Kabupaten Probolinggo. Munawi | Jumlah petugas dan relawan satuan tugas kebakaran hutan dan lahan yang meninggal setelah insiden di Bukit Mentigen bertambah menjadi lima orang. Korban terbaru adalah Munawi, warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Ia meninggal pada Senin sore, 19 Oktober 2026, setelah menjalani perawatan medis intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, akibat luka bakar parah.
Kabar meninggalnya Munawi menambah jumlah korban jiwa dalam insiden tersebut. Sebelumnya, empat petugas dan relawan satgas kebakaran hutan dan lahan telah meninggal. Dengan bertambahnya satu korban, total orang yang meninggal dunia menjadi lima. Munawi tercatat sebagai korban terbaru dalam rangkaian peristiwa yang terjadi di Bukit Mentigen.
Munawi menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo sebelum dinyatakan meninggal. Ia dirawat setelah mengalami luka bakar parah. Perawatan medis tersebut berlangsung hingga Senin sore, 19 Oktober 2026. Setelah itu, jumlah korban meninggal akibat insiden Bukit Mentigen diperbarui menjadi lima orang, terdiri atas petugas dan relawan satgas kebakaran hutan dan lahan.
Munawi berasal dari Desa Ngadirejo, yang berada di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Identitas dan asal daerahnya menjadi keterangan yang menyertai kabar duka tersebut. Informasi yang disampaikan mengenai korban terbaru ini mencakup nama, tempat tinggal, waktu meninggal, rumah sakit tempat ia dirawat, serta kondisi luka bakar yang dialaminya. Munawi meninggal setelah memperoleh perawatan medis intensif di Surabaya.
Penambahan jumlah korban menjadi lima menandai perkembangan terbaru dari insiden di Bukit Mentigen. Munawi merupakan orang kelima yang meninggal dalam peristiwa tersebut, setelah empat petugas dan relawan lainnya. Ia meninggal pada Senin sore setelah dirawat di RSUD Dr. Soetomo. Kabar ini memastikan jumlah korban jiwa yang dilaporkan telah bertambah menjadi lima orang, termasuk Munawi, warga Kabupaten Probolinggo.
Insiden kebakaran di Bukit Mentigen, kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, bermula ketika enam anggota tim pemadam terjebak kepungan api. Mereka berada di lokasi dalam upaya menangani kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di kawasan tersebut. Peristiwa itu berlangsung pada Kamis sebelumnya. Informasi yang tersedia menegaskan bahwa para anggota tim sedang berjuang memadamkan api ketika kobaran mengepung mereka. Dengan demikian, kejadian ini berkaitan langsung dengan usaha penanganan kebakaran, bukan kegiatan lain di sekitar Bukit Mentigen. Enam orang tersebut terjebak saat menjalankan tugas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan taman nasional itu. Keterangan mengenai insiden ini menjadi bagian penting dari laporan korban jiwa yang terus bertambah. Namun, informasi yang disampaikan tetap terbatas pada jumlah anggota tim, upaya pemadaman, lokasi umum, serta hari terjadinya peristiwa. Tidak ada rincian tambahan mengenai bagaimana mereka mulai terjebak atau susunan tim saat itu.
Keterangan tersebut menggambarkan bahwa pekerjaan pemadaman berlangsung di tengah kobaran api yang mengepung anggota tim. Mereka sedang berusaha mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Bukit Mentigen ketika situasi itu terjadi. Penyebutan enam anggota tim menunjukkan jumlah orang yang terdampak oleh kepungan api, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan keadaan masing-masing. Karena itu, laporan ini tidak menetapkan urutan kejadian yang lebih rinci, termasuk bagaimana api bergerak atau tindakan tertentu yang dilakukan tim sebelum terjebak. Peristiwa pada Kamis sebelumnya menjadi titik waktu yang disebutkan dalam informasi mengenai insiden tersebut. Bukit Mentigen berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, sebagaimana tercantum dalam keterangan kejadian. Fokus utama informasi adalah bahwa para anggota tim pemadam menghadapi kepungan api ketika menjalankan upaya penanganan kebakaran. Fakta itu perlu disampaikan dengan cermat, tanpa menambahkan dugaan tentang kondisi lapangan, jalur penyelamatan, atau keadaan cuaca yang tidak dijelaskan.
Dalam pemberitaan mengenai kebakaran ini, penting membedakan fakta yang telah disebutkan dari rincian yang belum tersedia. Fakta yang disampaikan ialah enam anggota tim terjebak kepungan api saat berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Bukit Mentigen, kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Insiden itu terjadi pada Kamis sebelumnya. Keterangan tersebut menjelaskan konteks awal peristiwa, tetapi tidak memberikan informasi tentang durasi operasi, peralatan yang digunakan, lokasi persis para anggota, maupun kondisi mereka pada saat terjebak. Tanpa keterangan yang terverifikasi mengenai hal-hal tersebut, rincian itu tidak dapat dipastikan. Penyampaian yang terbatas pada fakta membantu pembaca memahami hubungan tugas pemadaman dan kepungan api tanpa menciptakan gambaran yang tidak didukung informasi. Peristiwa ini menjadi bagian dari perkembangan laporan kebakaran Bukit Mentigen, sementara penjelasan yang tersedia tetap menempatkan usaha pemadaman sebagai latar utama insiden yang melibatkan enam anggota tim tersebut.
Lima orang meninggal dalam kebakaran yang terjadi di kawasan Bromo, Bukit Mentigen. Rincian mengenai para korban mencakup nama dan lokasi mereka mengembuskan napas terakhir. Tiga korban, yakni Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, dan Sefril Ardiansyah, meninggal di tempat kejadian perkara. Ketiganya dinyatakan meninggal di lokasi kebakaran, berdasarkan informasi yang disampaikan mengenai peristiwa tersebut. Sementara itu, dua korban lainnya sempat mendapatkan penanganan dan perawatan di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.
Hendra meninggal saat mendapat penanganan di RSUD Tongas, Probolinggo. Ia menjadi korban keempat yang meninggal dalam peristiwa kebakaran tersebut. Korban kelima adalah Munawi, yang meninggal saat dirawat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Dengan demikian, lokasi meninggalnya para korban berbeda-beda: tiga orang di tempat kejadian perkara, satu orang di RSUD Tongas, dan satu orang di RSUD Dr. Soetomo. Informasi ini menunjukkan bahwa sebagian korban meninggal di lokasi, sedangkan lainnya sempat menjalani penanganan medis di rumah sakit.
Nama-nama korban yang meninggal adalah Sukaris, Wisnu Yuda Pratama, Sefril Ardiansyah, Hendra, dan Munawi. Tiga nama pertama tercatat meninggal di tempat kejadian perkara, sementara Hendra meninggal ketika mendapat penanganan di RSUD Tongas, Probolinggo. Munawi meninggal ketika menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Dengan meninggalnya Munawi, jumlah korban jiwa dalam kebakaran di kawasan Bromo bertambah menjadi lima orang. Rincian tersebut menegaskan jumlah akhir korban meninggal serta rumah sakit tempat dua korban terakhir mendapatkan pertolongan sebelum meninggal. Penyebutan nama dan lokasi ini membantu memberikan gambaran yang jelas tentang dampak kebakaran, tanpa mengubah keterangan mengenai tempat meninggal masing-masing korban. Hingga jumlah korban jiwa mencapai lima orang, perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari laporan mengenai kebakaran Bukit Mentigen.Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Syarif, membenarkan bahwa jumlah korban meninggal dalam kebakaran di Bukit Mentigen bertambah. Keterangan tersebut menyampaikan perkembangan mengenai korban jiwa sekaligus kondisi luka bakar yang dialami Munawi dan seorang korban yang selamat, Suraji. Informasi mengenai jumlah korban meninggal dan tingkat luka itu disampaikan dengan merujuk pada penjelasan Oemar, sebagaimana disampaikan oleh pihak BPBD Kabupaten Probolinggo.
Menurut Oemar Syarif, Munawi dan Suraji mengalami luka bakar serius. Tingkat luka bakar pada keduanya disebut berada pada kisaran 40 hingga 50 persen. Suraji disebut sebagai salah satu korban yang selamat, sedangkan keterangan mengenai luka bakar tersebut mencakup Munawi dan Suraji. Angka persentase itu menggambarkan tingkat luka yang disampaikan dalam keterangan Oemar, tanpa memberikan rincian tambahan mengenai penanganan atau perkembangan kondisi mereka.
Pernyataan Oemar menegaskan dua informasi utama terkait peristiwa tersebut: bertambahnya korban meninggal dan adanya korban dengan luka bakar serius. BPBD Kabupaten Probolinggo, melalui kepala pelaksananya, membenarkan perkembangan jumlah korban jiwa.
Baca juga: Relawan Pemadam Kebakaran Hadapi Tantangan Kebakaran di Jakarta | Kecelakaan Tragis di Perlintasan Kereta Api, Sopir Angkutan Ayam Menjadi Korban | Peran Relawan Pemadam Kebakaran di Tengah Musim Kemarau






