Kabupaten Bekasi | Shin Tae-yong menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak pemain muda dengan bakat sepak bola yang menjanjikan. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang secara maksimal tanpa dukungan pembinaan yang terarah dan berkelanjutan. Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri pembukaan BLiSPI Youth Cup V 2026 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu. Kehadirannya menjadi kesempatan untuk menyoroti pentingnya membangun lingkungan yang mampu membantu anak-anak berlatih, bertanding, dan meningkatkan kemampuan secara bertahap. Menurutnya, talenta merupakan modal awal, tetapi kemajuan pemain juga bergantung pada mutu latihan, pendampingan, serta konsistensi program pembinaan di berbagai daerah.
Perhatian khusus, menurut pandangan tersebut, perlu diberikan kepada kualitas pelatih yang menangani pemain usia dini. Pelatih bukan hanya mengajarkan teknik dasar, tetapi turut membentuk pemahaman bermain, disiplin, kepercayaan diri, dan kecintaan anak terhadap sepak bola. Karena itu, peningkatan kemampuan pelatih perlu berjalan seiring dengan pengembangan pemain. Pembinaan yang baik membutuhkan metode latihan yang sesuai dengan tahap pertumbuhan, kesempatan belajar yang cukup, serta pendekatan yang mendorong pemain berkembang tanpa mengabaikan aspek pendidikan dan karakter. Dengan dukungan pelatih yang kompeten, potensi anak-anak dapat diasah lebih sistematis dan mereka memiliki fondasi yang lebih kuat untuk melangkah ke tingkat kompetisi berikutnya.
Shin juga melihat turnamen kelompok umur seperti BLiSPI Youth Cup sebagai bagian yang dapat membantu pengembangan sepak bola nasional. Kompetisi memberi pemain muda ruang untuk menerapkan hasil latihan, menghadapi lawan dengan kemampuan berbeda, dan memperoleh pengalaman bertanding. Pengalaman tersebut dapat membantu mereka memahami permainan dalam situasi nyata, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pelatih untuk mengetahui aspek yang masih perlu diperbaiki. Agar manfaatnya berkelanjutan, turnamen sebaiknya terhubung dengan program pembinaan yang konsisten, bukan berdiri sebagai kegiatan sesaat. Penyelenggaraan kompetisi usia dini yang tertata, disertai pendampingan berkualitas, dapat memperluas kesempatan bagi talenta dari berbagai wilayah untuk berkembang. Dengan demikian, banyaknya pemain berbakat di Indonesia dapat ditopang jalur pengembangan yang jelas dan menjadi kekuatan bagi masa depan sepak bola nasional.
Menurut Shin Tae-yong, pemain muda berbakat merupakan modal penting bagi masa depan sepak bola Indonesia. Namun, keberadaan talenta saja belum cukup untuk mendorong kemajuan. Mereka membutuhkan pelatih yang mampu mengenali potensi, menyusun tahapan latihan sesuai kebutuhan, serta memberi arahan yang konsisten. Pendampingan semacam ini membantu pemain mengembangkan kemampuan teknis, pemahaman taktik, kondisi fisik, dan kesiapan mental secara seimbang. Tanpa bimbingan yang tepat, bakat berisiko tidak berkembang optimal atau terhambat oleh pola latihan yang tidak sesuai usia dan kapasitas. Karena itu, peran pelatih tidak sebatas menyampaikan instruksi di lapangan, tetapi juga menilai perkembangan pemain dan menyesuaikan pendekatan secara terukur.
Bagi Shin, pembinaan yang terarah perlu didukung perencanaan jangka panjang. Pelatih harus memiliki pengetahuan dan kompetensi untuk menetapkan sasaran yang realistis, memantau kemajuan, serta memberikan evaluasi berkala. Dengan cara ini, proses latihan tidak hanya berorientasi pada hasil pertandingan sesaat, melainkan pada pembentukan pemain yang siap bersaing dan terus belajar. Pendekatan terukur juga memungkinkan klub, akademi, dan federasi memahami kebutuhan setiap kelompok usia. Ketika program diselaraskan, pemain memperoleh jalur perkembangan yang lebih jelas, sementara pelatih dapat bekerja dengan standar yang konsisten. Hal ini penting agar pembinaan tidak bergantung pada individu atau berlangsung secara sporadis, tetapi menjadi bagian dari sistem sepak bola yang terencana.
Pandangan tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan membangun fondasi sepak bola nasional yang kuat. Fondasi itu mencakup kualitas pelatih, akses terhadap latihan yang baik, kompetisi berjenjang, serta kesinambungan pembinaan usia muda dan level senior. Jika unsur tersebut berjalan searah, talenta dapat berkembang tanpa kehilangan dukungan ketika berpindah tahap. Shin menekankan pentingnya memastikan pembinaan berlangsung berkelanjutan, bukan hanya melalui program jangka pendek yang terputus setelah satu periode. Sistem yang tersusun baik dapat memberi arah yang jelas bagi semua pihak dan mendorong perkembangan sepak bola Indonesia. Dengan demikian, investasi pada pelatih dan pendampingan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan mutu pemain serta daya saing tim nasional dalam jangka panjang.
Shin Tae-yong menyoroti pentingnya melibatkan mantan pemain nasional dalam pendidikan dan pembinaan talenta usia dini. Menurutnya, pengalaman yang dimiliki para pemain tersebut dapat menjadi bekal berharga ketika mendampingi anak-anak yang baru mengenal sepak bola. Mereka memahami tuntutan permainan, disiplin latihan, serta perjalanan panjang yang dibutuhkan untuk berkembang. Pengetahuan itu dapat disampaikan secara dekat dan relevan kepada generasi muda, sekaligus membantu mereka membangun pemahaman yang kuat sejak awal. Keterlibatan mantan pemain bukan sekadar menghadirkan nama besar, melainkan memanfaatkan pengalaman untuk menumbuhkan pemain dengan dasar teknik, sikap, dan pemahaman permainan yang lebih baik.
Peran para legenda juga dapat memberi teladan nyata bagi calon pemain. Kisah dan pengalaman mereka menunjukkan bahwa kemajuan dalam sepak bola membutuhkan proses, ketekunan, serta kesediaan untuk terus belajar. Dalam pembinaan usia dini, contoh tersebut dapat membantu anak memahami nilai-nilai yang menyertai latihan, bukan hanya berfokus pada hasil pertandingan. Shin memandang kontribusi mantan pemain nasional sebagai bagian penting dari upaya memperkokoh fondasi sepak bola Indonesia. Dengan keterlibatan mereka dalam mendidik generasi penerus, pengetahuan tentang permainan dan pengalaman di tingkat nasional dapat diteruskan kepada talenta muda, sehingga proses pembinaan memiliki pijakan yang lebih kuat dan berkesinambungan.
Shin turut menyampaikan apresiasi atas dukungan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin terhadap pengembangan sepak bola usia muda. Dukungan tersebut dinilai penting karena perhatian terhadap talenta muda sejalan dengan kebutuhan membangun fondasi olahraga sejak dini. Apresiasi itu juga menegaskan bahwa pembinaan pemain muda memerlukan kepedulian dan dukungan dari berbagai pihak. Tanpa menambahkan bentuk dukungan tertentu, Shin menempatkan perhatian Sultan terhadap pengembangan usia muda sebagai hal yang patut dihargai. Sorotan pada peran legenda dan dukungan tersebut sama-sama mengarah pada pentingnya memberi ruang bagi generasi penerus untuk belajar dan berkembang. Pembinaan yang melibatkan pengalaman, teladan, serta perhatian terhadap usia muda dapat membantu sepak bola Indonesia menyiapkan fondasi yang kokoh bagi kemajuan di masa mendatang.
Kesediaan Shin Tae-yong untuk terlibat dalam pengembangan pemain muda menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola membutuhkan lebih dari sekadar kompetisi. Talenta yang terlihat di lapangan perlu memperoleh pendampingan, arahan, dan lingkungan latihan yang membantu mereka berkembang secara bertahap. Pengalaman Shin dalam menangani pemain di berbagai level dapat menjadi bekal berharga untuk memberikan masukan tentang teknik, disiplin, pemahaman permainan, serta kesiapan menghadapi tantangan yang lebih tinggi. Pendekatan berkelanjutan juga memberi ruang bagi pemain muda untuk belajar dari proses, bukan hanya mengejar hasil dalam satu turnamen.
Salah satu bentuk dukungan yang disorot ialah kesempatan bagi 18 pemain terbaik turnamen untuk berlatih di Korea Selatan. Program tersebut dapat membuka pengalaman baru bagi para pemain, mulai dari mengenal standar latihan yang berbeda hingga beradaptasi dengan intensitas dan pola pembinaan di lingkungan sepak bola lain. Kesempatan ini juga berpotensi memperluas wawasan mereka tentang profesionalisme, kerja sama tim, dan konsistensi. Agar manfaatnya bertahan, pengalaman latihan perlu diikuti evaluasi dan pendampingan setelah para pemain kembali, sehingga pelajaran yang diperoleh dapat diterapkan dalam perkembangan mereka berikutnya.
BLiSPI Youth Cup V 2026 digagas oleh Badan Liga Sepak Bola.
Baca juga: Pembangunan Jembatan Armco Dikerjakan TNI Terus Berlanjut, Progres Pembangunan Semakin Menunjukkan Kemajuan | Inisiatif Net Zero Emisi Telkom: Langkah Menuju Lanskap Energi Berkelanjutan di Indonesia






