Denpasar | Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Bali dalam beberapa hari terakhir telah memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah titik penyaluran. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan bahan bakar yang dibutuhkan bagi aktivitas sehari-hari. Antrean yang memanjang turut menimbulkan kekhawatiran karena akses terhadap BBM menjadi bagian penting dalam menunjang mobilitas dan berbagai keperluan masyarakat.
Dampak kelangkaan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Waktu yang semestinya dapat digunakan untuk bekerja, menjalankan kegiatan usaha, atau memenuhi kebutuhan lainnya harus tersita karena proses pengisian bahan bakar berlangsung lebih lama. Situasi ini juga membuat masyarakat perlu menyesuaikan rencana perjalanan dan mengatur kembali kebutuhan BBM, terutama ketika ketersediaan bahan bakar belum sepenuhnya mudah diperoleh.
Penjelasan mengenai penyebab kondisi tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri. Keterangan dari pimpinan Pertamina itu menjadi perhatian karena masyarakat membutuhkan kejelasan mengenai faktor yang menyebabkan pasokan BBM mengalami gangguan hingga berdampak pada antrean panjang. Pernyataan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai situasi yang sedang berlangsung sekaligus menjawab pertanyaan publik tentang kelangkaan BBM di Bali. Bagi masyarakat, informasi yang jelas diperlukan agar mereka dapat memahami perkembangan pasokan dan memperkirakan langkah yang perlu dilakukan selama kondisi ini masih dirasakan. Antrean yang terjadi menunjukkan bahwa gangguan ketersediaan BBM tidak hanya berkaitan dengan proses penyaluran, tetapi juga memengaruhi kegiatan harian secara lebih luas. Karena itu, penjelasan Pertamina menjadi bagian penting dalam pemberitaan mengenai kondisi BBM di Bali.
Simon menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama gangguan pasokan BBM di Bali berkaitan dengan proses pembongkaran muatan dari kapal tanker Pertamina. Kapal tersebut mengalami kesulitan memasang jangkar ketika hendak melakukan pembongkaran. Kondisi itu membuat proses penyaluran kargo tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Kendala tersebut terjadi saat kapal tanker berada dalam tahapan discharge kargo. Dalam proses ini, muatan BBM seharusnya dibongkar dari kapal untuk kemudian disalurkan sesuai kebutuhan. Namun, kesulitan memasang jangkar menghambat kapal dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Akibatnya, waktu yang diperlukan untuk membongkar muatan menjadi lebih panjang.
Menurut penjelasan Simon, hambatan pada proses discharge turut memengaruhi kelancaran pasokan BBM ke Bali. Ketika pembongkaran kargo tertunda, distribusi BBM dari titik penerimaan menuju sarana penyaluran juga ikut terdampak. Gangguan pada tahapan tersebut kemudian berkontribusi terhadap berkurangnya ketersediaan BBM di sejumlah lokasi.
Penjelasan mengenai kendala jangkar ini menjadi bagian dari keterangan Pertamina terkait munculnya antrean kendaraan dan kelangkaan BBM di Bali. Masalah tersebut bukan disebabkan oleh berhentinya kebutuhan masyarakat, melainkan oleh terganggunya salah satu tahapan pasokan, yakni pembongkaran muatan kapal tanker. Dengan proses discharge yang tidak berlangsung lancar, pasokan memerlukan waktu lebih lama untuk kembali mendukung kebutuhan di lapangan.
Simon menyampaikan bahwa kesulitan kapal tanker Pertamina memasang jangkar merupakan salah satu faktor yang menghambat kegiatan bongkar muat. Kendala itu berlangsung pada saat kapal hendak membongkar kargo, sehingga berdampak pada kesinambungan pasokan BBM. Penjelasan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana gangguan dalam proses penerimaan muatan dapat berpengaruh terhadap ketersediaan BBM dan memicu antrean kendaraan di Bali.
Proses bongkar muat BBM yang menjadi bagian dari jadwal operasional Pertamina mengalami penundaan akibat adanya masalah pada kapal tanker. Kendala tersebut membuat tahapan untuk memindahkan muatan dari kapal tidak dapat berjalan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Kondisi ini menyebabkan jadwal yang semula direncanakan berlangsung pada pagi hari harus menunggu sampai persoalan pada kapal tanker ditangani dan proses bongkar muat dapat dilanjutkan. Penundaan itu berlangsung selama berjam-jam, sehingga waktu pelaksanaan bergeser jauh dari rencana awal.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan Simon, bongkar muat pada awalnya dijadwalkan mulai pukul 06.30 Wita. Namun, pelaksanaannya tidak berlangsung pada waktu tersebut karena masalah pada kapal tanker. Setelah menunggu dan melakukan penanganan terhadap kendala yang terjadi, proses bongkar muat baru terlaksana hingga pukul 22.00 Wita. Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan yang direncanakan sejak pagi baru dapat dijalankan sampai malam hari. Keterangan mengenai perubahan jadwal ini menjelaskan lamanya proses operasional tertunda.
Simon menyampaikan keterangan itu di Depo Pertamina Sanggaran, Denpasar, pada Rabu, 14 Oktober 2026. Penjelasan tersebut menempatkan masalah pada kapal tanker sebagai penyebab tertundanya bongkar muat dalam jadwal yang telah ditetapkan. Dengan demikian, perbedaan waktu rencana dan waktu pelaksanaan terutama berkaitan dengan kendala yang muncul pada kapal. Jadwal pukul 06.30 Wita tidak dapat terlaksana sebagaimana semula direncanakan, sedangkan prosesnya baru terlaksana hingga pukul 22.00 Wita. Uraian itu menjelaskan mengapa kegiatan bongkar muat berlangsung lebih lambat daripada jadwal awal.
Pertamina menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang terdampak kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan antrean kendaraan di sejumlah wilayah Bali. Simon menegaskan bahwa kendala dalam proses bongkar muat tidak ingin dijadikan pembenaran atas situasi yang meluas tersebut. Menurutnya, kondisi operasional itu tetap perlu dijelaskan secara terbuka, tetapi tidak boleh mengurangi perhatian terhadap dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat ketika memperoleh BBM.
Simon menyatakan bahwa pelayanan kepada masyarakat merupakan hal yang paling penting bagi Pertamina. Karena itu, perusahaan menyampaikan penyesalan atas ketidaknyamanan yang muncul selama masyarakat harus menunggu lebih lama di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pernyataan tersebut menjadi bentuk tanggung jawab Pertamina terhadap pengguna kendaraan dan warga yang mengalami kesulitan mendapatkan BBM di tengah antrean yang terjadi di berbagai lokasi Bali.
Selain kendala bongkar muat, Pertamina juga menyebut tingginya kebutuhan masyarakat sebagai salah satu faktor yang turut memengaruhi kelangkaan. Permintaan disebut terutama tinggi untuk jenis Pertalite. Simon menjelaskan, tingginya minat terhadap Pertalite lain dipengaruhi oleh perbedaan harga yang cukup jauh dibandingkan dengan jenis BBM lainnya. Perbedaan tersebut membuat Pertalite lebih banyak dipilih masyarakat, sehingga kebutuhan terhadap produk itu meningkat. Pertamina menempatkan kondisi tersebut sebagai bagian dari faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat situasi antrean dan ketersediaan BBM di Bali.
Baca juga: Penanganan Antrean BBM di Makassar: Langkah Strategis Pertamina | HUT ke-48 FKPPI, Bamsoet Tegaskan Arahan Ketua Umum, Bahwa FKPPI Organisasi Perjuangan, Bukan Kendaraan Politik Cari Kekuasaan | Sopir Alphard Tabrak 14 Kendaraan di Surabaya, Investigasi Polri Terus Berlanjut







