Penelusuran Video AI yang Mengatasnamakan Thomas Djiwandono dan Bantuan Hibah

Penelusuran Video AI yang Mengatasnamakan Thomas Djiwandono dan Bantuan Hibah

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Sebuah video yang mengatasnamakan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono beredar di media sosial dan memuat klaim mengenai pengumuman bantuan dana hibah bagi masyarakat. Unggahan tersebut muncul di salah satu akun Facebook pada 30 September 2026. Video itu menampilkan sosok yang tampak menyampaikan informasi kepada masyarakat terkait adanya bantuan yang dapat diajukan oleh warga.

Dalam video tersebut, masyarakat diajak untuk segera mendaftarkan diri sebagai penerima bantuan. Pendaftaran disebut memerlukan keterangan mengenai usia dan asal daerah calon penerima. Informasi itu disampaikan sebagai bagian dari proses pengajuan dana hibah yang ditawarkan melalui unggahan tersebut.

Video itu juga memuat klaim bahwa dana bantuan dapat dicairkan pada hari yang sama setelah proses pendaftaran dilakukan. Pernyataan tersebut disampaikan bersama ajakan kepada warga yang berminat untuk mengikuti arahan yang tercantum dalam video dan unggahan pendampingnya.

Tulisan yang menyertai video menyebutkan adanya bantuan bagi warga berusia 27 hingga 80 tahun. Keterangan tersebut ditujukan kepada masyarakat dalam rentang usia itu dan disertai ajakan untuk menghubungi nomor WhatsApp yang tercantum pada unggahan. Dengan demikian, materi yang beredar memuat sosok yang tampak menyampaikan pengumuman, ajakan melakukan pendaftaran segera, permintaan informasi usia serta asal daerah, dan klaim mengenai pencairan dana pada hari yang sama.

Pemeriksaan terhadap video yang beredar dilakukan untuk menilai keasliannya, khususnya karena materi tersebut mengatasnamakan Thomas Djiwandono dan memuat informasi mengenai bantuan hibah. Penelusuran ini menggunakan perangkat pendeteksi konten berbasis kecerdasan buatan yang tersedia melalui situs Hive Moderation. Analisis tersebut memberikan gambaran berbasis sistem mengenai kemungkinan video dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi AI.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pada materi visual, video tersebut dinilai memiliki kemungkinan sebesar 68,5 persen dibuat dengan AI. Angka ini menunjukkan tingkat kemungkinan yang teridentifikasi oleh perangkat pendeteksi terhadap unsur visual dalam video. Hasil tersebut digunakan sebagai salah satu dasar untuk memeriksa apakah materi yang beredar dapat dipandang sebagai rekaman autentik atau perlu dipertanyakan keasliannya.

Pemeriksaan juga dilakukan terhadap bagian audio atau suara yang menyertai video. Pada unsur ini, perangkat Hive Moderation menunjukkan kemungkinan sebesar 99,3 persen bahwa audio dibuat dengan AI. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan hasil analisis terhadap keseluruhan unsur visual, sehingga bagian suara menjadi temuan penting dalam penelusuran materi yang beredar.

Hasil analisis visual dan audio tersebut menjadi dasar pemeriksaan terhadap keaslian video. Temuan ini menyajikan indikasi teknis mengenai kemungkinan penggunaan AI pada materi tersebut, bukan penetapan mengenai pihak yang membuat, menyebarkan, atau mengubahnya. Oleh karena itu, angka 68,5 persen untuk video dan 99,3 persen untuk audio dicatat sebagai hasil pemeriksaan menggunakan Hive Moderation, tanpa mengaitkannya dengan pelaku tertentu. Penilaian ini juga tidak mengubah isi klaim dalam video, melainkan berfokus pada karakteristik materi yang dianalisis oleh perangkat pendeteksi konten AI.

Penelusuran lanjutan melalui Google Image menemukan materi visual dengan klaim yang identik. Hasil pencarian tersebut mengarahkan pada rekaman yang berkaitan dengan kehadiran Thomas Djiwandono dalam acara Indonesia Data and Economic (IDE) Katadata 2025: Data for Growth. Kegiatan itu berlangsung di Jakarta pada Selasa, 18 Februari 2025. Temuan ini menunjukkan bahwa visual dalam video yang beredar kemungkinan diambil dari dokumentasi acara tersebut, bukan dari peristiwa yang secara khusus membahas bantuan hibah sebagaimana diklaim dalam narasi yang menyertainya.

Dalam forum itu, Thomas membahas ketangguhan ekonomi Indonesia jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Ia juga menyoroti perkembangan kelas menengah nasional. Berdasarkan paparan yang dikutip dalam materi acara, proporsi kelas menengah turun dari 17,24 persen pada 2014 menjadi 17,13 persen pada 2024. Angka tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai tantangan ekonomi dan pentingnya memperkuat daya beli serta kapasitas masyarakat agar pertumbuhan dapat dirasakan secara lebih luas.

Kutipan dari akun YouTube Katadata Indonesia juga memperlihatkan bahwa Thomas menyampaikan sikap optimistis terhadap pertumbuhan kelompok kelas menengah melalui kebijakan pemerintah. Ia menyebut adanya target agar kelas menengah mencakup 70 persen populasi pada 2045. Sasaran tersebut dikaitkan dengan upaya mendukung visi Indonesia menjadi negara maju, termasuk pencapaian pendapatan per kapita sebesar US$30.300. Dengan demikian, konteks asli video berfokus pada kondisi ekonomi, kebijakan pembangunan, dan prospek kelas menengah. Hasil penelusuran visual tidak menunjukkan hubungan langsung rekaman acara tersebut dan pernyataan mengenai bantuan hibah. Oleh karena itu, klaim yang mengaitkan video dengan isu hibah perlu dipisahkan dari isi pembicaraan Thomas dalam acara IDE Katadata 2025.

Penelusuran terhadap kegiatan yang menampilkan Thomas Djiwandono dalam acara Katadata menunjukkan bahwa isi pernyataan aslinya tidak berkaitan dengan pengumuman bantuan dana hibah sebagaimana narasi pada video yang beredar. Berdasarkan informasi yang dimuat di situs Kementerian Keuangan, pembahasan dalam acara tersebut berfokus pada program unggulan pemerintah untuk memperkuat daya saing nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Materi yang tersedia tidak menunjukkan adanya penyampaian mengenai pembagian hibah, pendaftaran bantuan, maupun mekanisme pencairan dana kepada publik.

Program yang disampaikan mencakup sejumlah bidang prioritas. Salah satunya adalah penguatan sumber daya manusia agar masyarakat memiliki kapasitas yang lebih baik dalam menghadapi perubahan ekonomi. Pemerintah juga menempatkan perlindungan sosial sebagai bagian penting untuk menjaga kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan. Selain itu, terdapat pembahasan mengenai ketahanan pangan dan energi, serta upaya menjaga stabilitas ketahanan dan pertahanan negara. Rangkaian topik tersebut memiliki konteks kebijakan yang luas dan berbeda dari klaim tentang bantuan hibah langsung yang ditempelkan pada video.

Perbedaan isi acara dan narasi video menjadi hal penting dalam menilai keakuratan informasi. Visual yang digunakan dalam video tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa Thomas Djiwandono pernah mengumumkan program hibah, terutama ketika keterangan resmi mengenai kegiatan tersebut tidak memuat pernyataan semacam itu. Hasil penelusuran juga mengindikasikan bahwa video telah menggunakan konten berbasis AI, sementara visualnya berasal dari kegiatan lain dan kemudian diberi narasi yang tidak sesuai dengan konteks aslinya. Dengan demikian, materi tersebut tidak mendukung klaim adanya pengumuman bantuan dana hibah dalam acara Katadata yang dimaksud.