Api di Gunung Ciremai Belum Padam pada Hari Keempat, Pemadaman Udara dan Darat Berlanjut

Api di Gunung Ciremai Belum Padam pada Hari Keempat, Pemadaman Udara dan Darat Berlanjut

Medan | Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat, belum berhasil dipadamkan hingga hari keempat, Sabtu (24/10/2026). Api masih terlihat di sejumlah titik, disertai asap pekat yang membubung dari area terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan masih berlangsung dan belum seluruh sumber api dapat dikendalikan. Sebaran kobaran yang muncul di beberapa lokasi juga membuat situasi di kawasan gunung tersebut terus dipantau oleh petugas.

Berdasarkan data awal Taman Nasional Gunung Ciremai, api diperkirakan masih meluas dan tersebar. Meski demikian, luasan keseluruhan area yang terbakar belum dapat dipastikan. Perkiraan awal itu menggambarkan bahwa titik-titik kebakaran tidak berada pada satu lokasi saja, sehingga pemantauan dan penanganan perlu dilakukan di beberapa bagian kawasan. Angka luas kebakaran belum tersedia sebagai data final, dan kondisi di lapangan masih dapat berubah seiring proses pemadaman serta pendataan lanjutan.

Api dan asap yang masih tampak menjadi penanda bahwa kebakaran belum sepenuhnya padam pada hari keempat. Selama titik api masih ditemukan, petugas perlu memastikan lokasi yang terdampak dan mengikuti perkembangannya. Data sementara dari pengelola taman nasional menjadi gambaran awal untuk memahami persebaran kebakaran, tetapi belum cukup untuk menetapkan total area yang hangus. Kepastian mengenai luas lahan terbakar baru dapat diperoleh setelah kondisi memungkinkan dan pendataan selesai. Untuk sementara, kebakaran Gunung Ciremai masih berlangsung di sejumlah titik, dengan kobaran yang diperkirakan menyebar dan kepulan asap pekat masih terlihat. Karena itu, perkembangan situasi tetap perlu dicermati, terutama terkait perubahan sebaran api dan hasil pengukuran luasan terdampak. Informasi awal tersebut menegaskan bahwa pemadaman belum tuntas, sementara ukuran pasti dampak kebakaran belum diketahui.

Upaya pemadaman kebakaran di Gunung Ciremai terus dilakukan melalui jalur udara dan darat pada hari keempat. Kedua cara tersebut dijalankan secara bersamaan untuk menjangkau titik api yang tersebar di kawasan gunung. Dari udara, helikopter digunakan untuk melakukan pemadaman dengan metode water bombing, yakni menjatuhkan air ke area yang terbakar. Langkah ini membantu menjangkau lokasi yang sulit didatangi petugas melalui jalur darat dan memberi dukungan terhadap penanganan di lapangan.

Penggunaan helikopter menjadi bagian penting dalam upaya menekan kobaran api, terutama ketika titik kebakaran berada di area yang aksesnya terbatas. Air dijatuhkan dari udara pada lokasi yang dituju, sementara perkembangan kondisi di lapangan menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pemadaman. Metode tersebut tidak menggantikan upaya manual, melainkan melengkapinya. Dengan penanganan dari dua jalur, petugas dapat berupaya menjangkau area yang lebih luas dan menyesuaikan tindakan dengan kondisi kebakaran.

Di darat, ribuan petugas gabungan bersama relawan berusaha memadamkan api secara manual. Mereka bekerja di kawasan terdampak untuk menangani titik-titik yang dapat dijangkau langsung, sekaligus mendukung upaya pemadaman dari udara. Penanganan kebakaran di wilayah gunung membutuhkan pengerahan personel dan koordinasi yang berkelanjutan, mengingat kondisi medan dapat membuat akses menuju lokasi tidak mudah. Kehadiran relawan turut memperkuat upaya di lapangan, sementara petugas gabungan terus berusaha mengendalikan api yang belum padam.

Pemadaman melalui udara dan darat yang berlangsung bersamaan menunjukkan bahwa penanganan dilakukan dengan beberapa pendekatan. Helikopter mengirimkan air ke titik kebakaran, sedangkan petugas dan relawan melakukan upaya langsung dari permukaan tanah. Upaya tersebut terus berlanjut seiring masih adanya api pada hari keempat. Perkembangan situasi menjadi dasar bagi pelaksanaan langkah berikutnya, dengan tujuan menekan penyebaran kebakaran dan memadamkan titik api yang tersisa di kawasan Gunung Ciremai.

Upaya pemadaman api di Gunung Ciremai menghadapi kendala medan yang tidak mudah dilalui. Sejumlah bagian kawasan memiliki permukaan berbatu dan kondisi terjal, sehingga petugas kesulitan mencapai beberapa titik api. Keadaan tersebut membuat akses menuju lokasi kebakaran terbatas dan menyulitkan petugas untuk mendekati seluruh bagian yang perlu ditangani. Dengan demikian, pemadaman di lapangan harus dilakukan di tengah kondisi alam yang menghambat jangkauan petugas ke titik-titik tertentu.

Medan berbatu menjadi salah satu faktor yang disebut menghambat proses penanganan. Permukaan yang tidak rata menyulitkan perjalanan petugas menuju lokasi api, sementara kontur yang terjal menambah tantangan untuk mencapai area tertentu. Karena itu, tidak semua titik api dapat dijangkau dengan mudah melalui jalur darat. Kondisi ini berlangsung bersamaan dengan upaya pemadaman yang masih dilakukan, sehingga petugas harus menghadapi hambatan akses di sejumlah lokasi. Kesulitan menjangkau titik api tersebut berkaitan dengan karakter medan, bukan karena kurangnya upaya penanganan.

Selain kondisi medan, angin kencang turut menjadi kendala yang disebut dalam sumber. Pada saat yang sama, banyaknya ilalang kering di kawasan tersebut juga menjadi faktor yang mendukung api cepat membesar dan merambat ke berbagai arah. Kombinasi angin kencang dan ilalang kering membuat pergerakan api berlangsung cepat, sementara medan terjal dan berbatu tetap menyulitkan petugas mencapai sejumlah titik. Faktor-faktor ini menjadi bagian dari kondisi yang dihadapi dalam pemadaman kebakaran Gunung Ciremai. Penanganan melalui jalur darat berlangsung di tengah akses yang sulit, sedangkan api dapat menyebar ke beragam arah karena kondisi angin dan ilalang kering yang disebutkan. Karena itu, proses pemadaman menghadapi tantangan dari akses medan sekaligus keadaan yang berkaitan dengan cepatnya api membesar dan merambat.

Pada hari keempat penanganan kebakaran di Gunung Ciremai, BPBD Kabupaten Kuningan tetap menggunakan metode penanganan yang sama seperti sebelumnya. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, menyampaikan bahwa upaya pemadaman masih dilakukan melalui pengerahan personel di lapangan dan dukungan pemadaman dari udara. Pola tersebut dipertahankan untuk menangani titik-titik api yang masih menjadi perhatian tim, seiring pemantauan terhadap perkembangan situasi di kawasan terdampak. Dengan demikian, perubahan pada jumlah petugas tidak berarti metode penanganan yang digunakan turut berubah pada hari itu.

Indra menjelaskan bahwa jumlah personel yang turun ke lapangan dikurangi dibandingkan pengerahan sebelumnya. Penyesuaian itu dilakukan agar penugasan menjadi lebih terfokus, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi titik api yang sudah berkurang. Pengurangan jumlah petugas bukan disampaikan sebagai tanda bahwa pekerjaan pemadaman telah selesai, melainkan sebagai pengaturan sumber daya berdasarkan keadaan yang diamati tim. Personel yang dikerahkan tetap diarahkan untuk mendukung penanganan di lapangan sesuai kebutuhan, sementara upaya pemadaman dan pemantauan terus berjalan.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa keputusan mengenai jumlah personel disesuaikan dengan perkembangan kondisi, bukan semata-mata mengikuti pola pengerahan hari sebelumnya. Berkurangnya titik api menjadi salah satu pertimbangan untuk mengarahkan tenaga secara lebih efektif pada lokasi yang masih memerlukan penanganan. BPBD tetap menggunakan metode yang sama dalam operasi hari keempat, sembari menyesuaikan komposisi petugas dengan situasi terkini. Selama upaya berlangsung, kondisi di kawasan Gunung Ciremai tetap menjadi dasar bagi pelaksanaan pemadaman udara dan darat, termasuk penentuan fokus pengerahan personel di lapangan.

Baca juga: Pemadaman Serentak di Jakarta untuk Hari Ozon Sedunia | Kebakaran di Kebayoran Lama: Upaya Pemadaman Intensif oleh Petugas | Pemadaman Serentak Lampu di Jakarta: Apa yang Perlu Diketahui

10 kunjungan