TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 10 September 2026, Proyek biorefinery yang direncanakan oleh PT Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah, merupakan langkah strategis dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp19,32 triliun, proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Rencana operasi proyek ini ditargetkan untuk dimulai pada tahun 2029, setelah melalui berbagai tahapan kritis dalam perencanaan.
Proses perencanaan proyek biorefinery ini telah memasuki tahap final investment decision (FID). FID merupakan titik penting yang menandakan bahwa semua aspek teknis, finansial, dan regulasi telah dievaluasi secara mendalam dan siap untuk dilanjutkan ke tahap pelaksanaan. Dalam fase ini, PT Pertamina melakukan analisis yang mendetail mengenai potensi teknis serta kelayakan ekonomis dari investasi yang dilakukan, termasuk estimasi biaya dan waktu pembangunan.
Selain itu, tahap penjajakan kemitraan juga menjadi fokus utama dalam perencanaan proyek ini. PT Pertamina tengah mencari mitra yang sesuai untuk berkolaborasi dalam pembangunan dan pengoperasian kilang biorefinery. Kemitraan ini diharapkan dapat menghadirkan keahlian serta teknologi yang diperlukan untuk memastikan proyek berjalan efisien dan efektif. Upaya ini mencerminkan komitmen Pertamina dalam menerapkan praktik terbaik yang bertujuan untuk mencapai keberlanjutan dan inovasi dalam industri energi.
Dengan pendekatan yang terencana dan melibatkan beragam pemangku kepentingan, proyek biorefinery di Cilacap diproyeksikan mampu memberikan hasil yang produktif. Tidak hanya dalam hal peningkatan kapasitas produksi energi terbarukan, tetapi juga dalam penciptaan lapangan kerja serta pengembangan kapasitas masyarakat setempat.
Proyek Biorefinery Cilacap oleh Pertamina merupakan langkah strategis dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Dengan kehadiran proyek ini, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi yang berkelanjutan serta mendukung transisi menuju penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini dijadwalkan untuk memulai desain rekayasa pada tahun 2025, yang akan menjadi fondasi bagi pelaksanaan tahap berikutnya. Desain yang matang sangat penting untuk memastikan efisiensi dan keberlanjutan dalam seluruh proses produksi.
Setelah tahap desain rekayasa, tahap rekayasa dan konstruksi diharapkan dimulai pada tahun 2027. Proses ini akan melibatkan beberapa aspek teknik yang kompleks untuk memastikan bahwa fasilitas biorefineri dapat beroperasi sesuai dengan standar internasional dan memenuhi permintaan pasar. Dengan dua jenis produk utama yang akan dihasilkan, yaitu Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), proyek ini direncanakan dapat memproduksi 860 kiloliter SAF per hari dan 870 kiloliter HVO per hari.
Kapabilitas produksi yang direncanakan ini menunjukkan komitmen Pertamina untuk mengembangkan biofuel yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor, termasuk sektor penerbangan dan transportasi. Dengan memproduksi SAF, Pertamina tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga memberikan alternatif bahan bakar yang lebih bersih. Di sisi lain, HVO juga menjanjikan efisiensi yang tinggi dalam penggunaannya sebagai bahan bakar diesel, sehingga proyek ini menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Proyek biorefinery di Cilacap, yang merupakan inisiatif dari Pertamina, dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku berbasis nabati dan limbah. Dalam mendukung transisi energi yang berkelanjutan, proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan berbagai jenis bahan dasar yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah. Salah satu bahan baku utama yang akan digunakan adalah minyak jelantah, yang seringkali menjadi masalah limbah di rumah tangga dan industri. Dengan pemanfaatan minyak jelantah, proyek ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi dari limbah, tetapi juga mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan.
Selain minyak jelantah, biorefinery ini juga akan memanfaatkan crude palm oil (CPO) sebagai sumber bahan baku penting. CPO telah lama dikenal sebagai salah satu bahan baku yang dapat diolah menjadi berbagai produk energi terbarukan. Dalam konteks proyek ini, diperkirakan kebutuhan bahan baku mencapai 311.000 ton per tahun. Angka ini menunjukkan komitmen Pertamina terhadap pengembangan industri yang tidak hanya memfokuskan pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Dengan menciptakan produk-produk bernilai tinggi dari bahan yang sebelumnya tidak terpakai, proyek biorefinery ini diharapkan dapat menciptakan dampak positif yang luas, mulai dari peningkatan daya saing industri dalam negeri hingga pengurangan emisi karbon. Pemanfaatan limbah menjadi salah satu prinsip utama dalam upaya ini, di mana limbah dapat ditransformasikan menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan, sehingga mendukung tujuan ekonomi sirkular. Oleh karena itu, proyek ini diharapkan menjadi langkah signifikan dalam menciptakan ekosistem energi yang lebih berkelanjutan dan efisien di Indonesia.Distribusi dan Target PasarProyek biorefinery yang sedang dijalankan oleh Pertamina di Cilacap bertujuan untuk menghasilkan produk-produk yang bermanfaat bagi sektor penerbangan di Indonesia, khususnya Sustainable Aviation Fuel (SAF). Produk ini direncanakan akan didistribusikan secara langsung ke Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali, dua bandara utama yang memiliki volume penerbangan yang sangat tinggi. Dengan demikian, program ini tidak hanya mendukung kebutuhan damai energi penerbangan tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi udara.
Sustainable Aviation Fuel adalah jenis bahan bakar yang berasal dari sumber renewable, dan keberadaannya sangat vital dalam usaha pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Target pasar Proyek Biorefinery Cilacap tidak hanya terbatas pada penerbangan domestik; diharapkan SAF yang dihasilkan juga dapat memenuhi kebutuhan penerbangan internasional, terkait dengan tren global dalam penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Hal ini bersinergi dengan komitmen global untuk mengurangi emisi penerbangan yang semakin mendesak.
Selain fase pertama proyek yang fokus pada produksi SAF, terdapat juga perencanaan untuk fase kedua yang diharapkan mulai berjalan pada bulan September 2029. Fase ini berpotensi untuk memperluas kapasitas produksi dan ragam produk yang ditawarkan. Target pasar yang ditetapkan akan diperluas sejalan dengan pertumbuhan permintaan serta kebijakan dari pemerintah dan otoritas penerbangan. Pertamina berkomitmen untuk memastikan distribusi yang efisien dan tepat waktu, demi memenuhi kebutuhan pengguna dan menjaga keberlangsungan pasokan di pasar penerbangan.













