Bogor | Gempa bermagnitudo 4,1 mengguncang wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (15/10/2026) sore. Peristiwa tersebut berdampak pada sejumlah rumah dan membuat puluhan warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, sebanyak 17 rumah mengalami kerusakan, sementara 52 warga mengungsi. Angka itu menggambarkan dampak langsung yang tercatat setelah gempa, terutama bagi warga yang rumahnya terdampak dan dinilai perlu menjauh untuk sementara. Informasi mengenai jumlah kerusakan dan pengungsi disampaikan oleh Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor, Andi Sumardi, pada Jumat (16/10/2026).
Warga memilih meninggalkan rumah terdampak karena kondisi bangunan yang rusak serta kekhawatiran terhadap keselamatan. Kerusakan pada tempat tinggal dapat menimbulkan rasa tidak aman, terlebih setelah guncangan terjadi. Mengungsi menjadi langkah sementara agar warga tidak harus berada di dalam bangunan yang kondisinya dikhawatirkan. Sebanyak 52 orang tercatat mengungsi, meskipun data tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan berapa lama mereka akan berada di luar rumah atau lokasi mana yang menjadi tempat tinggal sementara. Yang dapat dipastikan dari keterangan BPBD adalah jumlah warga yang mengungsi dan adanya kerusakan pada 17 rumah. Pendataan itu menjadi dasar untuk mengetahui skala dampak gempa di wilayah Kabupaten Bogor.
Keterangan Andi Sumardi disampaikan sehari setelah kejadian, saat BPBD Kabupaten Bogor mencatat dampak yang ditimbulkan. Data mengenai rumah rusak dan warga mengungsi penting untuk menggambarkan kebutuhan penanganan awal di lapangan. Bagi keluarga yang tempat tinggalnya terdampak, keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum kembali ke rumah. Kekhawatiran warga berkaitan dengan kerusakan bangunan, bukan semata-mata dengan terjadinya gempa. Karena itu, jumlah pengungsi mencerminkan keputusan warga untuk menjaga jarak dari rumah yang terdampak. Informasi yang tersedia dalam pendataan tersebut berfokus pada dua dampak utama, yakni 17 rumah rusak dan 52 warga mengungsi. BPBD menyampaikan angka-angka itu melalui pejabat yang menangani urusan kedaruratan di Kabupaten Bogor.
BPBD mencatat dampak gempa tersebar di 11 kampung yang berada di Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, dan Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan. Dari laporan yang dirinci, kerusakan terjadi pada rumah warga di kedua desa tersebut, dengan tingkat kerusakan yang beragam. Data mencakup rumah yang mengalami kerusakan ringan, seperti dinding retak, hingga bagian dinding yang hancur dan plafon di area atap yang terdampak. Selain kerusakan bangunan, sejumlah warga memilih meninggalkan rumah untuk sementara waktu.
Di Kampung Muaradua, Desa Cibunian, BPBD melaporkan tiga rumah mengalami kerusakan ringan. Sebanyak 12 jiwa tercatat terdampak di kampung ini. Kerusakan pada rumah meliputi dinding yang retak atau hancur serta plafon pada bagian atap. Dari kelompok warga terdampak tersebut, enam jiwa dilaporkan mengungsi. Angka 12 jiwa merujuk pada warga yang terdampak, sedangkan enam jiwa merupakan jumlah warga yang mengungsi; kedua angka ini menggambarkan kategori yang berbeda dan tidak dapat disamakan.
Di Desa Purasari, kerusakan tercatat pada 14 rumah yang tersebar di lima kampung. Sebanyak 46 jiwa dari 14 kepala keluarga memilih mengungsi. Keputusan untuk mengungsi diambil karena rumah mereka terdampak gempa dan sebagian warga masih merasa trauma. Dengan demikian, laporan yang dirinci menyebut total 17 rumah rusak di dua desa: tiga rumah di Kampung Muaradua dan 14 rumah di Desa Purasari. Jumlah warga yang mengungsi juga perlu dibaca sesuai lokasi dan pencatatannya. Di Purasari, tercatat 46 jiwa mengungsi, sementara di Muaradua enam jiwa dilaporkan mengungsi. Rincian tersebut memberikan gambaran mengenai sebaran kerusakan dan kebutuhan penanganan warga setelah gempa.
Andi Sumardi menjelaskan bahwa warga memilih mengungsi karena khawatir terhadap keselamatan mereka setelah gempa. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kondisi rumah yang terdampak, sehingga sebagian warga merasa perlu meninggalkan tempat tinggalnya untuk sementara. Keputusan mengungsi menjadi langkah yang diambil warga dalam menghadapi situasi pascagempa, terutama ketika mereka belum merasa aman untuk tetap berada di rumah.
Sebanyak 52 warga tercatat mengungsi setelah gempa dangkal di Bogor merusak 17 rumah. Jumlah warga yang mengungsi itu mencerminkan dampak kejadian terhadap kehidupan masyarakat di wilayah terdampak. Menurut Andi, pertimbangan utama mereka adalah keselamatan, dengan memperhatikan kerusakan yang dialami rumah masing-masing. Keadaan rumah yang terdampak membuat warga merasa cemas dan mendorong mereka mencari tempat tinggal sementara di luar rumah.
Tempat mengungsi warga tidak seluruhnya sama. Sebagian menempati tenda pengungsian sementara, sementara sebagian lainnya tinggal di rumah saudara. Rumah kerabat yang menjadi tujuan pengungsian itu masih berada di wilayah yang sama. Dengan demikian, warga memilih dua bentuk tempat berlindung sementara: tenda pengungsian atau rumah keluarga yang berada tidak jauh dari lingkungan mereka.
Perbedaan tempat mengungsi tersebut menunjukkan bahwa warga menjalani situasi pascagempa dengan pilihan yang tersedia bagi masing-masing. Ada warga yang berada bersama kelompok pengungsi di tenda, dan ada pula yang menumpang di rumah saudara. Keduanya merupakan bentuk pengungsian yang dilakukan setelah gempa, ketika kondisi rumah yang terdampak dan kekhawatiran akan keselamatan menjadi alasan untuk tidak tinggal di rumah seperti biasa.
Penjelasan Andi menegaskan hubungan dampak gempa pada rumah dan keputusan warga untuk mengungsi. Mereka meninggalkan rumah karena merasa khawatir terhadap keselamatan, lalu menempati tempat sementara yang berbeda-beda. Sebagian berada di tenda, sedangkan sebagian lain mengungsi ke rumah kerabat di kawasan yang sama. Informasi tersebut menggambarkan alasan dan pilihan tempat tinggal warga yang mengungsi, tanpa menyamaratakan lokasi yang ditempati seluruh warga terdampak.
Plt. Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Ana Oktavia Setiowati, menjelaskan bahwa rangkaian gempa tektonik yang terjadi di wilayah Sukabumi dan Bogor pada Kamis (15/10/2026) dipicu aktivitas sesar aktif. Kedua gempa tercatat pada pukul 17.49 WIB dan tergolong gempa dangkal. Menurut analisis BMKG, kedalaman sumber yang relatif dekat dengan permukaan membuat guncangan dapat dirasakan di sejumlah wilayah sekitar pusat gempa.
Gempa pertama memiliki magnitudo 3,5. Pusatnya berada di darat, sekitar 25 kilometer di utara Kabupaten Sukabumi, dengan kedalaman 9 kilometer. Tak lama kemudian, gempa kedua tercatat bermagnitudo 4,1, berpusat di darat sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor, pada kedalaman 5 kilometer. Perbedaan lokasi dan kedalaman tersebut menjadi bagian dari analisis BMKG atas aktivitas tektonik yang berlangsung di kawasan itu.
Berdasarkan laporan intensitas, guncangan mencapai IV MMI di Pamijahan dan Kabandungan. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan dapat membuat benda-benda ringan bergoyang. Intensitas III MMI dilaporkan di Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak. Sementara itu, guncangan II MMI dirasakan di Palabuhan Ratu, Pabuaran, dan Cicantayan. Tingkat intensitas menggambarkan dampak getaran yang dirasakan masyarakat, bukan ukuran magnitudo atau energi gempa.
Ana menyampaikan bahwa hingga pukul 18.40 WIB, BMKG mencatat satu gempa susulan dengan magnitudo 2,4. Gempa susulan merupakan kejadian yang dapat menyertai aktivitas gempa utama, dengan kekuatan dan waktu kemunculan yang bervariasi. Pada saat keterangan tersebut disampaikan, belum ada laporan kerusakan bangunan akibat gempa yang dimaksud. Informasi ini merujuk pada pemantauan BMKG sampai waktu tersebut, sehingga perkembangan laporan maupun data gempa dapat berubah seiring pembaruan.
Baca juga: Korupsi Pungutan Pajak di Bogor: Tuntutan Warga untuk Penegakan Hukum






