Jakarta | Stanley Joewono belum berhasil menyelesaikan kategori half marathon Jakarta Running Festival (JRF) 2026 dalam batas waktu yang ditetapkan. Namun, hasil itu tidak mengubah tekadnya untuk terus berlari maupun rencananya menggalang dana guna memfasilitasi skrining talasemia secara gratis. Bagi Stanley, partisipasi dalam ajang tersebut bukan semata-mata tentang mencapai garis finis, melainkan juga kesempatan membawa perhatian publik pada kondisi yang dijalaninya sebagai penyandang talasemia beta mayor.
Stanley menjelaskan bahwa tujuan awalnya mengikuti kegiatan lari adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai talasemia. Melalui keikutsertaannya, ia ingin mendorong lebih banyak orang memahami penyakit tersebut, termasuk pentingnya skrining untuk membantu mengetahui risiko talasemia. Ia juga berharap kisah dan perjuangannya dapat membuka ruang percakapan yang lebih luas tentang kebutuhan penyandang talasemia serta dukungan yang dapat diberikan kepada mereka.
Tantangan menempuh jarak half marathon menjadi bagian dari upaya nyata Stanley untuk mendukung kampanye penggalangan dana tersebut. Dana yang terkumpul direncanakan untuk memfasilitasi skrining talasemia gratis, sehingga lebih banyak orang dapat memperoleh akses pemeriksaan. Meski kali ini belum dapat menuntaskan lomba sesuai batas waktu, ia menegaskan bahwa misi itu tetap berjalan. Kegagalan finis tidak membuatnya meninggalkan rencana untuk kembali berlari dan meneruskan kampanye.
Stanley menyampaikan penjelasan tersebut saat dihubungi pada Minggu, 25 Oktober 2026. Ia memandang hasil di JRF 2026 sebagai satu bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk berhenti. Ke depan, ia tetap bertekad kembali mengikuti tantangan lari sembari mengajak masyarakat mendukung peningkatan kesadaran talasemia. Dengan demikian, setiap langkah yang ditempuhnya diharapkan turut mengarahkan perhatian pada skrining dan kebutuhan akses pemeriksaan yang lebih luas.
Perjalanan Stanley Joewono di ajang lari JRF berlangsung bertahap. Ia mulai mengikuti lomba lari pada 2024, dan sejak tahun itu selalu berpartisipasi dalam JRF setiap tahun. Dari satu edisi ke edisi berikutnya, Stanley memilih jarak yang berbeda. Perubahan kategori tersebut menunjukkan rangkaian tantangan yang ia ambil selama tiga tahun berturut-turut, mulai dari jarak pendek hingga half marathon. Dengan demikian, keikutsertaannya tidak berhenti pada satu kali pengalaman, tetapi berlanjut secara konsisten dalam ajang yang sama.
Pada JRF 2024, Stanley mengikuti kategori 5 kilometer. Setahun kemudian, ia meningkatkan jarak dengan mencoba kategori 10 kilometer. Untuk edisi 2026, pilihan Stanley kembali berubah: ia mendaftar half marathon sejauh 21,1 kilometer. Jarak ini lebih panjang daripada dua kategori yang pernah ia ikuti sebelumnya, sehingga menjadi langkah baru dalam perjalanan larinya. Peralihan dari 5 kilometer ke 10 kilometer, lalu ke half marathon, merangkum perkembangan jarak yang dipilihnya setiap tahun di JRF.
Keputusan mengikuti half marathon pada 2026 berkaitan dengan dua tujuan yang disampaikan Stanley. Ia ingin melakukan penggalangan dana sekaligus menghadapi tantangan yang lebih berat. Stanley merupakan penyandang talasemia beta mayor, dan kondisi tersebut menjadi bagian dari konteks tantangan yang ia pilih. Partisipasinya pada jarak 21,1 kilometer karena itu menandai upaya mengambil target lebih jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan Stanley mengikuti JRF bersama aktor Daffa Wardhana. Catatan partisipasinya memperlihatkan konsistensi sejak 2024, dengan pilihan kategori yang meningkat dari 5 kilometer menjadi 10 kilometer, kemudian half marathon pada 2026.
Tidak berhasil mencapai garis finis dalam batas waktu yang ditetapkan menjadi pengalaman baru bagi Stanley Joewono. Dalam berbagai ajang lari yang pernah diikutinya, ia belum pernah mengalami DNF atau did not finish. Karena itu, hasil di half marathon JRF 2026 terasa berbeda: kali ini ia harus menerima bahwa lomba tidak dapat diselesaikan sesuai ketentuan waktu. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan larinya, sekaligus memberi gambaran tentang tantangan yang harus dihadapi ketika mengikuti jarak yang cukup panjang.
Menjalani half marathon menuntut Stanley untuk mengelola tenaga dan menjaga kemampuan berlari sepanjang lomba. Tantangan itu memiliki konteks tersendiri karena ia merupakan penyandang talasemia beta mayor. Ia perlu memperhatikan kondisi tubuh sambil berusaha mempertahankan ritme dan terus bergerak di lintasan. Pada saat yang sama, mengikuti irama pelari lain juga bukan hal mudah. Kecepatan peserta di sekitarnya dapat berbeda-beda, sehingga Stanley harus mencari tempo yang sesuai dengan kemampuannya sendiri, tanpa mengabaikan upaya untuk tetap berada dalam batas waktu yang berlaku.
Stanley juga menilai posisi awalnya di corral 8 cukup berat. Ia menyebut start berlangsung hampir 25 sampai 30 menit setelah gun time, sehingga waktu yang tersedia untuk menyelesaikan lomba terasa lebih terbatas. Jeda tersebut menjadi salah satu hal yang ia rasakan selama mengikuti perlombaan, terutama ketika ia harus menyesuaikan langkah dan menjaga kondisi di sepanjang rute. Namun, pengalaman DNF ini tidak dapat disederhanakan sebagai akibat dari satu faktor saja. Tantangan fisik, pengelolaan kemampuan berlari, ritme peserta lain, dan situasi start merupakan bagian dari pengalaman yang ia hadapi. Meski belum berhasil finis, Stanley tetap menjadikan pengalaman pertamanya mengalami DNF sebagai bahan evaluasi untuk memahami kebutuhan tubuh dan persiapan sebelum kembali mengikuti lomba.
Stanley Joewono menerima bahwa dirinya belum siap menuntaskan half marathon pada JRF 2026. Ia tidak mencari pihak lain untuk disalahkan atas hasil tersebut, melainkan mengakui bahwa kondisi dan persiapannya kali ini belum cukup untuk membawanya sampai garis finis. Baginya, keputusan untuk berhenti menjadi bagian dari kenyataan yang perlu diterima, meskipun tentu tidak mudah setelah menjalani perlombaan dengan harapan dapat menyelesaikannya.
Setelah pengalaman ini, Stanley berencana memberi waktu bagi dirinya untuk menenangkan diri dan memproses kekecewaan. Ia ingin kembali berlatih secara bertahap dengan program yang lebih terarah serta persiapan yang lebih baik. Target berikutnya adalah mencoba lagi di kategori half marathon pada tahun depan. Ia memandang kegagalan finis kali ini sebagai pengingat untuk mengevaluasi kesiapan, bukan alasan untuk meninggalkan olahraga lari atau menyerah pada tujuan yang telah ditetapkan.
Stanley juga menekankan bahwa setiap peserta perlu memahami dan mematuhi aturan perlombaan, termasuk ketentuan batas waktu. Ia tidak membenarkan pelari yang tetap meneruskan lomba setelah batas waktu terlampaui. Menurutnya, panitia dan pihak JRF telah berupaya menyampaikan aturan kepada peserta, sehingga setiap pelari memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan dan mengikuti ketentuan tersebut. Sikap ini menunjukkan bahwa ia menerima keputusan perlombaan sebagai bagian dari aturan yang berlaku, bukan sebagai sesuatu yang patut diperdebatkan dengan menyalahkan penyelenggara.
Saat bib miliknya ditandai DNF, Stanley menunjukkan sikap sportif. Ia meminta maaf sambil terisak, lalu menyampaikan janji untuk kembali dan menyelesaikan lomba pada tahun depan. Momen tersebut menggambarkan beratnya menerima hasil, sekaligus tekadnya untuk mencoba lagi dengan bekal yang lebih matang. Bagi orang yang ingin mendukung kampanyenya, tautan donasi tersedia melalui akun Instagram pribadi Stanley. Ia tidak merinci jumlah dana maupun hasil penggalangan, dan fokusnya tetap pada pemulihan diri, latihan, serta persiapan menuju kesempatan berikutnya.
Baca juga: Kolaborasi Energi: Melihat Kembali IEE Series 2026 dan Rencana ke Depan | Hadiri Munas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bamsoet Apresiasi Terpilihnya Kembali Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko sebagai Ketua Umum






