Kota Tomohon | Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terjadi di wilayah di luar Pulau Jawa. Sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat juga dilaporkan terdampak. Gambaran ini menunjukkan bahwa karhutla telah menjangkau beragam wilayah, termasuk kawasan dataran tinggi di pulau yang kerap dipandang terpisah dari pemberitaan kebakaran di daerah lain. Sumber yang tersedia menyebut kebakaran semakin meluas di sejumlah wilayah Indonesia, tetapi tidak merinci seluruh lokasi maupun luas area yang terdampak.
Informasi mengenai kejadian di pegunungan Jawa memperluas pemahaman tentang sebaran karhutla. Wilayah terdampak tidak terbatas pada satu pulau atau satu jenis bentang alam. Kawasan pegunungan di tiga provinsi tersebut masuk dalam laporan, sehingga perhatian terhadap kebakaran perlu mencakup berbagai daerah di Indonesia. Namun, informasi yang disampaikan belum memberikan rincian khusus mengenai titik kejadian, waktu kebakaran, tingkat dampak, ataupun kondisi terkini di masing-masing lokasi. Karena itu, uraian tentang sebaran ini perlu dibatasi pada wilayah yang memang disebutkan.
Penyebutan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat juga menegaskan bahwa peristiwa karhutla di kawasan pegunungan merupakan bagian dari gambaran yang lebih luas. Sumber menyatakan bahwa kebakaran meluas di sejumlah wilayah Indonesia, tanpa menjelaskan penyebab atau perkembangan berikutnya. Dengan demikian, informasi yang dapat disampaikan adalah bahwa kebakaran tidak hanya berlangsung di luar Pulau Jawa dan telah dilaporkan pula di beberapa kawasan pegunungan pada tiga provinsi tersebut. Rincian lebih jauh mengenai skala, penanganan, maupun perubahan kondisi tidak tersedia dalam keterangan ini, sehingga tidak dapat dipastikan dari informasi yang ada.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terdapat 261 titik panas di sejumlah wilayah Jawa Timur yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di kawasan pegunungan. Dampak kebakaran tercatat mencapai 482 hektare lahan. Dari jumlah tersebut, api pada area seluas 223 hektare dilaporkan masih belum padam saat keterangan disampaikan. Data itu menunjukkan bahwa upaya penanganan masih diperlukan di beberapa lokasi, sementara kondisi di lapangan menjadi perhatian pihak terkait. Titik panas menjadi penanda adanya potensi kebakaran, sedangkan luas lahan terdampak menggambarkan area yang telah terkena api berdasarkan laporan BNPB.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan laporan tersebut dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui kanal YouTube BNPB pada Jumat (24/10/2026). Ia menyebut empat gunung di Jawa Timur yang dilaporkan terdampak kebakaran, yaitu Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Argopuro, Gunung Saeng, dan Gunung Bromo. Penyebutan lokasi itu memperlihatkan bahwa kejadian tidak terbatas pada satu kawasan pegunungan. Laporan mengenai titik panas dan luasan area terdampak menjadi dasar untuk memantau perkembangan serta kebutuhan penanganan di masing-masing gunung. Informasi tersebut disampaikan BNPB sebagai bagian dari pembaruan kondisi kebakaran.
Dalam keterangan yang sama, Berton juga menyampaikan kabar duka dari upaya pemadaman di Gunung Bromo. Lima orang, yang terdiri atas petugas dan relawan, meninggal dunia setelah terperangkap di kawasan tersebut ketika berupaya memadamkan api. Keterangan narasumber mengaitkan peristiwa itu dengan operasi penanganan kebakaran yang berlangsung di lokasi. Kejadian tersebut menegaskan besarnya risiko yang dihadapi personel saat bekerja di area terdampak, terutama ketika api dan kondisi medan membatasi pergerakan. BNPB menyampaikan informasi korban bersamaan dengan laporan mengenai luas lahan yang terbakar dan area yang masih belum padam. Perkembangan penanganan di empat gunung serta kondisi para petugas menjadi hal yang perlu terus dipantau melalui pembaruan resmi.Kebakaran hutan dan lahan juga terpantau di lereng Gunung Sumbing, Jawa Tengah, pada Rabu (21/10/2026). Api dilaporkan merembet dari wilayah Magelang menuju Temanggung, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa area hutan yang terdampak dapat meluas. Pergerakan api di kawasan pegunungan menjadi perhatian karena kondisi lereng dan tutupan vegetasi dapat membuat penanganan kebakaran semakin menantang. Informasi mengenai titik awal, luasan yang telah terbakar, serta perkembangan upaya pemadaman masih perlu dipastikan melalui laporan resmi dari petugas di lapangan. Meski demikian, laporan rambatan api lintas wilayah menunjukkan perlunya kewaspadaan di sekitar kawasan tersebut.
Warga dan pihak terkait di sekitar Gunung Sumbing perlu mengikuti informasi terkini serta arahan petugas, terutama apabila kondisi kebakaran berubah. Perkembangan arah angin, tingkat kekeringan vegetasi, dan akses menuju lokasi dapat memengaruhi penyebaran api maupun proses penanganannya. Karena itu, pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui apakah api mendekati kawasan hutan lain atau area yang digunakan masyarakat. Data terverifikasi mengenai luas terdampak juga penting untuk menilai skala kejadian dan menentukan kebutuhan penanganan. Sampai ada keterangan resmi yang lebih lengkap, laporan bahwa api bergerak dari Magelang ke Temanggung menjadi gambaran utama mengenai situasi di lereng Sumbing.
Kebakaran lain terdeteksi di Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat, pada Rabu (21/10/2026). Hingga Jumat (23/10/2026) siang, luas area yang terbakar belum dapat dipastikan karena api masih bergerak di lereng gunung. Situasi tersebut membuat batas dampak kebakaran belum bisa dihitung secara menyeluruh. Pemantauan perlu terus dilakukan agar pergerakan api dapat diketahui dan informasi mengenai kondisi kawasan dapat diperbarui. Taman nasional merupakan kawasan penting bagi ekosistem dan keanekaragaman hayati, sehingga kebakaran yang berlangsung di dalamnya berpotensi menimbulkan dampak yang perlu dievaluasi setelah api berhasil dikendalikan. Kepastian mengenai luasan terdampak dan langkah penanganan akan bergantung pada perkembangan di lapangan serta hasil pendataan petugas. Kedua kejadian ini memperlihatkan bahwa kebakaran di wilayah pegunungan memerlukan pengawasan dan informasi yang akurat.Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terjadi di wilayah dataran rendah, tetapi juga merambah kawasan pegunungan. Salah satu lokasi yang turut terdampak adalah Gunung Lokon, di Sulawesi Utara. Informasi yang dikutip dalam bahan sumber pada Selasa (13/10/2026) menyebutkan bahwa kebakaran telah meluas di kawasan gunung tersebut. Peristiwa ini menambah daftar wilayah pegunungan di Indonesia yang menghadapi karhutla, sekaligus memperlihatkan bahwa kejadian kebakaran dapat menjangkau kawasan dengan kondisi geografis yang berbeda. Gunung Lokon menjadi perhatian karena luasan area yang terbakar diperkirakan cukup besar dibandingkan total kawasan yang disebutkan dalam informasi tersebut.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan, area terdampak kebakaran di Gunung Lokon diperkirakan mencapai 300 hektare. Luasan itu merupakan bagian dari kawasan sekitar 700 hektare. Dengan demikian, hampir separuh dari total kawasan yang disebutkan telah terbakar, meskipun angka tersebut dinyatakan sebagai perkiraan. Perbandingan itu memberi gambaran mengenai skala karhutla yang terjadi di lokasi tersebut, tanpa mengubah status angka sebagai taksiran. Informasi yang tersedia menempatkan Gunung Lokon sebagai salah satu titik kebakaran di wilayah pegunungan yang perlu mendapat perhatian. Namun, rincian mengenai batas area terdampak maupun perubahan luasan dari waktu ke waktu tidak disampaikan dalam keterangan yang dirujuk.
Lokasi kebakaran di kawasan gunung juga menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak selalu berlangsung dalam kondisi yang mudah. Kawasan pegunungan dapat memiliki medan yang sulit dijangkau, sehingga akses menuju titik terdampak menjadi tantangan besar bagi penanganan kebakaran. Keterangan sumber secara khusus menyoroti kendala tersebut sebagai persoalan utama, terutama ketika karhutla terjadi di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang. Dalam kasus Gunung Lokon, besarnya area yang diperkirakan terbakar dan karakter kawasan pegunungan menjadi konteks penting untuk memahami kompleksitas kejadian.
Baca juga: Ciptakan Wilayah Aman, Babinsa Pererat Komsos dengan Warga | Cegah Karhutla, Mabes TNI Gandeng Tokoh Masyarakat Palaran | Cegah Karhutla, Mabes TNI Gandeng Tokoh Masyarakat Palaran






