Gempa M 4,1 Rusak 17 Rumah di Bogor, Puluhan Warga Mengungsi

Gempa M 4,1 Rusak 17 Rumah di Bogor, Puluhan Warga Mengungsi

Bogor | Gempa bermagnitudo 4,1 yang terjadi pada Kamis sekitar pukul 17.45 WIB berdampak pada 11 kampung di Kecamatan Pamijahan dan Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Dalam laporan yang disampaikan pada Jumat, 16 Oktober 2026, sebanyak 17 rumah dilaporkan mengalami kerusakan. Sebanyak 52 orang juga tercatat mengungsi akibat dampak peristiwa tersebut.

Informasi mengenai dampak gempa itu disampaikan Andi Sumardi, Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor. Data tersebut mencakup kawasan di dua kecamatan, dengan jumlah kampung terdampak mencapai 11. Laporan itu juga menyebutkan adanya kerusakan pada belasan rumah serta puluhan warga yang mengungsi. Angka-angka tersebut menjadi gambaran dampak yang dihimpun BPBD Kabupaten Bogor hingga informasi disampaikan pada Jumat.

Dengan demikian, dampak yang dilaporkan meliputi kerusakan bangunan tempat tinggal dan perpindahan sementara warga. Jumlah rumah yang mengalami kerusakan tercatat 17 unit, sementara jumlah warga yang mengungsi mencapai 52 orang. Keduanya merupakan angka yang disampaikan dalam keterangan Andi Sumardi, bukan perkiraan tambahan. Wilayah yang disebut terdampak berada di Pamijahan dan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, dan keseluruhannya mencakup 11 kampung.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis sore, sekitar pukul 17.45 WIB, dengan magnitudo 4,1. Keterangan BPBD pada Jumat, 16 Oktober 2026, merangkum dampak yang terdata di wilayah tersebut, yakni 17 rumah rusak dan 52 warga mengungsi. Rincian itu memperlihatkan besaran dampak yang dilaporkan pada dua kecamatan, tanpa mengubah lingkup data yang disampaikan. Jumlah kampung, rumah, serta warga dalam laporan ini merujuk pada keterangan Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor.

Wilayah terdampak gempa di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, berada di Desa Cibunian. Berdasarkan hasil kaji cepat yang telah dilakukan, Kampung Muaradua menjadi salah satu lokasi yang mencatat kerusakan rumah dan warga terdampak. Petugas mendata tiga rumah mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga sedang. Sebanyak 12 jiwa tercatat terdampak di kampung tersebut. Data ini menggambarkan kondisi sementara dari pemeriksaan awal di lapangan, sementara pendataan pada sejumlah lokasi lain masih belum dapat diselesaikan.

Kerusakan yang ditemukan di Muaradua memiliki bentuk beragam. Sejumlah rumah mengalami retakan pada bagian bangunan, sedangkan pada bagian lain dinding dilaporkan hancur. Pemeriksaan juga mencatat kerusakan pada plafon dan atap. Dampak pada unsur bangunan tersebut membuat sebagian penghuni harus meninggalkan rumah untuk sementara. Enam orang dari Kampung Muaradua mengungsi karena rumah mereka mengalami kerusakan. Jumlah tersebut merupakan warga yang telah tercatat mengungsi dari kampung itu dalam kaji cepat, dan tidak dengan sendirinya mencakup warga di wilayah lain yang masih dalam proses pendataan.

Pendataan kondisi rumah dan warga di lima kampung lainnya di Desa Cibunian belum selesai. Lokasi yang masih perlu diperiksa meliputi Banarajaya 1, Banarajaya 2, Cikupa, Cisalak 1, dan Cisalak 2. Proses kaji cepat tertunda karena waktu sudah larut malam, sehingga pemeriksaan belum dapat menjangkau seluruh kampung tersebut. Dengan demikian, catatan kerusakan dan jumlah warga terdampak yang tersedia saat ini masih bersifat sementara dan terbatas pada lokasi yang telah diperiksa. Informasi mengenai kondisi di lima kampung itu belum tercantum dalam hasil pendataan awal yang disampaikan. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memperoleh gambaran lebih lengkap tentang dampak gempa di Desa Cibunian, termasuk kondisi hunian serta kebutuhan warga yang mungkin memerlukan bantuan atau tempat mengungsi. Pembaruan data dapat memperjelas skala kerusakan setelah petugas menyelesaikan pengecekan di lapangan.

Di Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, gempa menyebabkan kerusakan pada 14 rumah yang tersebar di lima kampung. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa dampak tidak hanya terjadi pada satu titik permukiman, melainkan mencakup beberapa wilayah di desa itu. Meski demikian, informasi yang tersedia tidak merinci tingkat kerusakan masing-masing rumah. Karena itu, kondisi setiap bangunan tidak dapat dijelaskan lebih jauh berdasarkan data tersebut.

Selain rumah yang mengalami kerusakan, gempa juga berdampak pada warga yang harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Sebanyak 46 orang, atau 14 kepala keluarga, mengungsi dari rumah masing-masing. Jumlah itu menggambarkan warga yang tercatat mengungsi di Purasari setelah kejadian. Mereka berasal dari keluarga yang terdampak dan memerlukan tempat sementara, meskipun alasan setiap keluarga berpindah tidak sama.

Menurut Andi, sebagian warga mengungsi karena rumah mereka tidak dapat dihuni. Keputusan meninggalkan bangunan tersebut berkaitan dengan kondisi tempat tinggal setelah gempa. Sebagian warga lainnya memilih mengungsi karena masih mengalami trauma akibat gempa susulan. Dengan demikian, perpindahan warga tidak seluruhnya disebabkan oleh kondisi rumah yang tidak bisa ditempati; kekhawatiran dan rasa takut setelah guncangan berikutnya juga menjadi alasan.

Perbedaan alasan itu penting untuk memahami situasi pengungsian di Purasari secara utuh. Data kerusakan rumah dan jumlah warga yang mengungsi memberikan gambaran tentang dampak gempa, tetapi tidak menjelaskan tingkat kerusakan tiap bangunan maupun kebutuhan khusus setiap keluarga. Keterangan Andi menegaskan bahwa ada warga yang pergi karena rumahnya tidak layak dihuni, serta warga yang membutuhkan jarak sementara dari rumah karena trauma. Informasi tersebut menggambarkan dua keadaan yang berlangsung bersamaan di desa itu, tanpa menyimpulkan kondisi lain yang belum dijelaskan. Di tengah dampak yang tersebar pada lima kampung, jumlah pengungsi yang tercatat menjadi salah satu ukuran besarnya gangguan terhadap kehidupan warga Purasari setelah gempa.Warga yang mengungsi setelah gempa di Bogor menempati dua jenis tempat tinggal sementara. Sebagian berada di tenda sementara, sedangkan sebagian lainnya tinggal di rumah saudara. Keterangan tersebut menggambarkan tempat yang digunakan warga saat ini, tanpa mengubah jumlah pengungsi yang dilaporkan dari dua wilayah terdampak, yaitu Muaradua dan Purasari.

Jumlah warga yang mengungsi dari Muaradua tercatat enam orang. Sementara itu, dari Purasari terdapat 46 orang. Jika kedua angka tersebut dijumlahkan, hasilnya adalah 52 orang. Dengan demikian, rincian pengungsi dari Muaradua dan Purasari sesuai dengan total 52 orang yang dilaporkan. Angka itu merupakan penjumlahan dari enam orang dan 46 orang, bukan jumlah tambahan di luar kedua kelompok tersebut.

Informasi mengenai tempat mengungsi menyebutkan bahwa tidak semua warga berada di tenda. Sebagian memilih atau menempati tenda sementara, sementara warga lainnya tinggal di rumah saudara. Rumah saudara yang ditempati itu disebut berada di alamat yang sama. Keterangan ini melengkapi informasi tentang lokasi sementara warga, tanpa merinci lebih jauh pembagian jumlah orang yang tinggal di masing-masing tempat.

Karena tidak tersedia rincian jumlah warga pada setiap tempat, angka enam orang dari Muaradua dan 46 orang dari Purasari tetap menjadi dasar untuk membaca total pengungsi. Jumlah keseluruhan keduanya adalah 52 orang. Penyebutan tenda sementara dan rumah saudara menjelaskan bahwa tempat tinggal warga saat ini terbagi di dua lokasi tersebut, tetapi tidak menjadi angka baru yang perlu ditambahkan pada total itu.

Dengan demikian, keterangan terakhir mengenai warga terdampak mencakup jumlah pengungsi yang dilaporkan serta tempat mereka tinggal untuk sementara. Sebagian warga saat ini menempati tenda sementara, dan sebagian lainnya tinggal di rumah saudara yang berada di alamat yang sama. Rincian enam orang dari Muaradua dan 46 orang dari Purasari tetap sesuai dengan total 52 orang yang dilaporkan.