Cabai Picu Perhatian Inflasi, Harga Ayam dan Telur Mulai Turun

Cabai Picu Perhatian Inflasi, Harga Ayam dan Telur Mulai Turun

Jakarta | Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), pemerintah kembali menaruh perhatian pada perkembangan harga pangan. Permintaan sejumlah komoditas biasanya meningkat ketika masyarakat mempersiapkan kebutuhan hari raya dan perjalanan, sehingga perubahan pasokan maupun distribusi dapat memengaruhi harga di pasar. Pemerintah memantau kondisi tersebut agar kebutuhan pokok tetap tersedia dan tekanan harga dapat diantisipasi sejak dini. Perhatian ini juga mencakup komoditas yang kerap mengalami perubahan harga, terutama bahan pangan segar yang pasokannya dipengaruhi musim, cuaca, serta kelancaran distribusi antarwilayah.

Kementerian Dalam Negeri mencatat inflasi tahunan pada September 2026 sebesar 3,28 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi pemerintah, yakni 1,5–3,5 persen. Meski demikian, capaian yang masuk rentang sasaran tidak berarti pengendalian harga dapat dilonggarkan. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap perkembangan harga dan ketersediaan barang, terutama menjelang periode ketika kebutuhan rumah tangga berpotensi meningkat. Data inflasi menjadi salah satu rujukan untuk melihat tekanan harga secara umum, tetapi kondisi setiap komoditas dan daerah juga perlu diperhatikan agar respons pemerintah sesuai dengan masalah yang terjadi.

Kemendagri juga mencermati kenaikan inflasi bulanan yang berada di sekitar 0,3 persen. Perubahan bulanan ini perlu ditelaah karena kelompok makanan dan minuman menjadi salah satu penyumbang utama terhadap inflasi. Kenaikan harga pada komoditas tertentu dapat terasa langsung bagi konsumen, meskipun inflasi tahunan masih berada dalam rentang sasaran. Karena itu, pemerintah daerah didorong menjaga kelancaran pasokan, memantau harga di pasar, serta berkoordinasi dengan pihak terkait jika muncul lonjakan. Pemantauan berkala dapat membantu membedakan tekanan yang bersifat sementara dari persoalan pasokan yang lebih berkelanjutan. Dalam menghadapi Nataru, perhatian terhadap harga pangan menjadi bagian penting dari upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan pokok tersedia dengan harga yang wajar. Dengan membaca tren bulanan dan tahunan secara bersamaan, pemerintah dapat menentukan langkah pengendalian secara lebih terarah dan merespons gejolak sebelum dampaknya meluas.Menurut Tito, tekanan harga pada kelompok makanan dan minuman terutama dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah. Pergerakan harga kedua komoditas tersebut menjadi perhatian karena pasokannya berkurang di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah daerah produksi. Dengan demikian, sumber tekanan yang disorot bukanlah komoditas pangan pokok secara umum, melainkan cabai yang pasokannya rentan terhadap perubahan cuaca dan kondisi produksi di wilayah sentra.

Penjelasan itu disampaikan Tito dalam rapat koordinasi keamanan pangan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin, 26 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, ia menyoroti hubungan berkurangnya hasil panen dan kenaikan harga di tingkat pasar. Ketika kekeringan mengganggu produksi, jumlah cabai yang dapat dipasok ke berbagai daerah ikut menurun. Kondisi itu dapat membuat harga lebih mudah bergejolak, terutama apabila pasokan dari sentra produksi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Upaya memperluas penanaman cabai di berbagai daerah disebut dapat ditempuh untuk memperkuat ketersediaan pasokan. Penanaman tidak hanya perlu bertumpu pada wilayah produksi utama, tetapi juga dapat dikembangkan di desa, kelurahan, dan kawasan perkotaan melalui program yang mendorong masyarakat serta pemerintah daerah menanam cabai. Penyebaran lokasi tanam berpotensi membantu menambah sumber pasokan dan mengurangi ketergantungan pada sejumlah sentra yang terdampak kekeringan.

Langkah tersebut juga dapat mendukung kesiapan daerah dalam menghadapi perubahan kondisi produksi. Dengan memperluas budidaya sesuai ketersediaan lahan dan kemampuan setempat, pasokan cabai diharapkan lebih tersebar dan tidak sepenuhnya bergantung pada hasil panen dari wilayah tertentu. Namun, upaya penanaman tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kalender tanam, serta kondisi cuaca agar hasilnya dapat membantu menjaga ketersediaan di pasar. Perhatian terhadap cabai, menurut paparan Tito, menjadi bagian penting dalam merespons tekanan harga pangan yang bersumber dari gangguan pasokan akibat kekeringan.Pemerintah terus memantau perkembangan harga daging ayam ras dan telur ayam ras setelah kedua komoditas tersebut sempat mengalami kenaikan. Pengawasan ini dilakukan untuk melihat pergerakan harga dari waktu ke waktu, sekaligus memahami kondisi yang terjadi di sepanjang rantai distribusi. Perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada angka yang dibayar konsumen, tetapi juga pada harga di tingkat produsen. Perbandingan di kedua tingkat tersebut dinilai penting agar penyebab perubahan harga dapat ditelaah secara lebih menyeluruh dan respons kebijakan dapat disesuaikan dengan keadaan di lapangan.

Tito menyoroti adanya anomali dalam pembentukan harga ayam dan telur. Menurutnya, harga di tingkat produsen dapat berada pada posisi rendah, sementara harga yang dihadapi konsumen tetap tinggi. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga dari produsen hingga pembeli tidak selalu berlangsung sejalan. Karena itu, pemantauan perlu mencakup tahapan distribusi, bukan hanya melihat harga pada satu titik. Informasi mengenai harga di tingkat peternak, jalur penyaluran, dan harga jual kepada masyarakat dapat membantu pemerintah membaca pola tersebut dengan lebih jelas.

Tito mengaitkan selisih harga itu dengan keberadaan perantara dalam rantai distribusi. Ia menyampaikan bahwa pihak-pihak yang berada di produsen dan konsumen dapat berkontribusi terhadap tingginya harga di tingkat konsumen. Pernyataan tersebut menjadi perhatian dalam evaluasi distribusi, tetapi tidak dengan sendirinya menetapkan bahwa pihak tertentu bersalah. Penilaian lebih lanjut memerlukan pemahaman mengenai proses penyaluran dan faktor yang memengaruhi biaya pada setiap tahap. Dengan demikian, pemerintah dapat menelusuri bagaimana harga terbentuk sebelum menentukan langkah yang tepat.

Pemantauan terhadap ayam dan telur juga penting bagi upaya menjaga keterjangkauan pangan. Jika harga produsen dan konsumen menunjukkan arah yang berbeda, data yang terperinci dapat membantu menjelaskan letak selisih serta perkembangan yang terjadi. Pemerintah dapat menggunakan hasil pemantauan untuk memperbarui informasi pasar dan menilai kondisi distribusi secara berkala. Perhatian terhadap kedua komoditas ini menjadi bagian dari pengawasan harga pangan, terutama setelah kenaikan sebelumnya memengaruhi belanja rumah tangga. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada perubahan harga di setiap tingkat dan hasil evaluasi pemerintah.

Sekitar dua pekan sebelum menyampaikan pernyataannya, Tito menyebut pemerintah telah membahas persoalan harga ayam dan telur bersama Menteri Pertanian. Pembahasan tersebut berfokus pada tingginya harga yang dibayar konsumen. Dalam pertemuan itu, Menteri Pertanian meminta agar pihak-pihak yang diduga berkontribusi terhadap tingginya harga di tingkat konsumen ditertibkan. Permintaan tersebut menjadi bagian dari pembicaraan pemerintah mengenai penanganan harga kedua komoditas pangan itu.

Rencana penertiban yang dibahas tidak hanya menyangkut penyampaian perhatian terhadap harga, tetapi juga melibatkan Kabareskrim. Tito menyampaikan bahwa langkah tersebut telah mendapat persetujuan Kapolri. Dengan demikian, keterangan mengenai rencana itu mencakup permintaan Menteri Pertanian, pelibatan Kabareskrim, dan persetujuan dari Kapolri. Hal-hal tersebut disampaikan sebagai rangkaian pembahasan pemerintah, bukan sebagai keterangan bahwa penertiban telah dilaksanakan.

Penting untuk membedakan rencana penertiban dan pelaksanaan tindakan. Informasi yang disampaikan Tito menjelaskan bahwa pemerintah membicarakan langkah terhadap pihak-pihak yang diduga berkontribusi pada harga tinggi, serta bahwa rencana itu memperoleh persetujuan Kapolri. Keterangan tersebut tidak merinci identitas pihak yang dimaksud ataupun bentuk tindakan yang akan dilakukan. Karena itu, penjelasan mengenai pembahasan ini tetap terbatas pada pihak-pihak yang disebut dan urutan waktu yang disampaikan.

Tito kemudian menyatakan bahwa harga ayam dan telur mulai turun setelah pemerintah menyampaikan rencana penertiban.

Baca juga: Inovasi Pemantauan Harga untuk Kendalikan Inflasi | Mengenal Abe Hoed: Profil Anak Melly Goeslaw yang Menarik Perhatian Publik | Temuan Mewah di Lapas Cibinong Menarik Perhatian Publik