Rumah di Tambora Terbakar Saat Pemilik Menjenguk Anak yang Sakit di Jawa

Rumah di Tambora Terbakar Saat Pemilik Menjenguk Anak yang Sakit di Jawa

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Sebuah rumah di Jalan Stasiun Angke, RT 14/RW 04, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, terbakar pada Sabtu. Saat kebakaran terjadi, bangunan tersebut dalam keadaan ditinggal oleh pemiliknya. Pemilik rumah sedang berada di luar kota untuk menjenguk anaknya yang sakit.

Peristiwa itu membuat rumah yang berada di kawasan permukiman tersebut menjadi perhatian warga sekitar. Kondisi rumah yang tidak ditempati pemilik ketika insiden berlangsung menyebabkan informasi awal mengenai kejadian diterima dari lingkungan setempat. Kebakaran kemudian menjadi peristiwa yang menonjol di wilayah Jembatan Lima pada Sabtu.

Rumah tersebut berada di kawasan Jalan Stasiun Angke, yang termasuk wilayah administratif Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora. Tidak berada di lokasi, pemilik rumah tengah menjalankan keperluan keluarga di luar kota, yakni menjenguk anaknya yang sedang sakit. Karena itu, saat bangunan terbakar, tidak ada pemilik yang berada di dalam rumah untuk memberikan keterangan langsung mengenai kondisi awal insiden.

Kebakaran ini menempatkan perhatian pada keadaan bangunan saat ditinggalkan dan penanganan terhadap rumah yang berada di lingkungan padat penduduk. Namun, informasi mengenai penyebab kebakaran maupun rincian lain terkait peristiwa tersebut belum disampaikan. Kejadian itu tercatat sebagai kebakaran rumah di wilayah Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, ketika pemiliknya sedang berada di luar kota untuk menemui anak yang sakit.

Hendro, keponakan pemilik rumah, menyampaikan bahwa bangunan yang terbakar tersebut merupakan rumah milik encing-nya. Saat kebakaran terjadi, pemilik rumah sedang tidak berada di Tambora karena tengah berada di Jawa. Keterangan itu menjadi informasi penting untuk menjelaskan kondisi rumah yang berada dalam keadaan ditinggal ketika insiden berlangsung.

Menurut Hendro, pemilik pergi ke Jawa untuk menjenguk anaknya yang sedang sakit. Anak tersebut bersekolah di Jawa, sehingga pemilik memilih mendatangi lokasi itu untuk melihat dan merawatnya. Kepergian tersebut bukan untuk meninggalkan rumah dalam waktu yang tidak jelas, melainkan berkaitan dengan kondisi kesehatan anak yang memerlukan perhatian keluarga.

Dengan demikian, rumah berada dalam keadaan kosong pada saat pemilik sedang menjalankan keperluan keluarga di luar kota. Hendro menegaskan hubungan keluarganya sebagai keponakan pemilik serta menyebut bahwa rumah itu adalah milik encing-nya. Informasi mengenai keberadaan pemilik di Jawa dan alasan kepergiannya disampaikan sebagai konteks mengenai mengapa tidak ada pemilik di lokasi ketika kebakaran terjadi. Keterangan tersebut juga memperjelas bahwa pemilik tidak sedang berada di rumah saat peristiwa berlangsung, karena sedang menjenguk anak yang sakit di Jawa.

Hendro menuturkan bahwa kebakaran di rumah tersebut bermula ketika asap tiba-tiba terlihat. Pada saat itu, ia berada di bagian bawah rumah dan tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab munculnya asap. Situasi kemudian berubah dengan cepat setelah asap tersebut disusul kobaran api.

Menurut kesaksiannya, ia tidak melihat secara jelas dari mana api pertama kali berasal. Hendro hanya mengetahui bahwa kepulan asap muncul secara mendadak, lalu api terlihat membesar. Kesaksian itu menggambarkan kondisi awal kejadian sebagaimana yang ia saksikan, tanpa memberikan kepastian mengenai titik awal maupun faktor pemicu kebakaran.

Hendro juga tidak menyampaikan dugaan tertentu terkait sumber api. Ia mengaku belum mengetahui penyebab kebakaran karena peristiwa tersebut berlangsung tiba-tiba. Keterangan mengenai asap dan kobaran api itu menjadi bagian dari informasi awal yang disampaikan setelah kejadian, sementara penjelasan lebih lanjut masih menunggu pemeriksaan serta keterangan resmi dari pihak berwenang.

Posisi Hendro yang berada di bagian bawah rumah ketika asap terlihat menjadi konteks penting dalam kesaksiannya. Dari tempat tersebut, ia mengetahui adanya perubahan keadaan setelah asap muncul dan kemudian api terlihat. Namun, keterangannya tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan sumber api atau menyimpulkan penyebab kebakaran. Penentuan penyebab tetap memerlukan pemeriksaan di lokasi dan informasi resmi dari instansi terkait.

Penanganan kebakaran di sebuah rumah di Tambora, Jakarta Barat, dilakukan setelah petugas menerima laporan mengenai kobaran api pada sekitar pukul 11.46 WIB. Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Barat, Syaiful Kahfi, menjelaskan bahwa informasi awal berasal dari seorang warga yang melihat api muncul di salah satu rumah tetangganya.

Setelah menyaksikan kejadian tersebut, warga segera melaporkannya kepada ketua RT setempat. Laporan itu kemudian diteruskan kepada Satgas Gulkarmat Jembatan Lima untuk meminta bantuan pemadaman. Langkah cepat dari warga dan pengurus lingkungan tersebut memungkinkan petugas segera mendapatkan informasi mengenai lokasi kejadian serta mengerahkan sumber daya yang diperlukan.

Sebanyak 18 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi dengan kekuatan 90 personel. Tim pemadam menjalankan penanganan sesuai prosedur untuk mengendalikan kobaran api dan mencegah penyebaran ke bangunan di sekitarnya. Pengerahan personel dalam jumlah besar dilakukan untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus memastikan kondisi di sekitar bangunan tetap dapat dipantau selama operasi berlangsung.

Kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Namun, peristiwa itu berdampak terhadap dua kepala keluarga yang terdiri atas empat jiwa. Mereka kehilangan tempat tinggal akibat rumah yang terdampak kebakaran. Data tersebut menjadi dampak yang telah terkonfirmasi dalam kejadian ini, sementara proses penanganan di lapangan difokuskan pada pemadaman dan pengamanan area sekitar.