Jakarta | Di usia 24 tahun, Suci masih berusaha mendapatkan pekerjaan setelah menganggur selama enam tahun. Perempuan asal Jakarta Barat itu belum memperoleh pekerjaan sejak lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK) pada 2020. Waktu yang cukup panjang tersebut menjadi bagian dari perjalanan pencarian kerja yang tidak mudah baginya. Meski demikian, Suci tetap berupaya mencari peluang dan tidak berhenti mengajukan lamaran. Kali ini, ia datang ke bursa kerja yang diselenggarakan di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, dengan harapan dapat menemukan kesempatan untuk mulai bekerja.
Kehadiran Suci di bursa kerja menjadi salah satu cara untuk menjangkau perusahaan yang membuka lowongan. Di tengah persaingan dan sulitnya memperoleh pekerjaan, kegiatan seperti ini mempertemukan pencari kerja dengan beragam peluang dalam satu tempat. Suci datang untuk melamar dan bersedia mendaftar pada pekerjaan apa pun yang tersedia. Sikap tersebut menunjukkan bahwa baginya, kesempatan untuk bekerja menjadi hal utama. Ia tidak membatasi pencarian pada satu jenis posisi, selama ada peluang yang dapat dicoba dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Setelah enam tahun menanti sejak menyelesaikan pendidikan, Suci berharap kunjungannya ke Gedung SMESCO dapat membawanya lebih dekat pada pekerjaan. Ia ingin memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan memulai langkah di dunia kerja. Bagi pencari kerja yang telah lama menganggur, setiap lowongan yang dapat dilamar bisa menjadi harapan untuk mengubah keadaan. Karena itu, Suci tetap mendatangi bursa kerja dan mencoba mendaftarkan diri, meskipun hasilnya belum dapat dipastikan. Usahanya mencerminkan ketekunan dalam menghadapi proses pencarian kerja yang panjang. Ia berharap ada perusahaan yang memberi kesempatan, sehingga penantian sejak lulus SMK dapat berujung pada pekerjaan dan awal baru dalam hidupnya.
Upaya Suci mencari pekerjaan tidak selalu membawanya lebih dekat pada kesempatan kerja. Dalam perjalanannya, ia pernah mengalami penipuan yang berkaitan dengan lowongan kerja di dua lokasi berbeda. Pengalaman itu menimbulkan kerugian uang, sekaligus menjadi bagian berat dari masa panjang yang ia jalani saat berusaha memperoleh pekerjaan. Di Jakarta Timur, Suci mengaku membayar Rp2,5 juta setelah berhadapan dengan tawaran kerja yang ternyata menipunya. Jumlah tersebut menjadi kerugian pertama yang ia ceritakan dari pengalaman mencari kerja. Tidak ada rincian lain mengenai proses pembayaran atau pihak yang terlibat, sehingga kisahnya dapat dipahami melalui kerugian yang ia alami dan keteguhan untuk terus berusaha.
Pengalaman berikutnya terjadi di Cengkareng. Di lokasi itu, Suci kehilangan Rp1,8 juta akibat penipuan lowongan kerja. Kerugian di dua tempat tersebut menunjukkan bahwa pencarian pekerjaan yang sulit dapat menghadirkan risiko tambahan bagi pencari kerja. Bagi Suci, uang yang hilang bukan hal kecil, terutama ketika ia masih berupaya mendapatkan pekerjaan setelah bertahun-tahun menanti. Namun, tidak ada keterangan bahwa pengalaman di Jakarta Timur dan Cengkareng membuatnya berhenti mencari peluang. Sebaliknya, kisah yang disampaikan menegaskan bahwa ia tetap memiliki keinginan untuk bekerja meski pernah menghadapi pengalaman merugikan.
Dua kejadian itu menambah tantangan dalam perjalanan Suci, tetapi tidak memadamkan harapannya untuk memperoleh pekerjaan. Ia tetap berusaha, meskipun pernah kehilangan total Rp4,3 juta dari dua pengalaman tersebut. Ketekunan itu menjadi gambaran penting dari perjuangannya: kegagalan dan kerugian tidak serta-merta menghapus keinginan untuk mencari nafkah melalui pekerjaan. Cerita Suci juga mengingatkan bahwa pencari kerja dapat berada dalam posisi rentan ketika berhadapan dengan tawaran yang berujung pada kerugian. Tanpa menambahkan dugaan mengenai pelaku ataupun rincian yang tidak tersedia, pengalaman ini memperlihatkan beban nyata yang ia tanggung. Setelah enam tahun menanti, Suci tetap berusaha melanjutkan pencarian kerja.
Selama menanti kesempatan kerja, Suci berupaya menggunakan waktu untuk membangun keterampilan dan menambah pengalaman. Ia mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja. Pelatihan tersebut memberinya kesempatan mempelajari hal-hal yang dapat mendukung proses melamar, sekaligus memperkuat pemahaman praktis yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Bagi Suci, mengikuti pelatihan merupakan salah satu langkah nyata agar dirinya tetap berkembang meski pekerjaan belum juga diperoleh.
Upaya mencari pekerjaan juga dilakukan secara langsung. Saat menghadiri job fair, Suci memasukkan lamaran ke sejumlah perusahaan ritel yang membuka stan. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menjangkau beberapa calon pemberi kerja dalam satu acara, sambil berharap pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan posisi yang tersedia. Selain mengikuti bursa kerja, Suci mencari peluang secara mandiri melalui platform pencarian kerja Jobstreet dan Glints. Ia menelusuri lowongan yang tersedia dan mengajukan lamaran, sehingga pencarian tidak hanya bergantung pada satu jalur.
Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa Suci terus berusaha memperluas kesempatan, meskipun telah enam tahun menanti pekerjaan. Pelatihan di PPKD, lamaran yang disampaikan di job fair, serta pencarian melalui situs daring menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk memperoleh pekerjaan. Ia berharap pihak sumber daya manusia (HR) di perusahaan dapat mempertimbangkan pengalaman dan keterampilan yang telah ia peroleh, termasuk melalui pelatihan. Harapan itu penting baginya karena proses seleksi tidak hanya menjadi kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga ruang bagi calon pekerja untuk menunjukkan kemampuan. Suci tetap membuka diri terhadap peluang yang sesuai dan berusaha agar bekal yang telah dibangun dapat menjadi pertimbangan saat perusahaan menilai lamarannya.
Ketidakpastian setelah mengirim lamaran menjadi salah satu hal yang harus dihadapi Suci selama mencari pekerjaan. Ia mengaku telah mendaftar ke beberapa perusahaan, tetapi belum juga menerima panggilan atau kabar lanjutan. Situasi tersebut membuatnya bertanya-tanya, terutama karena upaya melamar sudah dilakukan berulang kali. Tanpa informasi mengenai perkembangan lamaran, ia tidak mengetahui apakah berkasnya masih dipertimbangkan, tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan, atau proses perekrutan telah selesai. Menunggu tanpa kepastian juga menyulitkan pelamar untuk memahami langkah berikutnya, sementara harapan untuk memperoleh pekerjaan tetap ada.
Pengalaman serupa dirasakan Suci setelah menjalani wawancara. Ia telah mengikuti wawancara di beberapa perusahaan, namun belum menerima kabar dari pihak HR setelahnya. Suci mengaku heran karena proses seleksi sudah sampai tahap percakapan langsung, tetapi tidak berujung pada panggilan kerja maupun pemberitahuan mengenai hasilnya. Bagi pelamar, keheningan setelah wawancara dapat menimbulkan banyak pertanyaan. Mereka tidak tahu apakah masih perlu menunggu, apakah keputusan sudah dibuat, atau apakah kesempatan tersebut sudah tertutup. Suci pun belum memperoleh jawaban yang dapat menjelaskan keadaan itu. Meski demikian, ia tetap berusaha mencari peluang kerja lainnya.
Suci berharap perusahaan dapat memberikan kabar kepada pelamar, termasuk ketika mereka tidak terpilih. Menurut harapannya, pemberitahuan sederhana akan membuat pencari kerja mengetahui hasil proses yang telah diikuti, alih-alih dibiarkan menunggu tanpa kepastian. Ia memohon agar perusahaan tidak membiarkan pelamar tanpa kabar setelah menerima lamaran ataupun mengadakan wawancara. Harapan tersebut muncul di tengah usahanya yang belum membuahkan pekerjaan. Suci ingin segera bekerja dan menyatakan bahwa ia tidak mempermasalahkan apabila upah yang diterima kecil. Baginya, kesempatan untuk mulai bekerja tetap penting, sementara ia terus menanti peluang yang dapat membawanya memperoleh pekerjaan.
Baca juga: Transformasi Pandangan terhadap Pekerjaan Perawatan | Revit Sekolah Nganjuk Jadi Tanda Tanya Besar, Dugaan Pekerjaan Tak Sesuai hingga Potongan Disorot






