Penilaian Benyamin S Award Menyoroti Potensi Tiga Kelurahan di Jakarta Barat

Penilaian Benyamin S Award Menyoroti Potensi Tiga Kelurahan di Jakarta Barat

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Tim penilai Benyamin S Award mengunjungi festival yang digelar di tiga kelurahan finalis di Jakarta Barat pada Kamis, 8 Oktober. Ketiga lokasi tersebut adalah Kelurahan Srengseng, Sukabumi Utara, dan Taman Sari. Kunjungan ini menjadi bagian dari proses penilaian untuk melihat secara langsung pelaksanaan festival serta berbagai potensi yang ditampilkan oleh masing-masing kelurahan.

Dalam kegiatan tersebut, Nirwono Joga hadir sebagai salah satu juri. Ia juga menjalankan tugas sebagai staf khusus Gubernur DKI Jakarta bidang pembangunan dan tata kota. Kehadirannya bersama tim penilai memungkinkan proses pengamatan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek pembangunan lingkungan, tata ruang, serta keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan festival di tingkat kelurahan.

Tim penilai turut beranggotakan Endra S Atmawidjaja, selaku Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia, serta Wicaksono Sarosa dari Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI). Mereka mendatangi Srengseng, Sukabumi Utara, dan Taman Sari untuk menyaksikan langsung rangkaian kegiatan yang disiapkan oleh setiap kelurahan finalis. Pengamatan lapangan tersebut dilakukan untuk memahami kesiapan panitia, kreativitas program, dan kemampuan warga dalam mengembangkan potensi wilayahnya. Selain menyaksikan festival, tim juga memperoleh gambaran mengenai cara setiap kelurahan mengangkat keunggulan lokal dan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Tiga lokasi itu dipilih sebagai finalis setelah melalui tahapan penilaian sebelumnya. Karena itu, kunjungan pada Kamis tersebut menjadi kesempatan penting bagi para juri untuk membandingkan pelaksanaan kegiatan secara langsung, sekaligus mencermati karakter dan pendekatan berbeda yang ditawarkan oleh masing-masing kelurahan di Jakarta Barat.

Catatan pertama Nirwono setelah mengunjungi tiga festival dalam rangkaian penilaian Benyamin S Award adalah adanya potensi besar di setiap kelurahan. Potensi tersebut terlihat melalui kegiatan yang ditampilkan oleh masing-masing wilayah, baik dari gagasan yang diangkat maupun dari cara penyelenggaraannya. Setiap kelurahan menunjukkan bahwa mereka memiliki sumber daya, ide, dan karakter yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang relevan bagi masyarakat setempat.

Nirwono juga mencermati bahwa festival-festival tersebut merupakan inisiatif masing-masing kelurahan. Kegiatan itu tidak hadir sebagai program yang seragam, melainkan disusun berdasarkan gagasan dan kemampuan yang dimiliki oleh tiap wilayah. Meskipun persiapannya dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, setiap kelurahan telah menyiapkan kegiatan dengan baik. Hal tersebut tercermin dari rangkaian acara serta potensi lokal yang berusaha ditampilkan kepada pengunjung dan masyarakat.

Pernyataan Nirwono menunjukkan bahwa berbagai upaya tersebut layak diapresiasi karena memperlihatkan kemampuan kelurahan dalam mengembangkan kegiatan berdasarkan gagasan mereka sendiri. Apresiasi itu tidak semata-mata diberikan karena festival telah terlaksana, tetapi juga karena terdapat proses penggalian dan pengolahan potensi di tingkat kelurahan. Masing-masing wilayah berusaha menerjemahkan kekuatan yang dimilikinya ke dalam bentuk kegiatan yang dapat dikenali dan dinikmati bersama.

Dengan demikian, penilaian terhadap tiga festival tidak hanya berfokus pada hasil akhir atau tampilan acara. Aspek penting lainnya adalah kemampuan setiap kelurahan dalam mengenali, mengolah, dan mengembangkan potensi yang tersedia. Cara tersebut menjadi bagian dari catatan penilaian Nirwono, karena memperlihatkan sejauh mana gagasan lokal dapat diwujudkan melalui persiapan dan pelaksanaan kegiatan dalam waktu yang terbatas. Setiap festival kemudian dipandang sebagai gambaran dari inisiatif serta kapasitas kelurahannya masing-masing.

Catatan kedua Nirwono berkaitan dengan kemajuan penataan dalam empat kategori Benyamin S Award, yaitu bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Keempat kategori tersebut menjadi dasar untuk melihat bagaimana setiap kelurahan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Penilaian tidak hanya memperhatikan kondisi fisik lingkungan, tetapi juga perkembangan upaya penataan yang dilakukan di masing-masing wilayah berdasarkan karakter dan sumber daya setempat.

Menurut Nirwono, terdapat perbedaan fokus tahap penilaian sebelumnya dan kunjungan festival kali ini. Pada tahap awal, tim lebih banyak mengamati berbagai potensi yang hendak dikembangkan di titik-titik kelurahan. Pengamatan tersebut membantu penilai mengenali gagasan, kekuatan, serta kemungkinan pengembangan yang terdapat di setiap lokasi. Fokusnya masih berada pada potensi yang tersedia dan arah penataan yang dapat dilakukan oleh kelurahan.

Sementara itu, dalam tahap festival, penilaian diarahkan pada cara seluruh potensi tersebut dirangkai menjadi satu kegiatan. Penilai melihat bagaimana berbagai unsur yang ada di kelurahan disatukan dan ditampilkan melalui festival. Dengan demikian, perhatian tidak berhenti pada keberadaan potensi secara terpisah, melainkan juga pada kemampuan kelurahan menghubungkan potensi-potensi itu menjadi rangkaian kegiatan yang utuh sesuai dengan empat kategori penilaian.

Nirwono menilai pengalaman tersebut dapat menjadi modal bagi para lurah menjelang babak final. Pengalaman dalam merangkai potensi menjadi kegiatan diharapkan memberi bekal bagi kelurahan untuk menghadapi tahap berikutnya. Selain itu, pengalaman ini dapat menjadi persiapan untuk menghadirkan festival antarkelurahan secara berkelanjutan dari Januari hingga Desember, terutama dalam menyambut lima abad Jakarta. Gagasan tersebut menempatkan festival sebagai rangkaian kegiatan yang berlangsung sepanjang tahun, sekaligus memperkuat kesiapan kelurahan dalam penilaian final.

Catatan ketiga Nirwono menempatkan festival ini bukan semata-mata sebagai rangkaian penilaian, melainkan sebagai ruang persiapan bagi para lurah sebelum memasuki babak final pada pekan berikutnya. Melalui festival, setiap kelurahan dapat mengevaluasi kekuatan, mengenali kekurangan, serta menyusun kembali cara menyampaikan berbagai program dan inovasi yang telah dijalankan. Persiapan tersebut diharapkan membantu para lurah tampil lebih meyakinkan sekaligus menunjukkan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

Wicaksono Sarosa juga mengingatkan bahwa prinsip bersih, sejahtera, nyaman, dan indah seharusnya tidak diterapkan hanya ketika penilaian penghargaan berlangsung. Keempat prinsip itu perlu menjadi bagian dari keseharian dalam pengelolaan lingkungan dan pelayanan kepada warga. Dengan demikian, upaya menjaga kebersihan, meningkatkan kesejahteraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, serta memperindah kawasan dapat berjalan secara konsisten, bukan berhenti setelah proses penjurian selesai.

Penerapan yang berkelanjutan akan memberi manfaat lebih luas bagi kelurahan. Lingkungan yang tertata dapat mendorong keterlibatan warga, memperkuat kepedulian terhadap fasilitas umum, dan mendukung berbagai kegiatan sosial maupun ekonomi. Harapannya, kelurahan tidak hanya mampu meraih penghargaan, tetapi juga terus berkembang melalui kerja sama pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya. Perkembangan tersebut pada akhirnya perlu diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup serta menyejahterakan warga.

Selanjutnya, tiga kelurahan tersebut bersama tujuh kelurahan finalis lainnya dijadwalkan mengikuti penilaian presentasi tatap muka pada 15 Oktober 2026. Tahap ini menjadi kesempatan bagi para finalis untuk memaparkan program, capaian, dan rencana pengembangan secara langsung di hadapan tim penilai. Rangkaian Benyamin S Award yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian dijadwalkan berakhir melalui acara puncak pada akhir Oktober. Hasil akhirnya diharapkan mencerminkan konsistensi pengelolaan kelurahan sekaligus memberi dorongan bagi peningkatan pelayanan publik di Jakarta Barat.