Jakarta | Kementerian Kesehatan menetapkan sasaran perluasan operasi katarak dengan mengacu pada cataract surgical rate (CSR), yaitu jumlah tindakan operasi katarak per satu juta penduduk dalam satu tahun. Targetnya adalah mencapai sedikitnya 3.000 operasi per satu juta penduduk setiap tahun. Angka ini menjadi ukuran kapasitas layanan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, bukan penanda bahwa target tersebut telah tercapai. Pencapaian sasaran memerlukan ketersediaan tenaga kesehatan terlatih, fasilitas operasi yang memadai, peralatan, serta sistem rujukan yang dapat menghubungkan pasien dengan layanan secara tepat waktu. Perencanaan juga perlu memperhatikan perbedaan kebutuhan dan akses di berbagai wilayah.
Selain meningkatkan jumlah tindakan, pemerintah menargetkan layanan dapat menjangkau 80 persen penderita katarak dengan kondisi sedang hingga berat. Cakupan ini penting karena gangguan penglihatan yang tidak ditangani dapat membatasi aktivitas sehari-hari, mengurangi kemandirian, dan meningkatkan risiko kecelakaan. Untuk memperluas jangkauan, upaya dapat mencakup deteksi kasus di tingkat masyarakat, pemeriksaan mata, pemberian informasi mengenai katarak, dan rujukan ke fasilitas yang mampu melakukan operasi. Hambatan seperti jarak, biaya tidak langsung, keterbatasan informasi, atau kekhawatiran terhadap prosedur perlu dikenali agar pasien yang membutuhkan tidak tertinggal. Sasaran cakupan tersebut tetap merupakan tujuan yang perlu diupayakan secara berkelanjutan.
Mutu hasil operasi juga menjadi bagian dari target. Sedikitnya 80 persen pasien setelah menjalani operasi diharapkan memperoleh pemulihan ketajaman penglihatan yang baik. Karena itu, keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya prosedur yang dilakukan; pemeriksaan sebelum operasi, ketepatan tindakan, perawatan lanjutan, dan evaluasi hasil penglihatan juga berperan. Pemantauan pasien membantu tenaga kesehatan mengenali komplikasi atau kebutuhan koreksi tambahan, sekaligus menyediakan data untuk memperbaiki layanan. Jika sasaran jumlah, cakupan, dan hasil klinis dapat dikejar bersama, layanan berpotensi menekan risiko kebutaan yang dapat dicegah serta membantu pasien kembali menjalankan kegiatan dengan lebih leluasa. Dengan demikian, target operasi katarak merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar capaian angka tahunan.
Dalam peringatan World Sight Day 2026 yang diselenggarakan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) di Jakarta pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menekankan bahwa kesehatan penglihatan berkaitan erat dengan kualitas hidup. Upaya mencegah dan menangani gangguan penglihatan, menurutnya, bukan sekadar layanan medis, melainkan investasi penting untuk meningkatkan angka harapan hidup sehat atau health-adjusted life expectancy (HALE).
HALE menggambarkan lamanya seseorang dapat hidup dalam keadaan sehat, tanpa kondisi kesehatan buruk atau disabilitas yang membatasi aktivitas. Ukuran ini melengkapi angka harapan hidup biasa: seseorang mungkin berumur panjang, tetapi tidak seluruh masa hidupnya dijalani dengan kondisi yang memungkinkan untuk beraktivitas secara mandiri. Karena itu, menjaga fungsi penglihatan dapat mendukung tahun-tahun kehidupan yang lebih sehat dan produktif.
Dante menjelaskan bahwa gangguan penglihatan, termasuk katarak, tidak secara langsung menyebabkan kematian. Namun, dampaknya terhadap keseharian dapat sangat besar. Penglihatan yang menurun dapat menyulitkan seseorang membaca, bergerak dengan aman, bekerja, belajar, maupun berinteraksi dengan orang lain. Hambatan tersebut berpotensi mengurangi kemandirian, mempersempit partisipasi sosial, dan menurunkan kesejahteraan, terutama bila kondisi dibiarkan tanpa pemeriksaan atau penanganan yang sesuai.
Dalam konteks tersebut, penanggulangan gangguan penglihatan perlu dipahami sebagai bagian dari agenda kesehatan yang berorientasi pada kualitas hidup, bukan hanya pencegahan kematian. Deteksi dini membantu mengenali masalah sebelum dampaknya semakin membatasi, sedangkan layanan yang tepat dapat membuka peluang untuk mempertahankan atau memulihkan fungsi penglihatan. Katarak, misalnya, dapat ditangani melalui operasi, sehingga akses terhadap pemeriksaan dan tindakan menjadi penting bagi pasien yang membutuhkan.
Peringatan World Sight Day juga memberi ruang untuk mengingatkan masyarakat dan penyedia layanan bahwa kesehatan mata memerlukan perhatian berkelanjutan. Dengan meningkatkan kesadaran, memperluas deteksi dini, dan memastikan penanganan tersedia, Indonesia dapat mendukung warga agar tidak hanya hidup lebih lama, tetapi juga menjalani lebih banyak tahun dengan penglihatan dan kemampuan beraktivitas yang terjaga. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan peningkatan HALE.
Komitmen Kementerian Kesehatan bersama Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) untuk mengurangi antrean operasi katarak menunjukkan bahwa penanganan gangguan penglihatan memerlukan perhatian berkelanjutan. Banyaknya pasien yang menunggu tindakan menjadi tantangan dalam memastikan kebutuhan layanan dapat dijangkau secara lebih luas. Karena itu, upaya mengurai antrean ditempatkan sebagai bagian penting dari agenda kesehatan mata, dengan perhatian pada akses terhadap tindakan yang diperlukan. Kerja bersama pemerintah dan organisasi profesi menegaskan pentingnya koordinasi untuk merespons kebutuhan tersebut. Fokusnya bukan hanya pada jumlah tindakan, tetapi juga pada terbukanya kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.
Pemerataan dokter spesialis mata merupakan unsur lain dalam komitmen tersebut. Ketersediaan tenaga spesialis yang lebih merata, termasuk hingga wilayah terpencil, penting agar akses terhadap layanan kesehatan mata tidak terkonsentrasi di tempat tertentu. Kebutuhan untuk memperluas jangkauan ini berkaitan dengan kemampuan masyarakat mendapatkan pemeriksaan maupun penanganan dari tenaga yang memiliki keahlian sesuai bidangnya. Pemerintah dan Perdami menempatkan pemerataan dokter sebagai bagian dari upaya merespons kesenjangan akses. Dengan perhatian terhadap distribusi tenaga spesialis, kesempatan memperoleh layanan dapat diperluas, terutama bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan jangkauan layanan kesehatan mata.
Pengurangan antrean operasi katarak dan pemerataan dokter spesialis mata saling mendukung dalam memperluas akses penanganan gangguan penglihatan. Keduanya menggambarkan upaya untuk memperhatikan kebutuhan pasien sekaligus memperkuat ketersediaan tenaga profesional yang dapat memberikan layanan. Pendekatan bersama pemerintah dan Perdami juga menempatkan kesehatan mata sebagai isu yang membutuhkan kerja sama lintas pihak. Perhatian pada katarak berjalan seiring dengan tujuan yang lebih luas, yakni membuka akses terhadap penanganan gangguan penglihatan. Dengan demikian, komitmen tersebut mencakup upaya merespons pasien yang menunggu tindakan serta mendorong ketersediaan dokter mata secara lebih merata, termasuk di wilayah terpencil, tanpa mengabaikan kebutuhan layanan kesehatan mata masyarakat.
Perluasan layanan kesehatan mata tidak hanya bergantung pada operasi katarak, tetapi juga pada kemampuan menemukan gangguan sejak tahap awal. Salah satu pemeriksaan yang dapat mendukung upaya tersebut adalah funduskopi atau oftalmoskopi. Dengan alat khusus, tenaga medis dapat melihat bagian dalam mata, terutama retina dan pembuluh darah, untuk mengenali tanda-tanda penyakit yang mungkin belum menimbulkan keluhan jelas. Pemeriksaan ini dapat membantu mengidentifikasi kondisi serius lebih cepat sehingga pasien bisa memperoleh penanganan atau rujukan yang sesuai.
Penguatan pemeriksaan di fasilitas kesehatan tingkat dasar berpotensi memperluas jangkauan deteksi dini. Menurut Dante, pemeriksaan mata oleh dokter umum dapat membantu menemukan lebih banyak kelainan mata di masyarakat. Pendekatan ini penting karena dokter umum kerap menjadi tenaga medis pertama yang ditemui pasien. Jika tersedia peralatan dan pelatihan yang memadai, mereka dapat melakukan pemeriksaan awal, mengenali temuan yang perlu ditindaklanjuti, lalu merujuk pasien kepada dokter mata. Dengan demikian, pemeriksaan tidak harus menunggu hingga gangguan penglihatan semakin berat atau pasien datang ke layanan spesialis.
Funduskopi juga dapat diterapkan dalam layanan yang berkaitan dengan penyakit kronis. Dante mencontohkan dokter endokrin yang melakukan pemeriksaan tersebut pada pasien diabetes. Dari pengamatan terhadap retina dan pembuluh darahnya, dokter dapat lebih dini menemukan tanda retinopati diabetik, yaitu kerusakan pembuluh darah retina sebagai komplikasi diabetes. Deteksi lebih awal memberi kesempatan untuk menilai kondisi pasien dan mengarahkan mereka ke tata laksana yang diperlukan sebelum kerusakan bertambah parah.
Baca juga: Perpanjangan Operasi Pencarian Korban KMP Virgo Transport-8 | Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Menyingkap Bedah Robotik: Peran Krusial Dokter dalam Proses Operasi






