The Telkom Hub Capai Operasional Net Zero Emisi melalui Energi Terbarukan

Inisiatif Net Zero Emisi Telkom: Langkah Menuju Lanskap Energi Berkelanjutan di Indonesia

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengantarkan kawasan The Telkom Hub mencapai status net zero emission untuk emisi cakupan 1 dan 2. Pencapaian ini menandai langkah penting dalam pengelolaan dampak lingkungan dari kegiatan operasional sekaligus memperkuat komitmen Telkom terhadap agenda dekarbonisasi. Status tersebut menunjukkan bahwa emisi langsung dari sumber yang dikendalikan perusahaan serta emisi tidak langsung yang berasal dari konsumsi energi dalam operasional kawasan telah dikelola melalui pendekatan pengurangan dan pemanfaatan instrumen energi terbarukan.

Penyerahan Renewable Energy Certificate (REC) dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK) dilakukan oleh PT Energy Management Indonesia (EMI) di Jakarta pada Rabu, 23 September 2026. Kedua instrumen tersebut menjadi bagian dari upaya Telkom dalam mendukung pengakuan atas penggunaan energi terbarukan dan pengurangan emisi gas rumah kaca secara terukur. Proses ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi dengan mitra yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan energi, sertifikasi, serta pengendalian emisi.

Bagi Telkom, capaian di The Telkom Hub tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari penguatan rencana transisi iklim TelkomGroup. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong efisiensi energi, memperluas penggunaan sumber energi rendah karbon, dan membangun praktik operasional yang lebih berkelanjutan di lingkungan perusahaan. Melalui pencapaian ini, Telkom menunjukkan bahwa strategi dekarbonisasi dapat diterapkan secara konkret pada kawasan operasional dengan dukungan data, sertifikasi, dan mekanisme pengurangan emisi yang relevan.

Namun, status net zero emission yang disampaikan berlaku khusus untuk emisi operasional cakupan 1 dan 2 di kawasan The Telkom Hub. Klaim tersebut tidak diperluas menjadi pernyataan bahwa seluruh aktivitas PT Telkom Indonesia atau seluruh rantai nilai TelkomGroup telah mencapai net zero. Penegasan batas cakupan ini penting agar pencapaian dipahami secara akurat dan sejalan dengan prinsip transparansi dalam pelaporan keberlanjutan.

Pencapaian The Telkom Hub dalam mencapai status net zero emission melalui pemanfaatan energi terbarukan menjadi salah satu tahapan penting dalam rencana transisi iklim TelkomGroup. Langkah ini menunjukkan bahwa upaya pengurangan emisi tidak berhenti pada penyusunan komitmen, tetapi mulai diterapkan secara nyata dalam pengelolaan fasilitas dan kegiatan operasional perusahaan.

Dalam kerangka jangka panjang, TelkomGroup menargetkan penurunan emisi secara berjenjang hingga mencapai operasional net zero emission 100 persen pada 2060. Target tersebut ditempuh melalui berbagai inisiatif yang mencakup peningkatan efisiensi energi, penggunaan sumber energi terbarukan, penguatan pengelolaan emisi, serta evaluasi berkelanjutan terhadap kinerja lingkungan di seluruh lini operasional. Setiap pencapaian pada tingkat fasilitas menjadi bagian dari proses untuk membangun fondasi transisi yang lebih luas dan terukur.

Vice President Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, menyampaikan bahwa pencapaian The Telkom Hub membuktikan dekarbonisasi dapat diterapkan secara nyata dalam operasional perusahaan. Menurutnya, status net zero untuk cakupan 1 dan 2 merupakan milestone penting dalam upaya dekarbonisasi TelkomGroup karena memperlihatkan adanya kemajuan konkret dalam mengendalikan emisi yang berasal dari kegiatan operasional langsung maupun konsumsi energi perusahaan.

Milestone tersebut juga memiliki arti strategis bagi perjalanan TelkomGroup menuju target 2060. Cakupan 1 mencerminkan emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan, sedangkan cakupan 2 berkaitan dengan emisi tidak langsung dari energi yang dibeli. Dengan mencapai net zero pada kedua cakupan itu di The Telkom Hub, TelkomGroup memperoleh pengalaman implementasi, pembelajaran teknis, dan acuan pengelolaan yang dapat mendukung penerapan solusi serupa pada fasilitas lainnya. Pendekatan bertahap ini memungkinkan setiap inisiatif dievaluasi berdasarkan dampak, kesiapan teknologi, serta kontribusinya terhadap sasaran penurunan emisi secara keseluruhan.

Telkom bersama anak usahanya, NeutraDC, mengambil langkah pengurangan emisi melalui pembelian Renewable Energy Certificate (REC) berbasis pembangkit listrik tenaga air. Pengadaan ini mencakup 45.407 unit REC yang merepresentasikan pemanfaatan energi terbarukan dari sumber pembangkit listrik tenaga air. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung operasional yang lebih rendah emisi sekaligus memperkuat penggunaan energi terbarukan dalam kegiatan bisnisnya.

REC merupakan instrumen berbasis pasar yang digunakan untuk mendukung pengakuan atas penggunaan energi terbarukan dalam perhitungan emisi. Dalam konteks Telkom dan NeutraDC, pembelian sertifikat tersebut diarahkan pada pengurangan potensi emisi tidak langsung dari konsumsi listrik. Pendekatan ini memungkinkan kontribusi energi terbarukan diperhitungkan dalam kategori emisi yang relevan, tanpa mengubah karakter pengukurannya sebagai emisi berbasis konsumsi energi listrik.

Berdasarkan proyeksi yang disampaikan, pembelian 45.407 unit REC tersebut diproyeksikan memangkas potensi emisi karbon cakupan 2 dengan metode market-based hingga 42.425,7 ton CO₂e. Angka ini menggambarkan potensi pengurangan emisi yang dapat diperhitungkan melalui instrumen tersebut, bukan angka realisasi pengurangan emisi secara mutlak. Karena itu, penyebutan hasilnya perlu tetap dibedakan proyeksi dampak dan capaian aktual.

Emisi cakupan 2 market-based merujuk pada emisi tidak langsung yang berkaitan dengan energi listrik yang dikonsumsi dan dihitung berdasarkan pilihan atau instrumen energi yang digunakan perusahaan. Dengan memanfaatkan REC berbasis tenaga air, Telkom dan NeutraDC menunjukkan dukungan terhadap transisi energi yang lebih bersih, sekaligus memperluas penerapan pendekatan berbasis pasar dalam pengelolaan emisi. Inisiatif ini melengkapi langkah perusahaan dalam mengurangi dampak lingkungan dari operasional pusat data dan kegiatan bisnis lainnya, dengan tetap menggunakan angka proyeksi secara akurat sebagai dasar penyampaian kinerja keberlanjutan.

The Telkom Hub menerapkan teknologi energi terbarukan dan pengelolaan gedung sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi operasional. Salah satu penerapannya terlihat melalui penggunaan 77 unit penerangan jalan umum tenaga surya (PJUTS) yang tersebar di kawasan tersebut. Fasilitas ini memanfaatkan energi matahari untuk memenuhi kebutuhan penerangan area luar, sehingga ketergantungan pada pasokan listrik konvensional dapat dikurangi.

Pengoperasian PJUTS memberikan dampak langsung terhadap konsumsi energi di lingkungan The Telkom Hub. Berdasarkan pengelolaan yang diterapkan, penggunaan 77 unit penerangan tenaga surya tersebut mampu menghemat konsumsi listrik gedung Telkom Landmark Tower sebesar 20.235,6 kWh per tahun. Penghematan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber energi terbarukan tidak hanya mendukung penggunaan energi yang lebih bersih, tetapi juga dapat meningkatkan efisiensi kebutuhan listrik kawasan secara terukur.

Efisiensi juga diperkuat melalui penerapan building management system (BMS) di Telkom Landmark Tower. Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower, Suratman, menyampaikan bahwa sistem tersebut digunakan untuk memaksimalkan efisiensi konsumsi daya gedung. BMS membantu pengelola memantau serta mengatur berbagai sistem bangunan secara lebih terintegrasi, termasuk penggunaan energi untuk mendukung kegiatan operasional. Dengan pengelolaan berbasis data, konsumsi daya dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan ruang dan aktivitas gedung.

Kombinasi PJUTS dan building management system memperlihatkan pendekatan berlapis dalam pengelolaan energi di The Telkom Hub. Penerangan surya mengurangi kebutuhan listrik untuk fasilitas luar ruang, sedangkan sistem manajemen gedung mengoptimalkan pemakaian daya di dalam bangunan. Kedua langkah tersebut mendukung efisiensi energi sekaligus berkontribusi pada dekarbonisasi operasional melalui pengurangan konsumsi listrik dan pemanfaatan sumber energi terbarukan.