Osteoporosis Sering Baru Terungkap Setelah Patah Tulang, Perempuan Lebih Rentan

Osteoporosis Sering Baru Terungkap Setelah Patah Tulang, Perempuan Lebih Rentan

Bandung | Osteoporosis sering disebut sebagai penyakit senyap karena proses penurunan kepadatan dan kekuatan tulang dapat berlangsung perlahan tanpa menimbulkan tanda yang mudah dikenali. Pada tahap awal, seseorang mungkin tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak merasakan nyeri atau perubahan khusus. Tidak adanya keluhan bukan berarti tulang berada dalam kondisi sehat; keropos tulang dapat berkembang selama bertahun-tahun sebelum dampaknya terlihat.

Akibatnya, banyak orang baru mengetahui dirinya mengalami osteoporosis setelah tulang patah, bahkan ketika cedera terjadi dalam aktivitas ringan yang biasanya tidak menyebabkan kerusakan. Benturan kecil, jatuh dari posisi berdiri, atau gerakan sederhana dapat berujung pada patah tulang apabila tulang telah melemah. Patah tulang pada tulang belakang, pinggul, atau pergelangan tangan dapat menjadi tanda pertama yang mendorong seseorang menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Dokter spesialis ortopedi Lusiana S. Yulianti menjelaskan sifat tersebut dalam konferensi pers Hari Osteoporosis Nasional 2026 di Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu (24/10/2026). Ia menyampaikan bahwa osteoporosis sering tidak disadari karena tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas, dan kerap baru terungkap setelah terjadi patah tulang. Penjelasan ini menegaskan pentingnya memahami bahwa patah tulang yang tampak mendadak bisa berkaitan dengan proses pelemahan tulang yang telah berlangsung sebelumnya.

Perubahan seperti tubuh yang makin membungkuk atau tinggi badan yang berkurang dapat muncul pada sebagian orang, terutama jika tulang belakang mengalami keretakan. Namun, tanda-tanda itu tidak selalu hadir atau dikenali sebagai masalah tulang. Karena itu, menunggu hingga timbul nyeri maupun patah tulang bukan cara yang dapat diandalkan untuk mengetahui kondisi tulang. Orang yang memiliki faktor risiko sebaiknya membicarakan kesehatan tulang dengan tenaga medis, yang dapat menilai riwayat kesehatan dan menentukan apakah pemeriksaan kepadatan tulang diperlukan.

Mengenali osteoporosis sebagai kondisi yang dapat berkembang diam-diam membantu mendorong perhatian lebih dini. Pemeriksaan dan penilaian profesional dapat membantu mengidentifikasi risiko sebelum cedera terjadi, sementara langkah pencegahan dan penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang. Dengan demikian, patah tulang tidak harus menjadi satu-satunya petunjuk bahwa kekuatan tulang telah menurun.

Menurut Lusiana, risiko osteoporosis tidak sama pada perempuan dan laki-laki. Pada kelompok usia 50 tahun ke atas, sekitar satu dari lima perempuan berisiko tinggi mengalami osteoporosis. Pada laki-laki dalam kelompok usia yang sama, risikonya sekitar satu dari tujuh. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan, meskipun osteoporosis tetap dapat dialami oleh siapa pun. Karena penyakit ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, memahami perbedaan risiko membantu masyarakat mengenali pentingnya perhatian terhadap kesehatan tulang sejak dini.

Kerentanan perempuan meningkat terutama setelah menopause. Pada masa ini, kadar hormon estrogen menurun. Estrogen berperan dalam membantu menjaga keseimbangan proses pembentukan dan penguraian tulang. Ketika kadarnya berkurang, tulang dapat kehilangan kepadatan lebih cepat, sehingga menjadi lebih rapuh dan lebih mudah mengalami patah. Penurunan hormon tersebut merupakan alasan utama yang disebutkan untuk menjelaskan mengapa perempuan memiliki risiko lebih tinggi, terutama ketika memasuki usia lanjut.

Angka satu dari lima perempuan berusia 50 tahun ke atas dan satu dari tujuh laki-laki pada kelompok usia tersebut perlu dipahami sebagai gambaran risiko, bukan kepastian bahwa setiap orang akan mengalami osteoporosis. Namun, perbedaan ini menjadi pengingat bahwa perempuan setelah menopause perlu memberi perhatian khusus pada kesehatan tulang. Pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menilai kondisi serta faktor risiko seseorang. Dengan memahami perubahan yang terjadi setelah menopause dan mengetahui bahwa risiko meningkat seiring usia, seseorang dapat mengambil langkah yang sesuai untuk menjaga tulang. Informasi mengenai risiko juga penting bagi keluarga, agar perubahan kesehatan tidak diabaikan hanya karena osteoporosis sering kali baru diketahui setelah patah tulang. Kesadaran terhadap risiko tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kekhawatiran, melainkan mendorong perhatian yang tepat. Perempuan dan laki-laki sama-sama dapat membicarakan kesehatan tulang dengan tenaga medis, tetapi tingginya risiko pada perempuan menunjukkan perlunya kewaspadaan tambahan setelah menopause. Pengetahuan tentang peran estrogen memberi konteks bagi perbedaan tersebut dan membantu menjelaskan mengapa risiko perempuan lebih besar daripada laki-laki pada kelompok usia yang disebutkan Lusiana.

Lusiana menekankan bahwa upaya menjaga kesehatan tulang sebaiknya tidak menunggu hingga seseorang memasuki usia lanjut atau mengalami patah tulang. Kebiasaan yang mendukung pembentukan tulang perlu dibangun sejak usia muda, ketika perhatian terhadap risiko osteoporosis mungkin belum terasa mendesak. Pemenuhan nutrisi kalsium dan aktivitas fisik yang membantu pembentukan tulang merupakan bagian dari kebiasaan tersebut. Pesan ini mengingatkan bahwa tulang perlu diperhatikan sebagai bagian dari kesehatan jangka panjang, bukan hanya ketika muncul keluhan atau cedera.

Osteoporosis dapat berlangsung tanpa diketahui, sehingga sebagian orang baru menyadari adanya masalah setelah tulang mengalami patah. Kondisi ini membuat pencegahan dini penting untuk dibicarakan, terutama karena perempuan lebih rentan. Membiasakan pemenuhan kalsium dan aktivitas fisik yang mendukung pembentukan tulang sejak muda merupakan cara untuk menempatkan kesehatan tulang dalam perhatian sehari-hari. Kebiasaan itu bukan jaminan bahwa patah tulang tidak akan terjadi, tetapi menjadi pesan penting dalam membangun kepedulian terhadap tulang sebelum risiko terasa nyata.

Kekhawatiran terhadap patah tulang akibat osteoporosis juga menunjukkan mengapa pembicaraan mengenai tulang tidak seharusnya hanya muncul setelah seseorang mengalami kejadian tersebut. Jika perhatian baru diberikan setelah patah tulang, kesempatan untuk menumbuhkan kebiasaan sejak usia muda telah terlewat. Karena itu, pesan Lusiana berfokus pada pembiasaan pemenuhan nutrisi kalsium serta aktivitas fisik yang membantu pembentukan tulang. Menjadikan keduanya bagian dari kebiasaan sejak muda dapat membantu menanamkan kesadaran bahwa kesehatan tulang perlu dijaga dalam jangka panjang. Pesan tersebut relevan bagi perempuan maupun laki-laki, meskipun perempuan disebut lebih rentan terhadap osteoporosis. Dengan membicarakan kebiasaan ini lebih awal, keluarga dan lingkungan dapat ikut mengingatkan generasi muda tentang pentingnya memperhatikan tulang. Perhatian semacam ini juga membantu menggeser pemahaman bahwa osteoporosis hanya menjadi persoalan pada usia lanjut. Risiko patah tulang dapat menjadi pengingat akan dampak yang mungkin baru tampak ketika masalah telah berkembang, sementara perhatian terhadap pembentukan tulang dapat dimulai lebih awal. Intinya, membangun kebiasaan sejak muda merupakan pesan pencegahan yang sederhana untuk dipahami: nutrisi kalsium dan aktivitas fisik yang mendukung pembentukan tulang perlu mendapat tempat dalam kehidupan sehari-hari, agar kepedulian tidak baru muncul setelah patah tulang terjadi.

Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) memperluas edukasi kesehatan tulang dan pencegahan osteoporosis agar tidak hanya menjangkau kelompok usia lanjut. Ketua Umum Perwatusi, Anita A. Hutagalung, menyampaikan bahwa pemahaman dan kebiasaan menjaga tulang perlu dibangun sejak dini, mulai dari anak-anak dan remaja, dilanjutkan kepada ibu muda, hingga lansia. Pendekatan lintas generasi ini membantu masyarakat mengenali pentingnya aktivitas fisik teratur sebelum masalah tulang berkembang atau baru diketahui setelah terjadi patah tulang.

Salah satu kegiatan yang diperkenalkan adalah latihan terukur, termasuk chair exercise atau senam kursi. Latihan tersebut dapat dilakukan dengan gerakan yang disesuaikan dengan kemampuan peserta, sehingga menjadi pilihan bagi orang yang memerlukan aktivitas berdampak rendah atau dukungan saat bergerak. Dengan bimbingan yang tepat, latihan membantu peserta membangun kebiasaan aktif dan menjaga kebugaran.

Baca juga: Penangkapan Pengedar Ganja di Duren Sawit: Modus Jasa Kurir Terungkap