Kota Tua. Rangkaian | Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 sejak Kamis (22/10). Kegiatan ini diikuti pemuda dari berbagai daerah, yang dipertemukan dalam ruang belajar bersama. Kehadiran peserta dengan latar wilayah yang beragam memberi kesempatan untuk saling mengenal pengalaman dan kondisi lingkungan masing-masing, sekaligus membuka percakapan tentang hal-hal yang mereka hadapi sebagai generasi muda.
WYC dirancang untuk mempertemukan para pemuda agar dapat bertukar pengalaman. Interaksi antarpeserta menjadi bagian penting dari proses tersebut: mereka dapat mendengar sudut pandang yang berbeda, berbagi cerita tentang pengalaman di daerah, serta melihat persamaan maupun perbedaan persoalan yang ditemui. Pertukaran ini membantu peserta memperluas pemahaman melalui pengalaman sesama pemuda, bukan hanya melalui penjelasan atau materi pembelajaran.
Selain ruang dialog, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar melalui pembelajaran dan kunjungan lapangan. Dengan mengikuti kedua bentuk kegiatan itu, peserta dapat memperoleh pemahaman dari materi sekaligus mengamati kondisi secara langsung. Proses tersebut juga diarahkan untuk menggali praktik baik yang mungkin diterapkan di lingkungan masing-masing. Setiap peserta dapat mempertimbangkan relevansi suatu praktik dengan keadaan daerahnya, sehingga pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bahan pembelajaran setelah kegiatan berlangsung.
Melalui rangkaian belajar dan pertukaran pengalaman tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai karakter patriotik, empati terhadap kondisi bangsa dan negara, serta tantangan yang akan dihadapi pemuda. Pemahaman itu tumbuh dengan memperhatikan beragam pengalaman dan kenyataan yang dibahas selama kegiatan, termasuk kondisi masyarakat dan lingkungan yang ditemui. Bagi pemuda dari berbagai daerah, kesempatan untuk mendengar pengalaman satu sama lain dapat membantu mereka memandang persoalan bangsa secara lebih luas dan memahami bahwa tantangan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama di setiap wilayah.
Dengan demikian, WYC 2026 menjadi ruang bagi peserta untuk belajar bersama, berbagi pengetahuan, serta menimbang praktik baik yang sesuai dengan lingkungan masing-masing. Pertemuan lintas daerah ini menempatkan pengalaman pemuda sebagai sumber pembelajaran, sambil memperkuat pemahaman tentang karakter patriotik, empati, dan tantangan generasi muda. Bekal tersebut diharapkan dapat mereka bawa dalam memahami keadaan di lingkungan sendiri maupun kondisi bangsa dan negara secara lebih luas.
Bagi Muhammad Iqbal, peserta asal Kalimantan Selatan, kunjungan ke Kampung Pramuka Cemara di Kelurahan Tugu Utara, Jakarta Utara, menjadi salah satu pengalaman berkesan selama mengikuti Wirasena Youth Camp 2026. Pada Minggu (25/10), ia bersama peserta lain melihat secara langsung bagaimana pengelolaan lingkungan di kampung tersebut melibatkan warga. Kunjungan ini memberi kesempatan bagi peserta untuk mengenal praktik yang berjalan di tengah masyarakat, bukan hanya memperoleh penjelasan mengenai pengelolaan sampah secara umum.
Salah satu hal yang diperkenalkan adalah bank sampah. Warga mengumpulkan sampah melalui mekanisme tersebut, sehingga kegiatan pengelolaan sampah menjadi bagian dari aktivitas bersama di lingkungan kampung. Bagi Iqbal, melihat proses itu secara langsung menjadi pengalaman yang berbeda dari sekadar membicarakan persoalan sampah. Ia dapat menyaksikan bahwa warga terlibat dalam pengumpulan sampah dan mengenal salah satu cara yang digunakan di Kampung Pramuka Cemara untuk menanganinya.
Kunjungan tersebut juga memperkenalkan pemanfaatan sampah organik melalui BKB Greens PAUD. Di tempat itu, sampah organik diterima sebagai pembayaran, bukan uang. Ketentuan tersebut menjadi contoh yang menarik bagi para peserta karena memperlihatkan bentuk transaksi yang menggunakan sampah organik sebagai pengganti pembayaran tunai. Penjelasan mengenai praktik ini menambah wawasan peserta tentang ragam cara masyarakat mengelola sampah sesuai kegiatan yang dilakukan di lingkungan setempat.
Rangkaian pengamatan di Kampung Pramuka Cemara memperlihatkan dua praktik yang berbeda: pengumpulan sampah oleh warga melalui bank sampah dan penerimaan sampah organik sebagai pembayaran di BKB Greens PAUD. Keduanya menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta saat berkunjung. Bagi Iqbal, pertemuan dengan praktik tersebut membuat kunjungan terasa berkesan, sekaligus memberinya gambaran langsung tentang keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Pengalaman ini melengkapi rangkaian kegiatan Wirasena Youth Camp 2026 dengan kesempatan untuk mengenal praktik di sebuah kampung di Jakarta Utara.Pengalaman di Wirasena Youth Camp 2026 memberi Iqbal kesempatan melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Baginya, sampah bukan semata-mata persoalan kebersihan yang perlu disingkirkan, tetapi juga sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat. Ia berharap gagasan yang dipelajari selama kegiatan tersebut dapat diterapkan di Kalimantan Selatan, khususnya sebagai pendekatan yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan peningkatan akses pendidikan. Harapan itu masih berupa rencana dan ketertarikan untuk menindaklanjuti pembelajaran, bukan kegiatan yang telah berjalan di daerah asalnya.
Menurut Iqbal, pemberdayaan sampah untuk membantu pendidikan memiliki potensi untuk dikembangkan di berbagai wilayah. Selain menawarkan nilai guna dari barang yang biasanya dibuang, pendekatan semacam ini dapat menjadi perantara untuk mengajak anak-anak dan masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Proses mengumpulkan dan memilah sampah, misalnya, dapat membuka ruang untuk membicarakan kebiasaan sehari-hari serta dampaknya. Ia memandang bahwa manfaat gagasan tersebut tidak terbatas pada dukungan terhadap pendidikan, tetapi juga mencakup tumbuhnya kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan. Karena itu, ia tertarik mengeksplorasi cara menyesuaikannya dengan kondisi setempat.
Ketertarikan serupa disampaikan Devira, peserta dari Nusa Tenggara Barat. Ia tertarik pada konsep tabungan sampah yang dikenalkan dalam kegiatan, termasuk cara anak-anak PAUD membayar biaya sekolah dengan sampah yang mereka kumpulkan. Gagasan tersebut membuatnya ingin memahami lebih jauh bagaimana mekanismenya dapat dijalankan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Devira berencana mempelajari model itu dan mencoba menerapkannya di daerah Sumbawa, NTB. Namun, rencana tersebut masih merupakan minat pribadi yang tumbuh dari pengalaman di camp, bukan program yang sudah terlaksana di Sumbawa.
Bagi Iqbal dan Devira, pembelajaran tentang tabungan sampah menghadirkan kemungkinan untuk menghubungkan pendidikan, keterlibatan masyarakat, dan kepedulian lingkungan. Keduanya melihat bahwa gagasan ini dapat menjadi inspirasi untuk wilayah lain, selama penerapannya mempertimbangkan keadaan lokal dan dilakukan dengan persiapan yang sesuai. Pengalaman mereka menunjukkan bagaimana sebuah kegiatan dapat mendorong peserta membawa pulang ide, mengkaji potensinya, lalu merencanakan langkah berikutnya. Harapan mereka adalah agar sampah dapat dipandang lebih bermanfaat, sekaligus menjadi pintu masuk bagi perubahan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan dan dukungan bagi pendidikan anak-anak.
Rangkaian tur edukasi dalam Wirasena Youth Camp (WYC) 2026 tidak hanya mengajak peserta mengunjungi Kampung Pramuka Cemara. Monumen Nasional dan kawasan Kota Tua juga menjadi bagian dari perjalanan yang mempertemukan pembelajaran sejarah, pengamatan terhadap perkembangan Jakarta, serta praktik warga dalam mengelola lingkungan. Melalui kunjungan ke sejumlah ruang tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk melihat hubungan kisah masa lalu, kehidupan kota masa kini, dan peran masyarakat dalam membangun lingkungan yang lebih baik.
Di Monumen Nasional, peserta dapat mengenal kembali perjalanan perjuangan bangsa melalui salah satu penanda penting di ibu kota. Kunjungan ini membuka ruang bagi mereka untuk memahami bahwa sejarah tidak sebatas rangkaian tanggal dan peristiwa, tetapi juga memuat nilai keberanian, persatuan, dan ketekunan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi pemuda dalam menghadapi tantangan di lingkungan masing-masing. Pengalaman belajar di lokasi bersejarah juga memberi konteks yang lebih nyata bagi pembicaraan tentang identitas dan perjalanan Indonesia.
Perjalanan ke kawasan Kota Tua melengkapi sudut pandang itu dengan memperlihatkan jejak perkembangan Jakarta.
Baca juga: Turnamen Voli Piala Panglima TNI di Samarinda Resmi Ditutup, PB Tesla Raih Juara Pertama SAMARINDA – Turnamen Bola Voli Putri Piala Panglima TNI dalam rangka memperingati HUT TNI ke-81 Tahun 2026 di wilayah Kodim 0901/Samarinda resmi ditutup, Minggu (27/9/2026) malam. Acara penutupan yang berlangsung di Lapangan Voli RT 17, Jl. Mulawarman Gang Tukang, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, tersebut berlangsung meriah dan dihadiri sekitar 500 orang yang terdiri dari tamu undangan, peserta turnamen, penonton, serta masyarakat sekitar. Hadir dalam kegiatan tersebut Dandim 0901/Samarinda Kolonel Inf Arif Hermad, S.I.P., M.M., Kasdim 0901/Samarinda Letkol Inf Y. Menri Sarungallo, S.E., M.Han., para Perwira Staf Kodim 0901/Samarinda, para Danramil jajaran Kodim 0901/Samarinda, Tokoh Masyarakat Kampung Bayur Hartoyo, perwakilan sponsorship PT BAS H. Padil, para peserta turnamen dan masyarakat. Dalam sambutannya, Tokoh Masyarakat Kampung Bayur, Hartoyo, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan turnamen tersebut. Ia juga mengapresiasi peran TNI yang selama ini turut membantu masyarakat Kampung Bayur, Ia berharap TNI semakin solid dan kuat dalam menjaga keamanan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, Dandim 0901/Samarinda Kolonel Inf Arif Hermad menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya masyarakat Kampung Bayur Kelurahan Sempaja Utara, yang telah mendukung dan menyukseskan turnamen tersebut. “Turnamen Voli Piala Panglima TNI ini sudah berlangsung selama kurang lebih 10 hari dan malam ini merupakan puncaknya,” kata Dandim. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi sarana mempererat kerja sama dan silaturahmi antara TNI dengan masyarakat. Dandim berharap turnamen serupa dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun sehingga dapat menjadi wadah untuk mencari dan mengembangkan bibit-bibit atlet bola voli di Kota Samarinda. Rangkaian penutupan dilanjutkan dengan doa, pertandingan perebutan juara ketiga dan harapan satu antara PB Gajah Mungkur melawan PB Predator. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh PB Gajah Mungkur. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize dan lomba busana dalam rangka HUT TNI ke-81 Tahun 2026, sebelum memasuki pertandingan final perebutan juara pertama dan kedua. Pada pertandingan final, PB Tesla berhadapan dengan PB RR. Pertandingan berlangsung kompetitif hingga akhirnya PB Tesla berhasil meraih kemenangan dan keluar sebagai juara pertama. Adapun hasil akhir Turnamen Bola Voli Putri Piala Panglima TNI di wilayah Kodim 0901/Samarinda yaitu Juara 1 PB Tesla, Juara 2 PB RR, Juara 3 PB Gajah Mungkur, dan Juara Harapan PB Predator. Seluruh rangkaian kegiatan penutupan Turnamen Voli Piala Panglima TNI selesai pada pukul 00.10 WITA. Kegiatan berlangsung dalam keadaan aman, tertib, dan lancar. Turnamen tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dalam menyemarakkan peringatan HUT TNI ke-81 Tahun 2026, sekaligus mempererat kebersamaan antara TNI, masyarakat, dan insan olahraga di wilayah Kota Samarinda. | Jakarta Masuk Daftar 50 Destinasi Belanja Terbaik Dunia 2026 | Keamanan Ketat untuk Pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026 di Jakarta






