Pengalaman Radja Nainggolan Beradaptasi dengan Kehidupan di Indonesia

Pengalaman Radja Nainggolan Beradaptasi dengan Kehidupan di Indonesia

Jakarta | Radja Nainggolan mengenang masa singkatnya ketika tinggal dan berkarier di Indonesia bersama Bhayangkara FC. Periode tersebut berlangsung pada 2023 hingga 2024, setelah ia membangun reputasi panjang sebagai gelandang yang pernah tampil di sejumlah klub besar Eropa, khususnya dalam kompetisi Liga Italia. Bagi pemain yang saat itu berusia 38 tahun tersebut, pengalaman di Indonesia menghadirkan cerita yang berbeda dari perjalanan profesionalnya selama ini.

Dalam wawancara yang dikutip dari Nieuwsblad, Radja menjelaskan bahwa kepindahannya ke Indonesia tidak hanya berkaitan dengan sepak bola. Ia juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, kebiasaan, ritme kehidupan, serta cara masyarakat berinteraksi. Perbedaan Indonesia dan Eropa terasa dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang mungkin dianggap biasa di Eropa dapat memiliki cara penerapan yang berbeda di Indonesia, sehingga proses adaptasi menjadi bagian penting dari pengalamannya.

Penyesuaian tersebut menjadi semakin menarik karena Radja datang dengan latar belakang sebagai pemain berpengalaman di level tertinggi. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa dengan atmosfer kompetisi Eropa yang memiliki karakter, fasilitas, dan tuntutan berbeda. Ketika memasuki kehidupan di Indonesia, ia perlu memahami situasi baru sekaligus tetap menjaga fokus sebagai pesepak bola profesional. Pengalamannya bersama Bhayangkara FC memperlihatkan bahwa perpindahan negara bukan sekadar perubahan klub, melainkan juga proses mengenal budaya dan pola hidup yang baru.

Kisah Radja memberikan gambaran bahwa kehidupan di Indonesia dapat menghadirkan tantangan sekaligus pengalaman unik bagi pemain asing. Meski memiliki pengalaman luas di Liga Italia, ia tetap merasakan perlunya waktu untuk memahami perbedaan yang ada. Cerita tersebut memperkaya perjalanan kariernya dan menunjukkan bagaimana seorang atlet beradaptasi ketika memasuki lingkungan sepak bola serta masyarakat yang memiliki karakter berbeda dari Eropa.

Perbedaan waktu Indonesia dan Belgia menjadi salah satu hal yang memengaruhi kebiasaan Radja Nainggolan bermain PlayStation. Ia tetap bermain secara daring bersama teman-temannya yang berada di Belgia. Aktivitas tersebut dilakukan untuk menjaga kebiasaan bermain bersama, meskipun Radja kini tinggal di Indonesia dan teman-temannya berada di Eropa.

Waktu bermain itu berlangsung pada dini hari menurut waktu Indonesia. Ketika di Eropa sudah menunjukkan pukul 22.00, di Indonesia waktu telah memasuki pukul 05.00. Dengan demikian, saat teman-teman Radja mulai bermain pada malam hari di Belgia, waktu di tempat Radja berada sudah pagi. Perbedaan waktu tersebut membuat sesi bermain daring bersama mereka berlangsung pada waktu yang tidak biasa bagi rutinitas di Indonesia.

Radja tinggal di lantai 28 sebuah gedung di Jakarta. Tempat tinggalnya di gedung tersebut menjadi latar bagi kebiasaannya menjalani aktivitas pada dini hari. Dari tempat tinggalnya itu, ia bermain PlayStation secara daring bersama teman-temannya di Belgia ketika waktu di Eropa telah mencapai pukul 22.00. Pada saat yang sama, jam di Jakarta sudah menunjukkan pukul 05.00.

Hubungan tempat tinggal dan perbedaan waktu terlihat dalam rutinitas bermain Radja. Lokasinya di Jakarta membuat ia mengikuti waktu Indonesia, sedangkan teman-temannya tetap bermain berdasarkan waktu di Belgia. Karena itu, waktu bermain yang bagi teman-temannya merupakan malam hari, bagi Radja berlangsung pada dini hari. Kebiasaan bermain PlayStation bersama teman-teman di Belgia pun menyesuaikan perbedaan waktu tersebut, tanpa mengubah fakta bahwa mereka tetap terhubung melalui permainan daring.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Radja Nainggolan selama menjalani kehidupan di Indonesia adalah ketika azan subuh mulai berkumandang. Momen tersebut kadang terjadi saat ia masih bermain, berbincang, atau baru hendak beristirahat setelah menjalani aktivitas sepanjang hari. Bagi seseorang yang belum terbiasa dengan suasana lingkungan di Indonesia, suara azan pada waktu subuh menghadirkan pengalaman yang berbeda dari rutinitasnya sebelumnya.

Radja menceritakan bahwa suara azan itu terdengar secara bersamaan dari berbagai arah. Ia bahkan menggambarkannya seolah-olah berasal dari sekitar 50 masjid yang berada di sekeliling tempat tinggalnya. Lantunan tersebut tidak hanya terdengar dari satu titik, tetapi menyebar melalui lingkungan sekitar, sehingga menciptakan suasana khas ketika pagi mulai tiba. Pengalaman itu memperlihatkan kuatnya kehadiran kehidupan keagamaan dalam keseharian masyarakat setempat.

Dalam kondisi tertentu, banyaknya suara yang terdengar pada waktu yang hampir bersamaan membuat Radja terkadang sulit untuk tidur. Terlebih apabila ia masih berada dalam suasana aktif atau baru saja bersiap memejamkan mata, azan subuh menjadi bagian dari perubahan suasana malam menuju pagi. Kesulitan beristirahat tersebut lebih berkaitan dengan proses penyesuaian terhadap kebiasaan dan lingkungan baru, bukan karena ia memandang suara azan sebagai sesuatu yang mengganggu secara negatif.

Radja tidak menyampaikan pengalaman itu sebagai keluhan ataupun bentuk penolakan terhadap kehidupan di Indonesia. Sebaliknya, cerita tersebut menunjukkan bagaimana ia menemukan perbedaan budaya melalui pengalaman sehari-hari yang sederhana. Suara azan dari berbagai masjid menjadi salah satu hal yang perlu ia kenali dan pahami selama tinggal di Indonesia. Seiring waktu, pengalaman tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari proses adaptasi, sekaligus gambaran mengenai suasana lingkungan yang memiliki karakter berbeda dari tempat yang sebelumnya ia kenal.

Selama berada di Jakarta, Radja Nainggolan tidak hanya beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga menemukan berbagai kebiasaan masyarakat yang berkesan. Salah satu pengalaman yang paling ia nikmati adalah mengikuti suasana Ramadan. Ia melihat bulan suci tersebut sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, termasuk kebiasaan berkumpul dan berbagi waktu bersama keluarga.

Radja juga pernah ikut bangun pada pagi hari untuk makan bersama selama Ramadan. Momen tersebut memberinya pengalaman yang berbeda dari rutinitas yang biasa ia jalani di Eropa. Meskipun harus menyesuaikan diri dengan waktu istirahat dan pola makan, ia menganggap kegiatan itu menyenangkan dan spesial. Kebersamaan dalam suasana sederhana tersebut memperlihatkan sisi hangat kehidupan sosial di Indonesia yang mudah ia hargai.

Bagi Radja, pengalaman seperti itu menjadi bagian penting dari proses mengenal Jakarta. Ia tidak hanya menjalani kehidupan sebagai pesepak bola, tetapi juga berinteraksi dengan budaya lokal secara langsung. Kebiasaan masyarakat dalam menyambut Ramadan, menikmati makanan bersama, serta menjaga hubungan sosial membuat masa tinggalnya terasa lebih berwarna. Pengalaman tersebut turut memperkaya pandangannya terhadap Indonesia dan meninggalkan kenangan positif.

Di bidang sepak bola, Radja bergabung dengan Bhayangkara FC setelah sempat mempertimbangkan untuk pensiun. Keputusan tersebut memberinya kesempatan melanjutkan karier sekaligus merasakan atmosfer kompetisi Indonesia. Bersama Bhayangkara FC, ia mencatatkan 10 penampilan, mencetak satu gol, dan memberikan tiga assist sebelum kontraknya berakhir pada Juni 2024. Catatan itu melengkapi perjalanan singkatnya di Indonesia, yang tidak hanya diwarnai aktivitas di lapangan, tetapi juga pengalaman budaya yang menyenangkan dan berkesan di Jakarta.

Baca juga: Pengalaman Baru Bersama Robot Cerdas di Jakarta