Jakarta | Presiden Prabowo Subianto tampak memimpin sejumlah siswa sekolah dasar membaca teks Sumpah Pemuda dalam sebuah video peringatan. Rekaman tersebut memperlihatkan Presiden dan para siswa melafalkan ikrar secara bersama-sama. Momen pembacaan menjadi inti video yang diunggah melalui akun Instagram resmi Presiden pada Rabu malam, 28 Oktober 2026. Durasi rekaman itu sekitar satu menit, sehingga kegiatan ditampilkan secara singkat dan terpusat pada pembacaan teks.
Dalam video tersebut, Prabowo membacakan teks Sumpah Pemuda bersama para siswa yang berada di dekatnya. Para peserta mengikuti pembacaan secara serentak, menyuarakan ikrar yang menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan pemuda Indonesia. Rekaman itu menunjukkan keterlibatan siswa sekolah dasar dalam kegiatan tersebut, dengan Presiden memimpin jalannya pembacaan. Tidak ada keterangan tambahan yang perlu disimpulkan dari cuplikan selain kegiatan yang terlihat dan terdengar dalam video.
Unggahan itu hadir pada tanggal peringatan Sumpah Pemuda, yakni 28 Oktober. Melalui video berdurasi sekitar satu menit tersebut, publik dapat menyaksikan Prabowo dan sejumlah siswa melafalkan teks ikrar bersama. Informasi mengenai peristiwa ini merujuk pada rekaman yang dibagikan lewat akun Instagram resmi Presiden pada malam hari. Cuplikan tersebut berfokus pada prosesi pembacaan, tanpa uraian panjang mengenai rangkaian acara atau konteks lain di luar adegan yang ditampilkan. Dengan demikian, pokok peristiwa yang terlihat adalah Presiden memimpin para siswa sekolah dasar dalam membaca Sumpah Pemuda, sementara tanggal unggahan dan durasi video melengkapi informasi tentang rekaman peringatan tersebut.
Kegiatan pembacaan Sumpah Pemuda berlangsung di sebuah ruang perpustakaan. Latar ini menempatkan momen bersama Prabowo dan para siswa di suasana yang berkaitan dengan kegiatan membaca. Perpustakaan menjadi bagian yang terlihat dalam rekaman peringatan tersebut, sementara perhatian tertuju pada Prabowo dan anak-anak yang mengikuti pembacaan. Detail ruang yang disebutkan dalam sumber adalah fungsinya sebagai perpustakaan; karena itu, gambaran kegiatan dapat disampaikan tanpa menambahkan keterangan lain mengenai tempat atau perlengkapan di sekitarnya.
Dalam video itu, Prabowo mengenakan kemeja putih dan peci hitam. Penampilannya tampak berbeda dari busana para siswa, yang mengenakan seragam batik dengan motif merah pada dasar putih. Perbedaan warna tersebut menghadirkan kontras visual yang jelas dalam satu kegiatan. Motif pada kain para siswa memuat beragam gambar, yaitu buku, harimau, bunga raflesia, penyu, dan daun. Unsur-unsur itu menjadi detail khas seragam yang tampak saat mereka berkumpul untuk membaca.
Prabowo membaca teks dari sebuah map merah. Pada bagian map tercantum tulisan “membaca bersama anak-anak Indonesia”, yang mengaitkan benda tersebut dengan kegiatan membaca bersama. Para siswa juga memegang map serupa. Dengan demikian, map merah menjadi elemen visual yang digunakan oleh Prabowo maupun anak-anak selama kegiatan berlangsung. Tulisan pada map memberikan konteks pada adegan, sedangkan keseragaman benda yang dipegang menegaskan bahwa para siswa ikut terlibat dalam pembacaan, bukan sekadar hadir di dalam ruangan.
Rangkaian detail tersebut membentuk gambaran sederhana mengenai suasana kegiatan di perpustakaan: Prabowo berdiri atau berada bersama para siswa, mengenakan kemeja putih dan peci hitam, sementara anak-anak memakai batik bermotif merah dengan dasar putih. Mereka memegang map merah yang serupa, dan Prabowo membaca dari map bertuliskan “membaca bersama anak-anak Indonesia”. Latar perpustakaan, busana, motif seragam, serta map menjadi unsur visual yang dinyatakan dalam sumber. Keterangan ini menggambarkan suasana kegiatan tanpa menambahkan adegan atau detail yang tidak disebutkan.
Titiek Soeharto turut hadir dalam video peringatan yang menampilkan pembacaan Sumpah Pemuda bersama siswa sekolah dasar. Kehadirannya terlihat di suasana pembacaan teks, sementara para siswa mengambil bagian dengan membacakan isi sumpah secara bergantian. Dalam rekaman tersebut, Titiek mengenakan batik bermotif serupa dengan seragam yang dipakai para siswa. Ia memadukan busana itu dengan selendang merah, sehingga perpaduan motif batik dan warna selendang tampak menjadi bagian dari penampilannya.
Para siswa menggunakan mikrofon untuk menyampaikan bagian-bagian teks. Pembacaan dilakukan secara bergantian, bukan oleh satu siswa saja, sehingga setiap bagian disuarakan oleh siswa yang berbeda. Mikrofon membantu suara pembaca terdengar saat giliran mereka tiba. Alur tersebut memperlihatkan para siswa menyampaikan teks Sumpah Pemuda secara berurutan dalam video peringatan itu.
Penampilan busana Titiek dan seragam bermotif serupa yang dikenakan siswa menjadi detail visual yang tampak dalam rekaman. Selendang merah yang dikenakannya melengkapi busana batik tersebut. Sementara itu, penggunaan mikrofon dan pembagian giliran menjadi bagian dari cara para siswa membacakan teks. Rincian-rincian ini hadir berdampingan dalam satu rangkaian: Titiek turut berada di lokasi pengambilan video, dan siswa menyampaikan bagian teks satu per satu.
Dengan demikian, video tersebut menampilkan kehadiran Titiek Soeharto sekaligus partisipasi siswa sekolah dasar dalam pembacaan Sumpah Pemuda. Titiek tampak mengenakan batik dengan motif serupa seragam siswa, disertai selendang merah. Para siswa membacakan teks secara bergantian dengan bantuan mikrofon. Tidak perlu menambahkan keterangan lain tentang hubungan, peran, atau percakapan di peserta untuk menggambarkan apa yang terlihat dalam rekaman. Fokusnya tetap pada busana yang dikenakan dan cara pembacaan berlangsung: setiap siswa mendapat giliran untuk menyuarakan bagian teks di hadapan mikrofon.
Dalam takarir unggahan video peringatan Hari Sumpah Pemuda, Prabowo menuliskan kembali tiga ikrar yang menjadi inti sumpah tersebut. Ikrar pertama menyatakan, “bertumpah darah satu, tanah Indonesia.” Ungkapan ini menegaskan bahwa seluruh wilayah Indonesia dipandang sebagai tanah air bersama, tanpa membedakan asal daerah maupun latar belakang. Di dalam video, Prabowo membacakan sumpah itu bersama sejumlah siswa sekolah dasar. Penyebutan ikrar pertama menjadi pengingat tentang ikatan kebangsaan yang bersumber dari tanah air yang sama. Pesan tersebut disampaikan melalui pembacaan bersama, sehingga para siswa turut menjadi bagian dari peringatan dan pengenalan nilai-nilai Sumpah Pemuda.
Ikrar kedua yang dicantumkan dalam takarir berbunyi, “berbangsa satu, bangsa Indonesia.” Rumusan ini menekankan persatuan sebagai satu bangsa, meskipun masyarakat Indonesia terdiri atas beragam kelompok dan daerah. Selanjutnya, ikrar ketiga menyatakan, “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Bahasa Indonesia memiliki tempat penting sebagai sarana komunikasi bersama dan sebagai lambang persatuan. Ketiga ikrar tersebut disajikan berurutan dalam takarir unggahan, sekaligus menjadi pokok sumpah yang dibacakan dalam video. Penyampaian singkat itu menghubungkan isi Sumpah Pemuda dengan momen ketika Prabowo dan para siswa mengucapkannya bersama-sama, dalam suasana peringatan yang melibatkan generasi muda.
Menjelang akhir video, Prabowo mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke atas sambil menyerukan, “merdeka.” Para siswa menyambut seruan tersebut dengan meneriakkan kata yang sama dan membuat gestur serupa. Adegan itu menutup pembacaan sumpah dengan seruan yang menggambarkan semangat kebangsaan dalam peringatan tersebut. Video diunggah bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98, yang jatuh setiap 28 Oktober. Dengan demikian, unggahan itu menggabungkan pembacaan tiga ikrar, keterlibatan para siswa, dan seruan bersama pada bagian akhir. Penempatan video pada tanggal peringatan memberi konteks pada pesan yang disampaikan, yakni mengingat kembali ikrar tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan Indonesia.
Baca juga: Olahraga Bersama, Panglima TNI Perkuat Kebersamaan dengan Prajurit Mabes TNI | Semarak HJB dan HUT TNI 2026, Pemkab bersama Kodim Bojonegoro Gelar LCC Wawasan Kebangsaan | Rasa Kehilangan yang Mendalam: Prabowo Mengunjungi Megawati






