Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 5.449,09 pada pukul 10.24 WIB, naik 61,18 poin atau 1,14% dibandingkan posisi sebelumnya. Pergerakan tersebut menunjukkan indeks telah berbalik menguat setelah sempat bergerak di zona negatif pada awal perdagangan. Penguatan yang tercatat menjelang pertengahan sesi pagi itu membawa IHSG mendekati level tertinggi hariannya, sekaligus memperlihatkan perubahan arah yang cukup tajam sejak pembukaan.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 5.397,34. Tak lama setelah pembukaan, indeks sempat menguat 0,18%. Namun, kenaikan awal tersebut tidak bertahan secara konsisten. IHSG kemudian bergerak turun dan mencapai posisi terendah di 5.366,29, atau melemah 0,40%. Rentang pergerakan ini menggambarkan dinamika perdagangan yang berubah-ubah dalam beberapa jam pertama, sebelum indeks kembali bergerak naik.
Setelah menyentuh titik terendah, IHSG berbalik menguat dan melanjutkan kenaikan hingga mencapai level tertinggi 5.451,54. Posisi puncak tersebut setara dengan penguatan 1,18%. Pada pukul 10.24 WIB, indeks berada sedikit di bawah level tertinggi tersebut, tetapi masih membukukan kenaikan 1,14% secara keseluruhan. Dengan demikian, arah pergerakan IHSG pada sesi pagi bergeser dari pelemahan menjadi penguatan setelah sempat mengalami tekanan pada awal perdagangan.
Penguatan itu berlanjut pada sesi pertama hari tersebut. Perubahan posisi dari level terendah ke kisaran 5.449 menunjukkan bahwa indeks bergerak naik kembali dalam rentang perdagangan pagi. Meski angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai arah dan besarnya pergerakan, data yang tersedia tidak menjelaskan faktor yang mendorong perubahan tersebut. Karena itu, pergerakan IHSG dapat dicermati melalui level pembukaan, titik terendah, titik tertinggi, serta posisi indeks pada waktu pengamatan, tanpa mengaitkannya dengan sentimen tertentu yang tidak disebutkan.
Perdagangan saham pada sesi pagi berlangsung dengan aktivitas yang cukup ramai. Hingga pukul 10.23 WIB, volume transaksi tercatat mencapai 161,48 juta lot, sementara nilai transaksi berada di kisaran Rp5,08 triliun. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai intensitas transaksi sejak awal perdagangan, ketika pelaku pasar merespons pergerakan indeks dan mencermati berbagai perkembangan yang dapat memengaruhi sentimen.
Pada perdagangan Jumat, perhatian investor tidak hanya tertuju pada pergerakan harga saham, tetapi juga pada sejumlah kondisi domestik. Pelaku pasar mencermati kebijakan pemerintah, perkembangan industri perbankan, serta likuiditas perekonomian. Ketiga aspek itu menjadi bagian dari pertimbangan dalam membaca arah pasar, karena perkembangan di tingkat domestik dapat memengaruhi pandangan terhadap kondisi usaha dan aktivitas ekonomi.
Kebijakan pemerintah menjadi salah satu hal yang dipantau, terutama seiring perhatian terhadap pengelolaan sumber daya alam. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pengelolaan sumber daya alam turut menjadi perhatian investor. Pelaku pasar mencermati pernyataan tersebut sebagai perkembangan kebijakan yang relevan bagi prospek ekonomi, tanpa mengabaikan faktor lain yang turut membentuk sentimen pada hari perdagangan.
Selain itu, investor juga mengikuti rencana perampingan badan usaha milik negara (BUMN). Rencana tersebut masuk dalam daftar isu domestik yang dipantau pasar, bersamaan dengan kondisi industri perbankan dan likuiditas perekonomian. Perhatian pada rencana pemerintah ini mencerminkan pentingnya arah kebijakan serta perubahan yang mungkin berkaitan dengan pengelolaan perusahaan negara bagi pelaku pasar.
Dengan demikian, aktivitas transaksi hingga pukul 10.23 WIB berlangsung di tengah pemantauan beragam sentimen domestik. Volume sebesar 161,48 juta lot dan nilai transaksi Rp5,08 triliun menunjukkan bahwa perdagangan telah berjalan dengan nilai transaksi yang terukur pada sesi pagi. Investor tetap mencermati perkembangan kebijakan pemerintah, industri perbankan, dan likuiditas, termasuk pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang pengelolaan sumber daya alam serta rencana perampingan BUMN, sebagai konteks dalam mengikuti pergerakan pasar pada Jumat.
Perhatian investor juga tertuju pada sektor perbankan, setelah pertumbuhan kredit mencapai tingkat tertinggi dalam satu dekade. Perkembangan ini memberi sinyal bahwa aktivitas pembiayaan tetap kuat dan menjadi salah satu petunjuk penting untuk menilai daya tahan ekonomi. Namun, pasar tidak hanya melihat capaian saat ini. Pelaku pasar akan mencermati apakah permintaan kredit dapat dipertahankan, bagaimana kualitas penyaluran pembiayaan berkembang, serta sejauh mana pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi kinerja bank yang berkelanjutan. Menjelang akhir tahun, perkiraan peningkatan penyaluran kredit baru turut menjadi perhatian. Jika terealisasi, tambahan kredit dapat mendukung aktivitas usaha dan konsumsi, sekaligus memperkuat prospek pendapatan perbankan.
Selain dinamika kredit, investor juga menilai upaya pemerintah untuk memperluas akses masyarakat terhadap rekening bank. Program tersebut diharapkan mendorong inklusi keuangan dengan membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk menyimpan dana dan menggunakan layanan perbankan. Perluasan akses rekening berpotensi mendukung penghimpunan dana sekaligus mempermudah masyarakat bertransaksi. Dampak program terhadap aktivitas ekonomi dan layanan keuangan akan menjadi perhatian, termasuk sejauh mana akses baru tersebut dapat digunakan secara aktif. Di sisi lain, pasar menantikan rilis data uang beredar September 2026 dari Bank Indonesia. Data ini penting untuk membaca kondisi likuiditas perekonomian. Pertumbuhannya telah melambat selama dua bulan berturut-turut, sehingga investor akan melihat apakah perlambatan berlanjut atau mulai berubah pada September.
Perhatian pasar juga mengarah pada perubahan metode penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bursa Efek Indonesia menetapkan bahwa mulai 2 November 2026, saham yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) tidak lagi diperhitungkan dalam indeks. Menurut keterangan BEI, kebijakan ini ditujukan agar IHSG lebih mencerminkan dinamika pasar. Sebelumnya, saham yang dikecualikan dari penghitungan hanya saham di papan akselerasi. Perubahan tersebut membuat cakupan pengecualian bertambah dan menjadi faktor yang perlu diperhatikan ketika pelaku pasar menilai pergerakan indeks. Investor dapat mencermati penerapan aturan baru serta pengaruhnya terhadap komposisi IHSG. Bersama perkembangan kredit, likuiditas, dan inklusi keuangan, penyesuaian metodologi ini melengkapi rangkaian sentimen yang membentuk perhatian pasar pada perdagangan.
Pelemahan tajam di Wall Street menjadi salah satu sentimen global yang dicermati pelaku pasar pada sesi perdagangan pagi. Pergerakan bursa saham Amerika Serikat dapat memberi gambaran mengenai perubahan selera risiko investor internasional, terutama ketika tekanan jual meningkat. Kondisi tersebut turut menjadi bagian dari konteks yang dipantau investor di berbagai pasar, termasuk Indonesia, saat menilai arah perdagangan dan mengelola eksposur terhadap aset berisiko. Namun, pergerakan pasar domestik juga dipengaruhi faktor lain, sehingga dinamika di Amerika Serikat tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya acuan.
Selain perkembangan bursa Amerika, data inflasi Jepang yang diumumkan pada Jumat pagi menambah perhatian terhadap perkembangan ekonomi global. Inflasi tahunan Jepang pada September 2026 naik menjadi 2,1%, dibandingkan 1,9% yang tercatat selama dua bulan sebelumnya. Angka terbaru tersebut merupakan tingkat tertinggi sejak Desember 2025. Data ini memberikan gambaran bahwa tekanan harga kembali meningkat, setelah laju inflasi bertahan pada tingkat yang lebih rendah dalam periode sebelumnya. Perkembangan harga di Jepang juga relevan untuk dicermati karena dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membaca arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi kawasan.
Inflasi inti Jepang, yang tidak memasukkan harga pangan segar tetapi tetap mencakup energi, turut mencapai 2,1% secara tahunan. Capaian itu meningkat dari 1,7% pada Agustus dan menjadi yang tertinggi dalam sembilan bulan. Meski menunjukkan kenaikan, angka inflasi inti tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.
Baca juga: Timnas Indonesia Semakin Menguat Menyongsong FIFA ASEAN Cup 2026






