Kota Kita Foundation | Risiko panas perkotaan tidak terbagi secara merata. Warga berpenghasilan rendah kerap memiliki pilihan terbatas untuk menghindari suhu tinggi, baik karena kondisi hunian maupun keterbatasan akses terhadap pendingin dan ruang terbuka yang teduh. Beban tersebut lebih terasa di permukiman padat, tempat rumah-rumah berdiri berdekatan, ruang hijau terbatas, dan permukaan beton atau aspal menyerap serta memancarkan panas. Kepadatan juga dapat menghambat aliran udara, sehingga lingkungan tetap terasa gerah bahkan setelah matahari terbenam. Dalam keadaan seperti ini, panas bukan sekadar ketidaknyamanan sesaat, melainkan tekanan yang dapat memengaruhi istirahat, kesehatan, dan kemampuan warga menjalankan kegiatan sehari-hari.
Konteks kemarau panjang di Indonesia memperbesar perhatian terhadap paparan panas di kota. Pada periode kering, suhu tinggi dan minimnya hujan dapat membuat kawasan terbangun semakin panas, sementara rumah dengan ventilasi terbatas memberi sedikit perlindungan. Bahan sumber menyebut bahwa pada puncak kemarau yang berlangsung pada Oktober 2026, suhu harian di beberapa lokasi penelitian di Jakarta dapat terasa melampaui 40°C. Keterangan ini menggambarkan kondisi yang dirasakan di lokasi-lokasi tersebut, bukan ukuran yang berlaku seragam bagi seluruh kota. Namun, bagi penghuni permukiman padat, paparan berkepanjangan dapat menyulitkan pemulihan tubuh, terutama ketika ruang dalam rumah juga menyimpan panas dan akses ke tempat yang lebih sejuk tidak mudah.
Data BMKG menunjukkan bahwa panas di Jakarta meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Tren tersebut penting dibaca bersama ketimpangan kondisi hidup, sebab kenaikan suhu kota dapat memperbesar risiko bagi warga yang paling sedikit memiliki sarana untuk beradaptasi. Pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, keluarga yang tinggal di hunian sempit, serta kelompok rentan dalam rumah tangga dapat menghadapi paparan yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Tanpa menambahkan angka yang tidak tersedia, informasi tentang kemarau dan tren panas memperjelas perlunya perhatian pada siapa yang menanggung dampak paling berat. Upaya menghadapi panas perkotaan perlu mempertimbangkan kualitas hunian, ketersediaan tempat teduh, dan akses warga terhadap ruang aman yang lebih sejuk.
Fenomena pulau panas perkotaan terjadi ketika kawasan terbangun memiliki suhu lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya. Beton, aspal, dan permukaan kaca menyerap serta menyimpan energi matahari pada siang hari, lalu melepaskan panas secara perlahan setelah matahari terbenam. Akibatnya, suhu di lingkungan padat dapat tetap terasa menyengat hingga malam, ketika tubuh seharusnya memperoleh kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan diri. Panas yang bertahan lama juga meningkatkan kebutuhan pendinginan, sementara akses terhadap kipas atau pendingin ruangan tidak selalu terjangkau bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Bentuk dan tata letak kota dapat memperkuat keadaan tersebut. Deretan gedung tinggi mengubah aliran udara, membentuk koridor yang mengarahkan angin ke tempat tertentu, tetapi juga menciptakan area yang terlindung dari hembusan. Ketika sirkulasi angin terhambat, panas dan polutan lebih mudah tertahan di bangunan. Situasi ini semakin berat apabila ruang terbuka hijau tidak memadai. Pepohonan memberi keteduhan dan mendinginkan lingkungan melalui penguapan air, sedangkan taman menyediakan permukaan yang tidak menyimpan panas sebanyak beton atau aspal. Tanpa cukup vegetasi, warga memiliki lebih sedikit tempat untuk berlindung dan suhu permukiman cenderung meningkat.
Kerentanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi di luar rumah. Mutu bangunan turut memengaruhi seberapa besar panas masuk dan bertahan di dalam hunian. Rumah dengan jendela kecil, ventilasi terbatas, atau bukaan yang saling berhadapan secara tidak efektif sering kali tidak mampu membuang udara panas. Atap seng dapat menerima radiasi matahari dan menghantarkan panas ke ruang di bawahnya, terutama bila tidak dilengkapi lapisan penahan panas atau plafon yang memadai. Pada permukiman padat, jarak antarrumah yang sempit juga mengurangi aliran udara serta membatasi peluang memperoleh keteduhan.
Kombinasi lingkungan kota yang panas dan hunian yang kurang nyaman membuat paparan berlangsung berjam-jam, bahkan setelah penghuni pulang dari pekerjaan. Risiko ini lebih besar bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, penanganan panas perkotaan perlu mencakup penambahan pohon dan ruang hijau, perencanaan bangunan yang menjaga aliran angin, serta perbaikan hunian yang terjangkau. Langkah tersebut dapat mengurangi panas yang tersimpan sekaligus memperkuat perlindungan warga yang paling rentan.
Warga berpenghasilan rendah tidak sepenuhnya pasif menghadapi suhu yang semakin tinggi. Banyak yang mengubah rutinitas, misalnya mengurangi aktivitas di luar rumah pada siang hari, mencari tempat teduh, memperbanyak minum, atau mengatur pekerjaan agar dilakukan pada waktu yang lebih sejuk. Sebagian keluarga juga membuka jendela pada malam hari untuk membantu sirkulasi udara, memasang tirai, menggunakan kipas angin, dan menutup bagian atap atau dinding yang terasa paling panas. Langkah-langkah tersebut menunjukkan pengetahuan dan daya upaya warga dalam melindungi diri. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada keadaan rumah, ketersediaan waktu, biaya listrik, serta jenis pekerjaan yang dijalani. Pekerja informal, pedagang, pengemudi, dan buruh harian sering tidak leluasa menghindari paparan panas karena pendapatan mereka bergantung pada kegiatan di luar ruangan.
Upaya memperbaiki hunian menghadapi kendala yang lebih besar. Rumah sempit, padat, atau dibangun dengan bahan yang mudah menyerap panas sulit dibuat lebih nyaman tanpa renovasi. Menambah ventilasi, memperbaiki atap, memasang peneduh, atau menanam pohon memerlukan ruang, izin, tenaga, dan biaya yang belum tentu tersedia. Penyewa mungkin tidak dapat mengubah bangunan, sedangkan pemilik rumah dengan penghasilan terbatas harus mendahulukan kebutuhan sehari-hari. Akses terhadap pembiayaan adaptasi juga terbatas: bantuan perbaikan rumah dan pinjaman terjangkau belum selalu menjangkau keluarga yang paling rentan. Karena itu, kemampuan beradaptasi masih banyak dibebankan kepada individu dan rumah tangga, bukan ditopang oleh dukungan yang konsisten dari lingkungan dan pemerintah.
Ketergantungan pada upaya mandiri membuat perlindungan warga tidak merata. Kebijakan penanganan panas, informasi peringatan, ruang sejuk yang mudah dijangkau, serta bantuan untuk meningkatkan kualitas hunian belum tentu tersedia secara memadai di kawasan berpenghasilan rendah. Padahal, paparan panas berkepanjangan dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan, dan gangguan kesehatan lainnya, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu. Dampaknya juga merembet ke ekonomi ketika warga kehilangan jam kerja, menanggung biaya kesehatan, atau harus membayar listrik lebih besar untuk mendinginkan rumah. Secara sosial, kurangnya ruang nyaman dapat mengurangi kesempatan beristirahat dan berkumpul dengan aman. Tanpa dukungan kebijakan dan akses adaptasi yang lebih setara, beban panas perkotaan akan terus lebih berat bagi warga yang kondisi huniannya paling rentan.
Riset konsorsium BeHousing menghadirkan kajian mengenai panas perkotaan dan kerentanan warga berpenghasilan rendah melalui kerja sama lintas lembaga. Konsorsium ini dipimpin oleh Rujak Center for Urban Studies, bersama Kota Kita Foundation, Arkom Indonesia, serta Institut Alam dan Tamadun Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia. Kolaborasi tersebut menempatkan pengalaman masyarakat dan konteks hunian sebagai bagian penting dalam memahami tantangan yang dihadapi di kawasan perkotaan. Dengan melibatkan lembaga yang memiliki perspektif dan keahlian beragam, riset ini menelaah isu perumahan dalam kaitannya dengan kondisi kehidupan warga, bukan sekadar melihat bangunan secara terpisah dari lingkungannya.
Kajian BeHousing menelaah hubungan tipologi hunian, kondisi sosial-ekonomi, tata kelola, dan kapasitas adaptasi masyarakat berpenghasilan rendah. Keempat unsur tersebut dibaca dalam konteks empat lokasi studi, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Selangor.





