumpang, ilustrasi yang disampaikan menggunakan asumsi konsumsi sebesar 2.000 kWh per tahun. Dengan pendekatan serupa, nilai tersebut dapat dikalikan dengan jumlah kendaraan penumpang dalam suatu perkiraan. Apakah asumsi 2.000 kWh sesuai untuk semua mobil? Belum tentu, sebab kebutuhan energi dapat berbeda menurut ukuran dan efisiensi kendaraan, kondisi lalu lintas, jarak perjalanan, serta kebiasaan pengisian daya. Angka 1.500 kWh untuk sepeda motor dan 2.000 kWh untuk kendaraan penumpang sebaiknya dipahami sebagai contoh perhitungan dari narasumber, bukan angka kebutuhan listrik nasional yang telah dipastikan. Proyeksi yang lebih akurat memerlukan data armada, perilaku perjalanan, dan teknologi yang digunakan, lalu diuji melalui beberapa skenario agar perencanaan pasokan listrik tidak bertumpu pada satu asumsi saja.
Pertumbuhan kendaraan listrik perlu diikuti perhitungan kebutuhan energi yang terukur, bukan hanya perkiraan jumlah kendaraan yang akan beredar. Proyeksi konsumsi listrik harus disusun sejalan dengan target adopsi, pola penggunaan kendaraan, dan perkembangan infrastruktur pengisian daya. Dengan demikian, kebutuhan tambahan dapat dipetakan sejak awal dan menjadi dasar bagi keputusan mengenai kapasitas pasokan serta penguatan sistem kelistrikan.
Waktu pengisian daya merupakan salah satu faktor penting dalam perencanaan. Jika banyak pengguna mengisi kendaraan pada jam yang sama, terutama ketika beban listrik rumah tangga dan kegiatan usaha juga tinggi, permintaan dapat terkonsentrasi pada periode tertentu. Sebaliknya, pengisian yang tersebar sepanjang hari dapat menghasilkan pola beban yang berbeda. Karena itu, pemodelan perlu mempertimbangkan kebiasaan pengguna, jenis fasilitas pengisian, serta kemungkinan pengelolaan waktu pengisian.
Lokasi pengguna dan stasiun pengisian juga menentukan kebutuhan sistem. Permintaan yang tumbuh pesat di kota besar, kawasan industri, atau koridor transportasi tertentu dapat memberi tekanan berbeda dibandingkan pertumbuhan yang tersebar merata. Jaringan harus mampu menyalurkan listrik ke titik-titik tersebut, bukan sekadar memiliki energi yang cukup secara agregat. Perencanaan transmisi dan distribusi, termasuk kesiapan gardu dan jaringan lokal, perlu berjalan seiring dengan pembangunan fasilitas pengisian.
Faisol menyebut PLN memproduksi sekitar 494 terawatt-jam listrik per tahun, merujuk pada 2025. Angka itu memberi gambaran skala produksi saat ini, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan kecukupan pasokan di setiap waktu dan wilayah. Penambahan permintaan dari kendaraan listrik, menurut Faisol, dapat menuntut pembangunan banyak pembangkit baru. Pembangkit tersebut dapat menggunakan energi baru maupun mendukung sistem kelistrikan yang sudah berjalan.
Karena kebutuhan aktual bergantung pada laju adopsi, waktu pengisian, persebaran pengguna, dan kemampuan jaringan, angka tambahan pasokan perlu ditetapkan melalui proyeksi yang transparan dan diperbarui secara berkala. Pendekatan terpadu memungkinkan pemerintah, PLN, dan pelaku usaha menyelaraskan investasi pembangkit dengan penguatan jaringan serta pertumbuhan infrastruktur pengisian. Perhitungan tersebut membantu menjaga keandalan layanan tanpa mengasumsikan besaran kekurangan pasokan yang belum ditentukan oleh data yang tersedia.
Pangsa pasar mobil berbasis baterai di Indonesia mulai menunjukkan peningkatan. Perkembangan ini menandai perubahan penting dalam industri otomotif nasional sekaligus membawa implikasi bagi perencanaan energi. Ketika semakin banyak kendaraan listrik hadir di jalan, kebutuhan terhadap pasokan listrik dan infrastruktur pengisian daya juga perlu diperhitungkan secara cermat. Karena itu, pengembangan kendaraan tidak dapat dipisahkan dari kesiapan sistem energi yang menopangnya.
Kebijakan untuk mengembangkan industri otomotif nasional perlu berjalan seiring dengan strategi energi nasional. Penguatan produksi dan penggunaan kendaraan listrik akan lebih berkelanjutan apabila pasokan listrik, jaringan, serta fasilitas pendukung direncanakan secara terpadu. Perencanaan tersebut mencakup pemahaman atas kebutuhan energi yang mungkin muncul, kesiapan sistem kelistrikan untuk melayani beban tambahan, serta koordinasi para pemangku kepentingan. Langkah ini membantu memastikan bahwa arah pengembangan otomotif selaras dengan kemampuan penyediaan energi.
Dalam konteks tersebut, Faisol menekankan pentingnya peran PLN dan Periklindo. Keduanya memiliki posisi yang relevan dalam menghubungkan kesiapan pasokan dan sistem kelistrikan dengan perkembangan ekosistem kendaraan listrik. Keterlibatan PLN diperlukan dalam melihat kebutuhan serta kemampuan jaringan, sementara Periklindo berperan dalam konteks pengembangan industri dan ekosistem kendaraan listrik. Koordinasi di pihak-pihak terkait dapat mendukung penyusunan rencana yang mempertimbangkan perkembangan pasar tanpa mengabaikan kesiapan energi.
Perencanaan pasokan listrik yang matang bukan sekadar tanggapan terhadap tren penggunaan mobil berbasis baterai, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan kebijakan industri dan energi.
Baca juga: Peluncuran Pusat Pengisian Kendaraan Listrik di Sumatera | Peningkatan TKDN Kendaraan Listrik: Strategi DRMA untuk Lokalisasi Komponen | Hadiri Munas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bamsoet Apresiasi Terpilihnya Kembali Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko sebagai Ketua Umum






