Bank Raya Catat Laba Rp21 Miliar, Penyaluran Kredit Digital Tumbuh 20%

Bank Raya Catat Laba Rp21 Miliar, Penyaluran Kredit Digital Tumbuh 20%

Jakarta | PT Bank Raya Indonesia Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp21 miliar pada kuartal III/2026. Capaian ini menjadi gambaran kinerja bank digital yang merupakan anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI, di tengah upayanya memperluas layanan dan pembiayaan berbasis digital. Pada periode yang sama, penyaluran kredit digital Bank Raya mencapai Rp24,73 triliun, meningkat 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka penyaluran kredit digital tersebut perlu dibedakan dari outstanding atau baki debet kredit digital. Penyaluran menunjukkan total kredit yang telah disalurkan dalam periode pelaporan, sedangkan outstanding menggambarkan nilai pinjaman yang masih tercatat dan belum dilunasi pada suatu waktu. Hingga kuartal III/2026, outstanding kredit digital Bank Raya mencapai Rp3,04 triliun, tumbuh 11,3% secara tahunan. Dengan demikian, nilai penyaluran yang lebih besar tidak berarti jumlah pinjaman yang masih berjalan berada pada angka yang sama.

Pertumbuhan penyaluran sebesar 20% menandakan aktivitas pemberian kredit melalui kanal digital terus berkembang. Sementara itu, kenaikan outstanding menunjukkan nilai pembiayaan yang masih dimiliki nasabah juga bertambah dibandingkan tahun lalu. Kedua indikator tersebut memberikan sudut pandang berbeda dalam membaca bisnis kredit: penyaluran mencerminkan arus pembiayaan, sedangkan outstanding memperlihatkan posisi portofolio pada akhir periode. Karena itu, perubahan pada masing-masing angka tidak selalu bergerak dengan besaran yang serupa.

Laba bersih Rp21 miliar menjadi indikator lain untuk menilai hasil operasional bank pada kuartal tersebut. Namun, angka laba dan pertumbuhan kredit sebaiknya dibaca bersama dengan perkembangan kualitas aset, biaya operasional, serta kemampuan bank mengelola risiko pembiayaan. Pertumbuhan kredit yang berkelanjutan bergantung bukan hanya pada peningkatan volume, tetapi juga pada ketepatan penilaian kelayakan nasabah dan pemantauan pembayaran. Bagi Bank Raya, kombinasi pertumbuhan penyaluran, perkembangan outstanding, dan laba memberikan gambaran mengenai kinerja bisnis digital pada kuartal III/2026. Data ini juga menjadi konteks untuk mencermati arah ekspansi kredit pada periode berikutnya, tanpa menyamakan total penyaluran dengan saldo pinjaman yang masih aktif.

Penghimpunan dana digital Bank Raya menunjukkan perkembangan positif, seiring meningkatnya penggunaan layanan keuangan berbasis aplikasi. Digital saving tercatat sebesar Rp2,4 triliun, tumbuh 35,6% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Capaian tersebut menggambarkan bertambahnya dana yang dihimpun melalui kanal digital dan memperkuat peran layanan digital dalam kegiatan perbankan. Pertumbuhan ini juga berlangsung bersamaan dengan peningkatan aktivitas nasabah di aplikasi Raya, sehingga perkembangan pendanaan dan transaksi digital sama-sama menjadi perhatian dalam melihat kinerja bisnis digital Bank Raya.

Sepanjang periode pelaporan, jumlah transaksi melalui aplikasi Raya mencapai 4,9 juta transaksi, naik 44,7% yoy. Kenaikan tersebut menandakan aktivitas penggunaan aplikasi semakin tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Aplikasi Raya menjadi salah satu kanal yang digunakan nasabah untuk bertransaksi, sementara pertumbuhan digital saving menunjukkan fungsi kanal digital juga mencakup penghimpunan dana. Dengan demikian, perluasan pemanfaatan aplikasi tercermin pada dua sisi, yakni bertambahnya transaksi dan meningkatnya dana digital yang tercatat.

Perkembangan penghimpunan dana turut terlihat pada rasio dana murah atau CASA (current account saving account) Bank Raya. Rasio CASA tercatat 35,83%, meningkat dari 29,78% pada tahun sebelumnya. Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia menyampaikan bahwa kenaikan rasio CASA menunjukkan kontribusi digital saving yang semakin kuat dalam struktur pendanaan perusahaan. Menurutnya, kontribusi tersebut mendukung penguatan fundamental bisnis digital Bank Raya. Perubahan rasio ini memberikan konteks atas peningkatan digital saving: dana yang dihimpun melalui layanan digital semakin berperan dalam komposisi pendanaan. Bersama pertumbuhan transaksi aplikasi, angka-angka tersebut menggambarkan kemajuan penggunaan kanal digital dalam aktivitas nasabah dan pengelolaan dana. Capaian tersebut menjadi bagian dari perkembangan kinerja digital Bank Raya pada periode yang dilaporkan, sejalan dengan meningkatnya kontribusi layanan digital terhadap struktur pendanaan perusahaan.

Pada kuartal III/2026, rasio kredit bermasalah atau NPL gross Bank Raya tercatat sebesar 2,53%. Angka ini turun 203 basis poin secara tahunan dibandingkan posisi pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, indikator NPL gross pada periode pelaporan berada lebih rendah daripada setahun sebelumnya. Perubahan tersebut disampaikan dalam satuan basis poin, yang menunjukkan selisih rasio dalam skala persentase. Posisi 2,53% merujuk pada NPL gross, sehingga perlu dibedakan dari rasio NPL net yang dicatat secara terpisah. Kedua indikator tersebut menggambarkan angka kualitas aset pada kuartal III/2026 dalam ukuran yang berbeda.

Untuk NPL net, Bank Raya mencatat rasio sebesar 0,41% pada kuartal III/2026. Rasio ini turun 131 basis poin secara tahunan. Perbandingan tahunan tersebut menunjukkan posisi NPL net pada periode laporan lebih rendah daripada periode yang sama setahun sebelumnya. Nilai NPL net sebesar 0,41% merupakan angka tersendiri dan tidak sama dengan NPL gross sebesar 2,53%. Keduanya menjadi indikator kualitas aset yang dilaporkan untuk kuartal ini, dengan besaran perubahan tahunan masing-masing 203 basis poin untuk NPL gross dan 131 basis poin untuk NPL net. Angka-angka tersebut mencakup rasio akhir periode serta perubahan dibandingkan secara tahunan.

Selain indikator kualitas aset, net interest margin atau NIM Bank Raya pada kuartal III/2026 tercatat sebesar 5,83%. Rasio margin bunga bersih tersebut meningkat 83 basis poin secara tahunan. Artinya, angka NIM yang dilaporkan untuk kuartal III/2026 lebih tinggi dibandingkan dengan posisi pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. NIM disajikan sebagai indikator yang terpisah dari NPL gross dan NPL net, dengan satuan persentase serta perubahan tahunan dalam basis poin. Secara keseluruhan, data kuartal III/2026 mencatat NPL gross 2,53%, NPL net 0,41%, dan NIM 5,83%, beserta perubahan tahunan masing-masing sebagaimana dilaporkan.

Di samping kinerja laba dan penyaluran kredit digital, indikator likuiditas serta permodalan menjadi bagian dari informasi kinerja Bank Raya. Pada periode pelaporan yang dibahas, bank mencatat loan to deposit ratio (LDR) sebesar 78,65%. Rasio ini menggambarkan perbandingan kredit yang disalurkan terhadap dana pihak ketiga yang dihimpun. Angka tersebut disampaikan sebagai salah satu indikator terkait penyaluran kredit dan pendanaan bank, tanpa mengubah rincian kinerja lain yang telah dilaporkan.

Bank Raya juga mencatat liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 707,4%. LCR merupakan indikator likuiditas yang mengukur kecukupan aset likuid berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan arus kas bersih selama periode tekanan jangka pendek. Selain itu, net stable funding ratio (NSFR) tercatat sebesar 167,59%. NSFR berkaitan dengan ketersediaan pendanaan stabil dibandingkan kebutuhan pendanaan stabil dalam jangka waktu yang lebih panjang. Kedua rasio tersebut dilaporkan berada di atas ketentuan minimum 100%.

Ketentuan minimum 100% menjadi ambang yang digunakan dalam penyajian LCR dan NSFR. Dengan demikian, data yang dilaporkan mencakup nilai masing-masing rasio sekaligus pembanding terhadap batas minimum yang berlaku. LDR, LCR, dan NSFR mengukur aspek yang berbeda, sehingga angka-angka tersebut perlu dibaca sesuai fungsi setiap indikator. Informasi ini melengkapi paparan mengenai hasil usaha dan pertumbuhan kredit digital Bank Raya pada periode tersebut.

Dari sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) Bank Raya tercatat sebesar 42,35%. CAR menunjukkan rasio modal terhadap aset tertimbang menurut risiko dan disajikan sebagai indikator kecukupan modal.

Baca juga: Tantangan Kepercayaan dalam Investasi Aset Digital | Update Penyaluran Bantuan Sosial KAJ September 2026 | Inisiatif Transformasi Digital Telkom: Mempercepat Efisiensi Melalui Scale